Pendidikan & Kesehatan

54 Tahun Mengabdi untuk Bangsa, Upaya IAIN Madura Menuju UIN Madura

Pamekasan (beritajatim.com) – Genap 54 tahun Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura, mengabdi untuk bangsa melalui bidang pendidikan. Terhitung mulai 20 Juli 1966 hingga 20 Juli 2020, yakni sejak menjadi cabang IAIN Sunan Ampel Surabaya hingga bertransformasi sebagai perguruan tinggi mandiri.

Pada awalnya, IAIN Madura merupakan cabang dari IAIN Sunan Ampel Surabaya yang berpusat di Jl Brawijaya, Kelurahan Juncancang, Kecamatan Pamekasan, dengan hanya mengelola Fakultas Tarbiyah Program Studi (Prodi) Pendidikan Agama Islam (PAI), yakni melalui program sarjana muda.

Namun 22 tahun berselang tepatnya sejak 1988, Perguruan Tinggi yang kala itu masih menginduk ke IAIN Sunan Ampel Surabaya, di Jl Jenderal A Yani, akhirnya beralih dari program Sarjana Muda menjadi Program Sarjana atau Strata 1 alias S1.

“Hari ini merupakan momentum sekaligus perayaan Hari Jadi Ke-54 Tahun IAIN Madura, khususnya dalam mengabdikan bagi bangsa melalui bidang pendidikan. Dengan harapan semoga selalu dapat mengabdikan diri dengan cara melahirkan generasi terbaik untuk masa depan bangsa,” kata Rektor IAIN Madura, Mohammad Kosim, Senin (20/7/2020).

Memasuki 21 Maret 1997, secara resmi IAIN Sunan Ampel Surabaya Cabang Pamekasan bertransformasi menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pamekasan. Sekaligus mengelola dua fakultas berbeda, yakni Fakultas Tarbiyah, serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam.

“Sejak berganti nama menjadi STAIN Pamekasan, proses pembelajaran dilakukan di eks kampus lama, yaitu di Jl Brawijaya (Juncancang, Pamekasan). Hal itu itu berlangsung cukup lama. sekitar 20 hingga 21 tahun dan akhirnya pindah kesini (Jl Raya Panglegur KM 4 Tlanakan),” ungkapnya.

Pada 5 April 2018, STAIN Pamekasan akhirnya kembali bertransformasi menjadi IAIN Madura dengan mengelola enam fakuktas berbeda. Masing-masing Fakuktas Tarbiyah, Fakultas Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Fakultas Ushuluddin, Fakultas Dakwah, serta Pascasarjana.

“Saat ini terdapat sebanyak 20 prodi dari enam fakultas berbeda, meliputi 17 prodi S1 serta 3 prodi S2 (Pascasarjana). Dari jumlah tersebut, 3 prodi mendapat akreditasi A, satu prodi akreditasi C dan sisanya akreditasi B,” jelas pria yang akrab disapa Pak Kosim.

Total mahasiswa di Perguruan Tinggi yang mengalami delapan kali estafeta kepemimpinan sejak masa H Munir hingga Mohammad Kosim mencapai angka sebanyak 9.750 mahasiswa. “Setiap tahun jumlah pendaftaran sebanyak 5 ribu orang dan diterima hanya sebanyak 2.200 orang. Sementara jumlah dosen sebanyak 250 orang, sebanyak 40 dosen di antaranya merupakan dosen dengan status doktor (S3),” imbuhnya.

“Tidak hanya itu, sarana dan fasilitas lainnya juga terdapat 2 jurnal dengan akreditasi Sinta 2, 5 jurnal dengan akreditasi Sinta 3, termasuk dua dosen yang tercatat sebagai anggota reviewer jurnal nasional,” sambung Pak Kosim.

Tidak cukup dengan status tersebut, pihaknya juga memiliki ambisi lain untuk terus mengembangkan kampus yang dipimpimnya. Di antaranya menambah prodi hingga ambisi mewujudkan IAIN Madura menjadi UIN Madura. “Tahun depan kami akan membuka prodi Eksakta, termasuk upaya perubahan status menjadi UIN Madura,” pungkasnya. [pin/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar