Ringkasan Berita:
- Telkom membukukan pendapatan konsolidasi Rp75,9 triliun dan laba bersih Rp10,6 triliun pada Semester I 2026.
- Telkomsel mencatat pertumbuhan pendapatan 3,3 persen dengan ARPU mobile naik menjadi Rp45.600.
- Segmen B2B Infrastructure tumbuh 19 persen didorong layanan data, internet, dan data center.
- Transformasi TLKM 30 terus diperkuat melalui efisiensi, pengembangan infrastruktur digital, dan penyederhanaan portofolio bisnis.
Jakarta (beritajatim.com) – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menutup Semester I 2026 dengan kinerja keuangan yang positif. Perseroan membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp75,9 triliun atau tumbuh 3,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/YoY).
Pertumbuhan pendapatan tersebut diikuti peningkatan EBITDA sebesar 3,8 persen menjadi Rp37,5 triliun dengan EBITDA margin mencapai 49,4 persen. Sementara itu, laba bersih Telkom meningkat 1,4 persen menjadi Rp10,6 triliun dengan margin laba bersih sebesar 14 persen.
Jika dinormalisasi, laba bersih Perseroan mencapai Rp11,3 triliun atau tumbuh 6,2 persen YoY dengan margin sebesar 14,9 persen. Capaian tersebut mencerminkan ketahanan kinerja operasional Telkom yang didukung pemulihan bisnis mobile.
Perseroan juga mencatat arus kas operasional yang kuat sebesar Rp34,9 triliun atau meningkat 7 persen YoY, ditopang implementasi program efisiensi berkelanjutan serta disiplin dalam pengelolaan biaya.
“Komitmen dan dedikasi kami dalam mengakselerasi transformasi digital melalui strategi TLKM 30 tercermin dari pertumbuhan yang berhasil kami capai pada semester pertama tahun ini. Pencapaian tersebut semakin memperkuat optimisme kami untuk terus mempercepat transformasi sekaligus memperkuat peran Telkom sebagai pemimpin ekosistem digital Indonesia,” ujar Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini.
Pada segmen Business to Consumer (B2C), Telkomsel membukukan pendapatan sebesar Rp55,6 triliun atau tumbuh 3,3 persen YoY. Kinerja tersebut didorong pertumbuhan pendapatan Digital Business Data sebesar 11 persen sepanjang Semester I 2026.
Telkomsel juga mencatat peningkatan Average Revenue Per User (ARPU) mobile menjadi Rp45.600 atau naik 9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan konsumsi data masyarakat selama liburan sekolah dan penyelenggaraan Piala Dunia turut mendorong peningkatan kebutuhan layanan data berkualitas.
Di sisi layanan fixed broadband, Telkomsel terus melakukan kalibrasi strategis terhadap basis pelanggan. Jumlah pelanggan IndiHome tercatat 9,5 juta, dibandingkan 10,1 juta pada Semester I 2025. Meski demikian, ARPU IndiHome secara kuartalan meningkat 3,4 persen menjadi Rp211 ribu, sedangkan secara semesteran berada di level Rp207 ribu dengan rasio konvergensi mencapai 65 persen.
Telkom menyebut strategi tersebut merupakan bagian dari upaya membangun basis pelanggan yang lebih berkualitas, meningkatkan efektivitas monetisasi layanan, serta menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan melalui pengembangan ekosistem digital berbasis teknologi Artificial Intelligence (AI) dan jaringan 5G.
Di segmen Business to Business (B2B) Infrastructure, Telkom membukukan pendapatan sebesar Rp33,1 triliun atau tumbuh 19 persen YoY. Pendapatan eksternal juga meningkat 4,9 persen menjadi Rp4,7 triliun, terutama ditopang layanan data, internet, dan IT Service.
Anak usaha Telkom, Mitratel, mencatat pendapatan Rp4,7 triliun atau tumbuh 2,1 persen YoY. Jumlah tenant meningkat menjadi 63.866 atau naik 4,9 persen sehingga rasio penyewaan menara (tenancy ratio) mencapai 1,57 kali.
Sementara itu, bisnis data center melalui NeutraDC terus diperkuat untuk menjawab meningkatnya permintaan infrastruktur digital. Telkom tengah mengonsolidasikan seluruh aset data center TelkomGroup ke dalam NeutraDC guna memperluas layanan, mengoptimalkan monetisasi aset, dan memperkuat kolaborasi dengan mitra strategis.
Pada Segmen B2B ICT, Telkom membukukan pendapatan Rp7,3 triliun atau tumbuh 35,7 persen secara kuartalan (quarter on quarter/QoQ), meski masih dipengaruhi proses restrukturisasi portofolio bisnis.
Adapun pendapatan Segmen International Business mencapai Rp5,7 triliun. Perseroan optimistis transformasi menuju layanan konektivitas dan solusi digital bernilai tambah tinggi akan meningkatkan margin EBITDA dalam beberapa tahun mendatang, seiring meningkatnya permintaan kapasitas kabel bawah laut internasional untuk mendukung perkembangan teknologi AI.
Sepanjang Semester I 2026, implementasi strategi TLKM 30 juga menunjukkan perkembangan signifikan. Dari sisi Operational and Service Excellence, Telkom berhasil meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat pengelolaan belanja modal secara prudent, serta menjalankan Early Retirement Program (ERP) dan mobilitas karyawan untuk meningkatkan efektivitas biaya.
Perseroan juga telah menyelesaikan proses penyederhanaan terhadap 10 entitas melalui divestasi, merger, dan likuidasi sebagai bagian dari strategi memperkuat fokus pada bisnis inti.
Realisasi belanja modal (capital expenditure/CAPEX) Telkom sepanjang Semester I 2026 mencapai Rp10,8 triliun. Lebih dari 96 persen investasi tersebut dialokasikan untuk pengembangan bisnis prioritas di segmen B2C, B2B Infrastructure, dan International Business.
Selain itu, implementasi pilar Unlock Value terus berjalan melalui persiapan pengalihan aset InfraNexia Tahap 2 yang ditargetkan selesai pada Semester II 2026. Perseroan juga terus memperkuat model Strategic Hold-Co untuk mengintegrasikan pengelolaan portofolio bisnis pada empat segmen utama.
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan akan sangat ditentukan oleh kekuatan infrastruktur digital yang kita bangun hari ini. Oleh karena itu, Telkom sebagai bagian dari Danantara Indonesia akan terus mengakselerasi transformasi dan memperkuat investasi pada kapabilitas digital guna menciptakan nilai yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan, sekaligus menjadi katalis pertumbuhan lintas sektor dan memperkuat ketahanan ekonomi digital nasional,” tutup Dian. [rea/beq]






