Malang (beritajatim.com) – Universitas Negeri Malang (UM) mengukuhkan empat guru besar. Rinciannya, tiga guru besar dari FMIPA (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) dan satu dari FIS (Fakultas Ilmu Sosial).
Mereka yaitu Prof. Dr. Joko Sayono, M.Pd. M.Hum dalam bidang Teknologi Pembelajaran Sejarah, Prof. Dr. Susiswa, M.Si bidang Berpikir Tingkat Tinggi, Prof. Dr. Sumari, M.Si bidang Kimia Fisika, dan dan Prof. Dr. Abdul Qohar, M.T bidang Media Pembelajaran Matematika.
Pengukuhan guru besar berlangsung di Aula GKB A19 lantai 9 UM, Kamis (22/6/2023). Dalam pidato pengukuhannya Prof Sumari menyampaikan tentang ‘Peranan Katalis Pada Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan’.
Menurut pakar kimia ini, penggunaan sumber energi konvensional seperti minyak bumi dan gas alam dapat menghasilkan emisi gas rumah kaca yang berdampak atas perubahan iklim. Sedangkan energi terbarukan seperti biodisel dan bioetanol memiliki jejak karbon yang jauh lebih rendah.
“Kami sebagai akademisi di perguruan tinggi mencoba melakukan sintesis biodiesel dan bioetanol dengan melakukan optimasi proses. Katalis atau katalisator merupakan komponen sangat penting dalam proses reaksi sintesis biodiesel dan bioetanol,” ujar Guru Besar kelahiran Jember 1965 ini.
Prof Abdul Qohar pakar media pembelajaran matematika berpidato tentang ‘Peranan media pembelajaran berbantuan teknologi informasi untuk mendukung kemampuan matematis dan pendidikan karakter’. Abdul Qohar menciptakan media berbentuk gim sederhana agar siswa dapat memahami konsep matematika yang abstrak.
Baca Juga:
24 Mahasiswa AS Ikuti Program CLS di UM Malang
“Sekarang banyak gim yang disukai anak dan banyak menyita waktu di sana. Kalau keterusan kan gak bagus juga. Gim juga kadang rawan dengan kekerasan. Makanya penelitian saya ini membuat media pembelajaran yang disukai anak-anak, jadi sembari bermain gim di handphone dia juga belajar,” kata dosen matematika FMIPA ini.
Dari gim tersebut selain kemampuan matematisnya meningkat diharapkan karakter siswa diharapkan juga bisa terbentuk. Menurut guru besar lulusan UPI Bandung ini, untuk memasifkan gimnya ada tantangan berat, karena para pembuat gim yang hanya bersifat hiburan saja adalah perusahaan besar.
“Tetapi kami akan terus usahakan untuk mengembangkan pelajaran matematika agar disukai dan membuat senang,” ujar pakar bidang media pembelajaran matematika ini.
Sementara itu, Prof. Susiswo dari departemen matematika FMIPA menyampaikan pidato pengukuhan berjudul ‘Pengintegrasian Teori Piere-Kieren untuk Mengembangkan Pembelajaran Abad 21 yang Berorientasi Keterampilan 4C’. Ia merupakan gubes UM pertama yang mendalami berpikir tingkat tinggi atau High Order Thinking Skill (Hots).
Menurut Prof Susiswo, perkembangan pemahaman matematis itu bersifat dinamis dan tidak selalu ke depan. Hal itu mengacu pada teori Piere-Kieren. Disisi lain, pembelajaran Abad 21 merupakan pembelajaran yang mengintegrasikan 4C.

“Semua keterampilan tersebut terintegrasi pada keterampilan 4C (communication, collaboration, critical thinking, dan creativity thinking) Bagaimana hubungan keduanya? Dari penelitian saya teori Pierre-Kieren dapat digunakan untuk mengembangkan keterampilan 4C,” ujar professor kelahiran Kediri ini.
Belajar matematika katanya memang harus berpikir HOTS atau berpikir nalar. Berpikir tinggi yang jadi penekanannya pada proses berpikir kreatifnya. “Dengan kreatif orang bisa maju. Kreatif itu supaya mahasiswa berpikir divergen, bukan konvergen. Berpikir meluas tidak hanya satu saja,” terang pria alumni ITB dan UM ini.
Baca Juga:
Job Fair UM Malang, 30 Perusahaan Sediakan 300 Lowongan Pekerjaan
Prof. Dr. Joko Sayono, M.Pd. M.Hum, menyampaikan pidato pengukuhan berjudul ‘Pengembangan berpikir kritis melalui praktik historiografi: strategi menciptakan pembelajaran sejarah yang menarik dan menantang,’. Prof Joko Sayono merupakan guru besar dari FIS bidang teknologi pembelajaran sejarah.
Prof Joko Sayono menjelaskan tentang 4 dari isi pidato pengukuhannya. Pertama, belum berkembanganya pembelajaran sejarah karena kuatnya cara pandang guru kepada pengertian sejarah sebagai kisah, dan belum banyak yang memandang sejarah sebagai ilmu yang memiliki kaidah ilmiah. Kedua, pengembangan berpikir kritis. Ketiga, historiografi dan praktek historiografi di sekolah. Keempat, hubungan pengembangan berpikir kritis dengan historiografi.
“Menurut saya dengan mengembangkan berpikir kritis melalui praktik historiografi, pembelajaran sejarah bisa berkembang menjadi mata pelajaran yang penuh tantangan dan inspiratif. Mendengar kata sejarah orang tidak lagi terbayang peperangan, jatuh bangunnya penguasa, atau kehancuran sebuah peradaban,” terang dosen kelahiran Blora ini.
Jika berbicara sejarah yang terbayang adalah munculnya ide-ide super manusia mengatasi dinamika kehidupan. Sejarah adalah kata yang seharusnya membuat semua orang senang. “Karena sesungguhnya pada sejarah orang-orang terdahulu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal,” kata guru besar yang menempuh pendidikan S2 di IKIP Jakarta dan UGM ini. [dan/beq]






