Malang (beritajatim.com) – Pelatihan menulis esai diadakan dalam rangkaian acara pra festival Sastra kota Malang. Pelatihan ini diikuti oleh 15 peserta terpilih melalui seleksi esai yang dikirimkan seluruh partisipan.
Lima pertemuan diadakan di kafe pustaka Universitas Negeri Malang (UM). Satu pertemuan di Kampung Heritage Kayutangan, peserta berinteraksi langsung dengan warga sekitar Kayutangan. Pertemuan diadakan setiap akhir pekan.
Pertemuan pertama dimulai di kafe pustaka Universitas Negeri Malang (UM) pada Sabtu (12/8/2023) dengan materi pengantar penulisan esai oleh Wawan Eko Yulianto, S.S., M.A., Ph.D., Wakil Rektor III di Universitas Ma Chung dan dosen Studi Sastra Inggris. Kemudian hari Minggu (13/8/2023) peserta bersama pemateri berinteraksi langsung dengan warga Kayutangan.
Baca Juga: Wali Kota Kediri Mlaku Bareng Warga Perum Griya Intan Permai Dermo
Ketua pelaksana festival, M. Dandy menjelaskan bahwa pra festival terdiri atas, pelatihan menulis esai, diskusi buku, dan panggung apresiasi pada bulan Agustus hingga September 2023. Kemudian festival, diisi dengan kegiatan peluncuran buku, diskusi buku, sarasehan sastra, diskusi wacana, orasi budaya, jelajah sastra, lokakarya, pameran buku, dan panggung apresiasi pada Oktober mendatang.
“Kami awali dengan pra festival melalui pelatihan menulis esai bertema Membaca Malang Melalui Kajoetangan. Kami memilih kampung heritage sebagai topik karena sekarang tempat ini menjadi sentral. Kemudian dilihat dari sejarahnya, Kayutangan merupakan titik temu industri,” ungkap Dandi, sapaan akrabnya.
Menurut dia, Kayutangan dapat dipandang sebagai suatu ruang perjumpaan antara beragam manusia dengan berbagai kepentingan. “Perjumpaan ini nyambung dengan tema festival kami. Perjumpaan untuk melihat masa lalu, mengalami masa kini, dan memprediksi masa depan,” kata Dandi.
Selain itu, Kayutangan memiliki sisi unik dalam perubahan kondisi wilayah. Peserta yang terpilih, lanjutnya, punya latar berbeda, ada yang asli Malang dan pendatang dengan berbagai jenjang usia. Perbedaan latar belakang tersebut akan menghasilkan berbagai sudut pandang tentang Kayutangan.
“Apakah ketika mereka di Malang mereka mengalami perubahan itu, mulai dari sejarah, tata kelola, pembangunan koridor Kajoetangan mengalami banyak perkembangan dan perubahan, itu menarik untuk dikulik lebih dalam dari berbagai sudut pandang peserta,” ujar anggota komunitas pelangi sastra Malang ini.
Baca Juga: Bayi Dibuang di Tepi Jalan Bojonegoro Lahir Tanpa Bantuan Medis
Lima belas peserta yang terpilih akan belajar dan praktek langsung menulis esai. Selanjutnya, hasil tulisan para peserta terpilih akan diterbitkan menjadi buku dan akan diluncurkan pada Puncak Festival Sastra Kota Malang 2023.
“Enam pertemuan meliputi, pertemuan pertama dibuka dengan pengantar penulisan esai. Pertemuan kedua pemberian materi dan riset lapangan yang telah ditentukan di beberapa titik wilayah Kajoetangan. Pekan ketiga dilakukan penyusunan hasil lapangan. Pertemuan keempat dan kelima akan dilakukan praktik penulisan esai dan ditutup pada pertemuan terakhir yaitu finalisasi dan penyuntingan,” lanjut pria yang bekerja freelance sebagai ilustrator tersebut.
Kelas menulis esai tidak hanya diikuti peserta dewasa. Ada peserta yang SLTA dan SLTP. Salah satunya Aisy Wijaya, salah satu peserta yang masih berusia 13 tahun. Ia tertarik ikut pelatihan karena memiliki hobi menulis.
“Saya punya blog dan sebelumnya pernah menulis antologi bersama. Saya suka nulis-nulis gitu. Harapannya, saya ingin lebih tahu tentang esai dan di blog bisa ngisi tulisan esai,” kata perempuan asal kota Malang yang saat ini kelas 7 SMP tersebut.

Sebagai informasi, pelatihan ini juga berkolaborasi dengan Komunitas Jelajah Jejak Malang yang berlangsung hingga 27 Agustus 2023. Komunitas Pelangi Sastra sebagai pemrakarsa Festival Sastra Kota Malang ini berupaya untuk mempertemukan penulis, pembaca, pegiat, dan pelaku buku.
Festival Sastra Kota Malang tahun 2023 merupakan transformasi dari kegiatan Pekan Sastra yang diprakarsai Komunitas Pelangi Sastra Malang sejak tahun 2018. Festival sastra kota Malang 2023 terlaksana dengan pendanaan dari bantuan pemerintah melalui badan pengembangan dan pembinaan bahasa pusat pengembangan dan perlindungan bahasa dan sastra Kemendikbudristek.
Baca Juga: Tangani Stunting, 4 Kecamatan Masuk Radar BTS di Banyuwangi
Deny Mizhar, sebagai Ketua Komunitas Pelangi Sastra mengupayakan transformasi Pekan Sastra menjadi Festival Sastra Kota Malang untuk memberikan wadah bagi seluruh pegiat sastra dengan beragam rangkaian acara kesusastraan. Festival ini mengusung tema ‘perjumpaan’ karena menjadi upaya untuk mempertemukan berbagai komunitas di kota Malang.
“Festival sastra merupakan bentuk usaha Komunitas Pelangi Sastra Kota Malang dalam membangun dan mewadahi ruang kreatif dan dinamika kesusastraan. Nantinya akan mengundang sastrawan nasional yang dulu pernah berproses di kota Malang, diantaranya ada nama Dadang Ari Murtono, Felix K Nesi, dan Royyan Julian,” ujar Deny Mizhar.
Dandi kembali menambahkan bahwa festival sastra diharapkan dapat membentuk ruang kesusastraan semakin dinamis. Ada satu ruang khusu yang dapat mempertemukan antar penulis, toko buku, penerbit, dan pembaca sehingga menjadi ajang pertukaran ide dan pengetahuan.
Baca Juga: Menteri Erick Thohir Sebut Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Ditunjang Sektor Pariwisata Kreatif
“Festival sastra ini satu-satunya dan pertama di Malang dan mungkin di Jawa Timur yang murni diadakan komunitas. Harapannya ada kesadaran diri dari orang yang pernah berproses di Malang dan orang Malang untuk saling mempertemukan berbagai ide dan pengetahuan,” ungkap Dandi.
Saat festival oktober nanti, pihaknya juga membuka ruang bagi para penulis atau penerbit yang ingin mendiskusikan bukunya. “Jadi kami akan memberikan fasilitas berupa tempat bagi penulis dan penerbit tanpa diseleksi cukup hubungi panitia saja,” katanya mengakhiri keterangan. (dan/ian)






