Pendidikan & Kesehatan

Minat Meningkat

Double Track SMA Diikuti 14 Ribu Siswa dari 157 Sekolah

Surabaya (beritajatim.com) – SMA Double Track merupakan program unggulan Provinsi Jawa Timur di bidang pendidikan. Double Track merupakan pelaksanaan KBM (kegiatan belajar mengajar) reguler dan menyelenggarakan kegiatan pembekalan keterampilan secara berdampingan sesuai dengan kearifan lokal.

Intinya progam ini ditujukan pada sekolah SMA/MA yang memiliki lebih dari 50 persen lulusan yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi untuk menyelenggarakan pendidikan formal dan program keterampilan kewirausahaan secara bersamaan.

Double Track ini menuai peminat yang cukup tinggi. Bahkan di tahun kedua pelaksanaanya, total 14 ribu siswa dari 157 lembaga SMA negeri di Jawa Timur yang tergabung dalam program tersebut. Jumlah itu meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya yang hanya diikuti 9009 siswa dari 86 lembaga.

Berbeda di tahun lalu yang fokus di daerah Trenggalek, Bojonegoro, Madura dan Situbondo. Tahun ke dua ini pelaksanaan hampir diikuti merata oleh lembaga sekolah di Jawa Timur.

Kepala Bidang Pembinaan SMA Dindik Jatim, Ety Prawesti menuturkan, saat ini pelaksanaan Double Track di tahun kedua masih bersifat ToT ( Trainer if Trainer). Berbeda dengan tahun lalu, untuk pelaksanaan di tahun ke dua ini pihaknya mewajibkan satu sekolah satu produk. Khususnya di bidang multimedia.

“Kami terus mendorong agar para siswa bisa mneghasilkan produk produk bernilai jual tinggi. makanya itu, kami lakukan evaluasi kemarin di tahun pertama pelaksanaan,” ujar dia, Minggu (17/11/2019).

Misalnya saja, lanjut dia, evaluasi di bidang peminatan tata boga yang terkait dengan kreatifitas instruktur yang kurang mengarah pada inovasi dan kreasi dalam mengolah makanan. Di mana siswa diajarkan membuat kue dengan bentuk dan varian yang sama.

“Padahal kreasi makanan ini harus diasah. Kan yang diajari anak-anak SMA. Dan makanan harus terus ada kreasi serta inovasinya. Jadi memang instruktur ini kurang variatif dan pengembangan ilmu memasaknya juga kurang,” ungkap dia.

Lebih lanjut, untuk bidang peminatan tata rias sudah cukup bagus. Sedangkan bidang peminatan multimedia masih ada proses pemantapan keahlian. Pasalnya, berbagai produk atau karya inovasi masih menakar peluang dan tren pasar. Di lain sisi, pihaknya juga berupaya untuk mendongkrak jumlah peminat di jurusan teknik listrik. Pasalnya, di tahun kemarin jumlah peminat ini masih tergolong sedikit.

Lain halnya di jurusan otomotif, saat ini pihaknya bersama instruktur tengah fokus dan pengembangan sepeda listrik. Pihaknya juga telah berkomunikasi dengan Tianjin untuk pembekalan tersebut di tahun 2020.

“Kita memang ada beberapa catatan. Tapi satu tahun penyelenggaraannya produknya sudah bagus. Dan sudah ada wadah untuk menjual barang barang mereka secara online melalui ruangdagang.net,” jabarnya.

Ety menekankan, untuk pengembangan produk inovasi sendiri, pihaknya masih mengarahkan untuk mengusung kearifan lokal daerah. Hal itu dilakukan, agar mereka juga mampu mengangkat potensi daerah untuk menarik masyarakat luas.

“Kami berharap program ini bisa mengurangi pengangguran ketika lulus. Mereka juga bisa mandiri dan berwirausaha. Karena kalau tidak punya keterampilan kebanyakan bekerja sebagai OB, penjaga toko dan TKW. Jadi dengan ini mereka sudah punya gambaran dan bekal untuk berwirausaha,” pungkasnya. [adg/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar