Malang (beritajatim.com) – Politeknik Negeri Malang (Polinema) merealisasikan kerjasama dengan salah satu Desa Mitra-nya dengan program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM). Program ini menginisiasi bank sampah desa Wringinsongo, kecamatan Tumpang agar menjadi Industri Mikro Pengolahan Plastik Limbah Kemasan sehingga plastik kemasan bisa menambah nilai jual.
Tim PKM ini secara lengkap terdiri atas Drs. Pudji Herijanto, M.AB sebagai Ketua. Beranggotakan Dr. Dra. Nilawati Fiernaningsih, M.AB, Mahmudatul Himmah, SE., MAB, Ahmad Fauzi, S.Kom., MMT, Widjanarko, ST., MT, dan Maskur, S.Kom., M.Kom. Menurut ketua tim, program ini diharapkan ke depan dapat meningkatkan bank sampah sebagai industri mikro perajangan sampah plastik kemasan air minum dan sejenisnya.
“Industri mikro ini kami harapkan dapat meningkatkan penghasilan nasabah dan mengurangi pengangguran warga desa. Selain itu kami harap bisa mendukung kemandirian kesehatan, ekonomi hijau, peningkatan pariwisata dan pendidikan dari masyarakat setempat,” ujar Pudji Herijanto, Jumat (4/8/2023).
Kegiatan PKM di desa Wringinsongo diawali dengan sosialisasi kepada petugas bank sampah Alam Lestari tentang pemetaan dan solusi terbaik untuk pengelolaan sampah plastik. Kemudian dilakukan identifikasi faktor pendukung utama untuk sebuah industri mikro. Faktor pertama penyedian bahan baku yaitu limbah plastik kemasan jenis PE (polyethylene).
BACA JUGA:
Ujian Mandiri Bersama Polinema Diminati 2.308 Camaba
“Selain dari anggota bank sampah, di sekitar desa terdapat sejumlah obyek wisata lokal, sejumlah sekolah, pondok, dan rumah makan. Tempat itu menjadi sumber potensial limbah plastik PE. Pabrik dan SDM sudah tersedia, tapi mesinnya produksi belum dimiliki. Unsur ketiga adalah pasar hasil rajangan plastik PE, terdapat beberapa alternatif penampung,” lanjut ketua tim PKM Polinema.
Seperti disebutkan sebelumnya bahan baku industri ini adalah plastik berjenis PE. Jenis plastik terkenal fleksibel sehingga begitu mudah dibentuk. Di samping itu, plastik ini cocok untuk mengemas produk makanan menjadi lebih baik, kering maupun cair.
“Namun penggunaannya lebih banyak untuk minuman, salah satunya dikarenakan tidak mudah bocor. Hal ini perlu dipahami oleh para pengolah limbah agar tidak tercampur dengan jenis plastik yang lain. Jika tercampur akan sangat berpengaruh kepada harga jualnya,” terangnya.
BACA JUGA:
Polinema Tuan Rumah Lokakarya Kurikulum Pertambangan se-Indonesia
PKM ini dinilai akan sangat membantu masyarakat karena pengadi telah ahli dibidangnya, yaitu gabungan dari Jurusan Administrasi Niaga (AN) dan Jurusan Teknik Mesin (TM). Pembagian tugas secara umum adalah dan tim AN terkait aspek bisnis. Kemudian tim TM menangani aspek produksi dan teknis. Dengan tugas utama merancang dan membuat mesin produksi, serta pelatihan dan pendampingan pengoperasioan mesin produksi.

Inisiasi diawali dengan proses organising dan staffing. Langkah ini untuk merumuskan organisasi dan tata kerja yang efektif. Selanjutnya dilakukan seleksi personil pendukung. Langkah ini dimulai dengan Kepala Desa dan Pengelola Bank Sampah.
Selanjutnya tim PKM memberi pelatihan pengoperasian sistem industri mikro dengan materi penanganan sistem penyedian bahan baku. Penanganan sistem produksi digarap dengan hibah mesin perajang limbah plastik kemasan.
“Kemudian mereka diberi pelatihan sistem pemasaran yang dilakukan dengan cara identifikasi dan membahas kemungkinan kerjasama dengan industri pengolahan produk berbahan plastik atau minimal pengepul biji rajangan plastik. Untuk menjamin keberhasilan program kami lakukan pendampingan serta monitoring untuk menjalankan usaha selama dua bulan,” pungkas Pudji Herijanto. [dan/beq]






