Jember (beritajatim.com) – Pencegahan penyakit mulut dan kuku (PMK) pada ternak sapi lebih sulit daripada pencegahan penyakit Covid pada manusia. Krisis obat pun terjadi di tengah wabah penyakit ini.
“Pencegahan PMK sulit. Kalau Covid, kita cukup jaga jarak dua meter. Kalau untuk PMK, bisa menularkan dalam jarak 10 kilometer di udara. Jadi kelihatannya kalau mencegah kayak mustahil,” kata Sekretaris Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Jember Sugiarto, ditulis Selasa (12/7/2022).
“Kalau Covid selama jarak aman, aman. Kalau PMK ini menular dalam jarak 10 kilometer pun bisa, apalagi dengan situasi sekarang sering terjadi hujan pada malam hari yang membuat ternak lebih rentan kena,” kata Sugiarto.
Ini yang membuat Pemkab Jember tidak menutup pasar hewan. “Selain masalah ekonomi, penyebaran virus melalui udara seperti itu. Walau pun pasar kami tutup, tapi jagalnya membeli sapi dari daerah lain ya sama saja,” kata Sugiarto.
Saat ini, Dinas Peternakan berupaya untuk meningkatkan imunitas sapi dan melakukan disinfeksi kandang. “Pada prinsipnya, penyakit virus tidak ada obatnya. Yang bisa membunuh virus adalah dirinya sendiri dengan meningkatkan kondisi daya tahan tubuh ternak sapi,” kata Kepala Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Jember Andi Prastowo,
“Ini sama persis dengan Covid, yang dilakukan adalah pengobatan simtomatis atau pengobatan berdasarkan gejala. Ini butuh proses penyembuhan yang sangat lama. Peran peternak menentukan berhasil tidaknya pengobatan,” kata Sugiarto.
Masalahnya, jumlah cadangan itu tak mencukupi untuk menghadapi wabah PMK. “Kami tidak menyangka ada wabah. Setiap tahun, kami ada cadangan obat di kantor untuk penanganan siapa tahu yang akan membutuhkan,” kata Andi.
Sementara jumlah bantuan dari Pemprov Jatim pun jauh dari memadai. “Kami dapat bantuan dari Provinsi hanya 40 botol obat. Tidak sampai sehari habis. Ini bukan vaksin. Kondisinya memang sama. Pemprov pun tidak siap seperti kami. Terkaget-kaget,” kata Andi.
“Di pasar pun obat itu langka. Kalau pun ada, harganya selangit, bisa dua kali lipat dari harga normal. Itu pun kalau tidak langganan, tidak akan dikasih. Ini sama seperti awal kasus pandemi Covid. Semuanya serba langka,” kata Sugiarto.
Dengan kondisi itu, Dinas Peternakan mengajukan alokasi BTT (Belanja Tak Terduga) untuk membeli obat yang meningkatkan kekebalan kondisi tubuh ternak. “Kami mengantisipasi sewaktu-waktu vaksin turun, karena informasi dari pemerintah pusat, akan ada vaksinasi pada Agustus,” kata Andi.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pmk-jatim”]
Petugas Dinas Peternakan saat ini setiap malam melakukan sosialisasi di desa-desa. “Bukan hanya untuk mencegah PMK, tapi lebih kami tekankan pada bagaimana cara merawat ternak yang sakit. Rata-rata kematian dikarenakan ternak tersebut kelaparan, setelah beberapa hari tidak bisa makan. Kalau mereka tidak disuapi makanan oleh peternak dengan jumlah yang cukup, mereka akan mati kelaparan,” kata Sugiarto.
Sekretaris Komisi B DPRD Jember David Handoko Seto berharap ada mekanisme yang mempercepat sosialisasi. “Dengan begitu, bisa dibreakdown oleh kepala desa kepada peternak-peternak di desa masing-masing. Pengobatan simtomatis perlu diketahui masyarakat,” katanya.
“Selama ini mungkin ada beberapa peternak yang ingin menyuapi sapi mereka takut. Terjadi kepanikan, ketika sapinya berliur. Kalau manusia diinfus selesai, tapi sapi kan tidak ada infusnya. Ini perlu disampaikan,” kata David. [wir/but]






