Pamekasan (beritajatim.com) – Berlapang dada dalam menerima beragam jenis kritik menjadi salah satu bagian dari sifat rendah hati atau tawadhu’.
Hal itu disampaikan Ketua Yayasan Al-Khairat, KH Ahmad Mahfud Abd Qodir saat memberi sambutan Yudisium 2023 Institut Agama Islam (IAI) Al-Khairat Pamekasan, di Auditorium Perguruan Tinggi di Jl Raya Palengaan (Palduding) Nomor 2 Pamekasan, Kamis (9/11/2023).
Secara mendalam, sifat tawadhu’ memiliki arti jika manusia tidak memiliki nilai lebih tinggi dibanding manusia lainnya. Bahkan sifat tersebut juga melekat bagi manusia yang menyadari, jika semua kenikmatan yang didapat bersumber dari Allah ‘Azza wa Jalla.
“Nikmati keadaan yang tidak bisa kita hindari, setiap masalah tergantung bagaimana cara kita menghadapinya. Nikmati proses dan terus mencoba untuk berdamai dengan keadaan,” kata Ahmad Mahfud Abd Qodir.
Baca Juga: 319 Mahasiswa IAI Al-Khairat Pamekasan Ikuti Program Yudisium 2023
Terdapat beragam contoh dari sikap tawadhu’, di antaranya menghargai dan menghormati pendapat orang lain, tidak suka disanjung atas capaian yang diraih, saling menasihati dalam hal kebagian, serta bersikap jujur.
Selain itu, bertutur kata yang baik dan tidak meninggikan suara menjadi salah satu contoh lain dari sifat tawadhu’. “Termasuk juga mau mendengar kritik menjadi bagian dari salah satu sifat tawadhu’,” ungkapnya.
Baca Juga: Pesan Rektor IAI Al-Khairat Bagi Peserta Yudisium 2023
“Maka dari itu, jangan lupa untuk selalu mahasabah atau instrospeksi diri. Jangan lupa bersyukur terhadap apa yang kita dapatkan, bersyukur saat bahagia, dan bersabar saat tidak bahagia,” imbuhnya.
Tidak kalah penting, ia juga menjelaskan jika hal tersebut juga harus dibarengi dengan usaha maksimal. “Poin penting yang dapat merubah nasib takdir adalah seberapa kuat kita berusaha,” jelasnya.
“Biasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala memutuskan sesuatu dari bentuk usaha manusia, usaha maksimal sebagai salah satu bentuk positive thinking kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla,” pungkasnya. [pin/ted]






