Surabaya (beritajatim.com) – Sebagai kampus yang kental akan kepesantrenan, Unusa melalui Fakultas Kedokteran (FK) berkomitmen untuk hadir melayani kebutuhan kesehatan warga, utamanya masyarakat pondok pesantren.
Didesain berbasis komunitas pesantren, pendidikan di FK Unusa ingin melahirkan lulusan atau para dokter pencegah berbasis komunitas pesantren. Pasca lulus, dokter-dokter itu diharapkan kembali ke ponpes mereka.
“Anak-anak kita banyak yang dari ponpes. Harapan kita nanti mereka akan kembali ke sana,” ujar Dekan FK Unusa Dr Handayani usai pengukuhan dan pengambilan sumpah dokter FK Unusa ke-8, Rabu (6/9/2023).
Pendistribusian dokter muda merupakan strategi penting dalam upaya menyediakan pelayanan kesehatan yang merata dan berkualitas di seluruh Indonesia, termasuk di wilayah ponpes.
Baca Juga: Timbul Prihanjoko Jadi Bupati Probolinggo Selama 18 Hari
Hal itu untuk membantu memastikan bahwa kebijakan kesehatan nasional dapat dijalankan dengan efektif dan masyarakat dapat memperoleh akses yang adil dalam layanan keperawatan medis yang dibutuhkan.
Handayani mengungkapkan, lulusan FK Unusa memiliki kualitas yang mumpuni, tak kalah dari para lulusan FK yang ada di kampus-kampus lain. Kata dia, hal itu bisa dilihat dari sejumlah bukti keterserapan di dunia industri.
Saat ini, lulusan FK Unusa banyak yang sudah bekerja di rumah sakit, di klinik, bahkan ada juga yang menjadi dosen. Selain itu, ada yang meneruskan pendidikannya baik secara mandiri maupun jalur beasiswa di luar negeri.
“Salah satunya itu yang menjadi kebahagiaan kita, ada tiga orang yang sudah diterima sebagai dosen di Unusa, dan tiga orang lagi diterima di FK lain. Banyaknya FK baru menjadi peluang lulusan FK menjadi dosen,” katanya.
Baca Juga: Prodi Administrasi Rumah Sakit Fakultas Kedokteran Unisma Masih Buka, Begini Cara Daftarnya!
Tak hanya itu, banyak juga lulusan FK Unusa yang sudah lolos Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). “Jadi ini menunjukkan bahwa kualitas dari lulusan di FK Unusa ini sangat bagus dan tak kalah dari FK lainnya,” katanya.
Sementara Rektor Unusa Prof Achmad Jazidie menekankan pentingnya ponpes dalam konteks pencegahan penyakit dan perbaikan kesehatan masyarakat di Indonesia.
Menurutnya, jumlah pesantren yang besar di seluruh Indonesia menjadi faktor penting dalam upaya ini. Lulusan FK Unusa harus memiliki perubahan mindset yang positif untuk mendukung inisiatif pencegahan berbasis komunitas ponpes ini.
Selain itu, upaya ini juga melibatkan pesantren tidak hanya sebagai pusat, tetapi juga melibatkan masyarakat di sekitarnya. Upaya ini diharapkan menjadi kontribusi positif bagi FK di Indonesia dan para dokternya.
“Namun, ini hanyalah salah satu bagian dari upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, dan ada banyak lagi yang dapat dilakukan,” kata Prof Jazidie. [ipl/ian]






