Pendidikan & Kesehatan

Mahasiswa UMM Buat Sistem Pintar Pendeteksi Kebakaran Hutan

Mahasiswa UMM temukan alat pendeteksi kebakaran hutan.

Malang (beritajatim.com) – Indonesia menjadi penyumbang terbesar kadar oksigen dunia yang kemudian sering disebut menjadi paru-paru dunia. Menurut data Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2018, luas lahan hutan di Indonesia mencapai 93,5 juta hektare.

Dengan catatan ini, Indonesia adalah negara ketiga terluas di dunia dengan hutan tropis. Namun kebakaran hutan, baik yang terjadi karena musim kemarau atau pembukaan lahan ilegal, menjadi masalah yang tak kunjung usai hingga saat ini.

Hal inilah yang mendorong sekelompok mahasiswa Program Studi Teknik Informatika UMM untuk membuat sistem pintar atau teknologi yang bernama Integrated Forest Fire Management Sistem, alat yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) untuk mendeteksi kebakaran hutan. “Cara kerja sistem ini adalah dengan memanfaatkan sensor LM35 dan sensor Flame menggunakan Artificial Intelligence sebagai pemroses data,” kata Ketua Kelompok, Billy Aprilio, Jumat (3/1/2020).

Billy menyebut kasus kebakaran hutan di Indonesia telah menjadi masalah yang belum teratasi, dan menjadi permasalahan internasional. Hal ini juga dapat dilihat dari data BNPB yang di update pada 15 September 2019 mencatat luas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia sebesar 328.722 hektare terbakar, dengan jumlah titik panas 538 titik panas. Inovasi yang dibimbing dosen Fakultas Teknik Nur Hayatin, S.ST, M.Kom digadang mampu mengurangi perluasan dampak kebakaran.

“Hutan memegang peran penting bagi kehidupan diantaranya adalah filter dalam mengurangi pemanasan global, dan penghasil oksigen terbesar di dunia. Bercermin dari peran penting hutan, disayangkan jika hutan di Indonesia terus mengalami penurunan dari setiap tahunnya. Banyak penyebab berkurangnya hutan di Indonesia salah satunya yaitu masalah kebakaran hutan,” ujar Billy.

Billy menyehut banyak upaya yang telah dilakukan pemerintah. Di antaranya pengefektifan perangkat hukum, menerapkan metode kampanye sadar masyarakat, dibangunnya embung, membangun .enara pengawas dan lainnya.

“Kemudian ketika terjadi kebakaran upaya pemadaman yang dilakukan adalah dengan meningkatkan teknologi dalam upaya pemadaman, kemudian dilakukan operasi pemadaman, juga evakuasi dan penyelamatan. Inovasi teknologi ini dinilai dapat menjawab tantangan tersebut,” ucap Billy.

Input yang didapat dari teknologi besutan Billy Aprilio, Yasril Imam dan Ulfah Nur Oktaviana ini berupa temperatur suhu dan nyala api. Ketika terjadi kebakaran, maka sensor akan mendeteksi secara otomatis. Selanjutnya, sistem akan memberikan perintah untuk memompa air untuk disemprotkan ke titik terjadinya kebakaran. “Di mana air didapatkan dari pembuatan penampungan air embun alami dengan menggunakan pemanen embun menggunakan jaring atau fog harvesting,” tutur Billy.

Alat ini akan menyemprotkan air pada periode waktu tertentu yang kemudian akan dilakukan pengecekan ulang terhadap suhu sekitar. Jika dinilai masih terdeteksi suhu tinggi, maka penyemprot akan diaktifkan kembali. “Namun, apabila sensor mendeteksi kategori kebakaran hutan tingkat tinggi, maka sistem secara otomatis akan mengirimkan sinyal tempat kebakaran pada komputer pusat. Sehingga, tidak akan terjadi kebakaran yang jauh lebih besar,” kata Billy.

Selanjutnya, hasil dari Fog Harvesting tersebut akan disalurkan ke tangki air (water tank) sebagai tempat penampungan. Kemudian untuk power supplay, mahasiswa ini menggunakan panel surya untuk memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber daya utama yang diaplikasikan pada pompa penyemprot air. “Dengan adanya sistem pintar ini diharapkan akan meminimalisirkan terjadinya kebakaran hutan besar,” tandasnya. (luc/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar