Pendidikan & Kesehatan

RSD dr. Soebandi Jember Kesulitan Mencari Relawan Tenaga Kesehatan

Direktur Rumah Sakit Daerah dr. Soebandi Hendro Soelistijono

Jember (beritajatim.com) – Rumah Sakit di Kabupaten Jember, Jawa Timur, kesulitan mencari tenaga relawan kesehatan untuk menangani pasien Covid-19. Jumlah tenaga kesehatan saat ini tak seimbang dengan pertambahan jumlah pasien.

Rumah Sakit Daerah dr. Soebandi adalah rumah sakit rujukan untuk wilayah Jawa Timur bagian timur. “Kami diperintahkan Pak Bupati tidak boleh menolak pasien. Kami siapkan dua tenda darurat. Satu tenda berkapasitas enam pasien, dan satunya lagi 10-11 pasien,” kata Direktur Rumah Sakit Daerah dr. Soebandi Hendro Soelistijono.

Dengan kondisi seperti ini, RSD dr. Soebandi membutuhkan 90 relawan dan sudah mendapat persetujuan dari bupati untuk merekrut relawan. “Insititusi yang sudah siap adalah institusi pendidikan untuk menugasi relawan-relawannya agar membantu dr. Soebandi,” kata Hendro.

“Tapi ternyata tidak mudah mencari relawan. Ada yang sudah daftar, (belakangan) dilarang orang tua, dilarang suami. Tidak semua orang mau. Kan ya takut juga. Saya paham,” kata Hendro.

Padahal kebutuhan relawan cukup mendesak. “Banyak juga (tenaga kesehatan) kami yang terkena (Covid). Sementara shift-nya tidak boleh lebih dari enam jam di ruangan (isolasi Covid), sehingga yang biasanya sehari tiga shift harus jadi lima shift untuk mengurangi paparan. Ini yang membuat perlu menambah jumlah (tenaga kesehatan). Di sisi lain ada teman-teman yang terkonfirmasi dan harus diistirahatkan,” kata Hendro.

Tanggal 21 Juli 2021 lalu, tercatat ada 20 orang tenaga kesehatan di dr. Soebandi yang terpapar Covid-19. “Kebanyakan perawat dan ada tiga dokter serta satu dari manajemen. Semua dirawat isolasi mandiri,” kata Hendro. Salah satu tenaga kesehatan meninggal dunia yakni Pelaksana Tugas Kepala Bagian Perencanaan dan Penyusunan Anggaran Umi Istiqomah setelah dirawat di rumah sakit.

Saat ini dari kebutuhan 90 orang relawan, tidak sampai sepertiganya yang mendaftar. “Itu pun bisa mengundurkan diri,” kata Hendro.

Saat ini seluruh tenaga kesehatan di dr. Soebandi dikerahkan untuk mendukung penuh, termasuk 110 orang dokter. Ada 12 orang dokter yang menangani pasien Covid, dan sisanya harus bersiap jika keadaan darurat atau mendesak.

“Dokter spesialis anestesi dan dokter spesialis jantung kami gerakkan semua, karena tidak mungkin mampu kalau hanya dokter spesialis paru. Dokter paru kami cuma tiga orang. Ruang perawatan kami ada 140 ruang. Kalau memang kekurangan, kami akan gerakkan dengan dokter-dokter lain,” kata Hendro.

Hendro harus memanajemen penugasan dokter dan tenaga kesehatan lainnya agar jumlah yang terpapar Covid minim. “Kami jadwalkan pelayanan (kesehatan)-nya. Kalau semua kena, dr. Soebandi bisa tutup. Ini salah satu rumah sakit rujukan di Jawa Timur. Maka itu teman-teman saya atur untuk penjadwalan polikliniknya. Sehari sekali, biar yang lainnya di rumah untuk on call,” katanya.

Sementara itu jumlah perawat yang bertugas sebanyak 200-300 orang. “Mereka terbagi dalam shift-shift,” kata Hendro. [wir/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar