Pendidikan & Kesehatan

Covid Tanpa Gejala dan Alami Hipoksia, Guru SMKN 6 Tanggul Jember Wafat

Alfi Yudisianto, Pelaksana Tugas Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Jember.

Jember (beritajatim.com) – Salah satu guru laki-laki SMK Negeri 6 Tanggul di Kabupaten Jember, Jawa Timur, meninggal dunia setelah dirawat di rumah sakit akibat Covid-19. Tidak ada penyakit ikutan atau komorbid.

Guru SMKN 6 tersebut meninggal, Senin (8/6/2021) kemarin. Dia adalah salah satu dari anggota keluarga yang terkena Covid-19. Saat ini anggota keluarga lainnya tengah dikarantina mandiri di rumah. Dinas Kesehatan Jember telah melakukan tracing atau pelacakan terhadap 107 warga SMKN 6 kemarin.

“Covid memang kalau dengan komorbid bisa memperparah kondisi. Tapi juga tak sedikit yang tanpa komorbid. Jadi masyarakat tetap harus waspada,” kata Alfi Yudisianto, Pelaksana Tugas Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Jember.

Guru tersebut itu sebenarnya termasuk orang tanpa gejala. Ia menjalani isolasi mandiri dengan pengawasan ketat dari tenaga kesehatan, setelah menjalani swab pada 2 Juni 2021. Hasil tes swab terkonfirmasi positif baru diketahui pada 5 Juni 2021.

Dua hari kemudian, guru itu mengalami kondisi hipoksia, yakni kondisi kekurangan oksigen dalam sel dan jaringan tubuh, sehingga fungsi normalnya mengalami gangguan. Kekurangan pasokan oksigen ini bisa berdampak pada jantung. Setelah diukur, kadar oksigennya di bawah 95 persen.

“Orang kena hipoksia tidak merasa sesak napas tapi secara medis mengalami sesak napas. Namun kurang nyaman. Ketika diperiksa saturasi, oksigennya di bawah standar. Oleh pihak medis disarankan untuk opname di rumah sakit. Tapi pihak keluarga memutuskan melihat perkembangan dulu,” kata Alfi.

Menurut Alfi, jika ada penderita Covid sudah dinyatakan perlu opname, sebaiknya segera dilakukan. “Karena Covid tidak bisa diremehkan. Masih misterius penyakit ini,” katanya.

Tenaga medis sudah dua kali menyarankan agar guru itu opname, karena kadar oksigen semakin turun. Namun keluarga tetap memutuskan menunggu perkembangan. “Baru malamnya, keluarga memutuskan untuk membawa pasien ke RS Lumajang,” kata Alfi.

Alfi mengatakan, saat ini anggota keluarga lainnya masih dalam kondisi baik dan menjalani isolasi mandiri dengan pengawasan petugas medis. “Yang bergejala adalah menantunya yang tidak mencium bau,” katanya.

Alfi mengingatkan kepada masyarakat agar tetap waspada. “Covid masih ada. Ini penyakit misterius. Kita sudah membaca pola selama setahun pandemi, dan artinya tidak bisa diremehkan. Tetap patuhi protokoll kesehatan. Kalau dinyatakan harus opname, ya opname. Semakin cepat ditangani, semakin baik,” katanya. [wir/ted]



Apa Reaksi Anda?

Komentar