Tuban (beritajatim.com) – Sekelompok pemuda pecinta bunyi di Desa Rengel Tuban membuat alat musik yang lain dari biasanya. Alat musik tersebut yaitu dari batang daun pohon lontar Siwalan khas Tuban.
Untuk memainkan alat musik tersebut para pemain mengkolaborasikan alat musik dari batang daun pohon Siwalan dengan alat musik lainnya seperti seruling dan Rinting khas Jawa Timur. Sehingga, memunculkan suara yang indah dan punya ciri khas tersendiri.
Kreatifitas para pemuda di Desa Rengel ini menyebut kelompoknya dengan nama Unen – Unen Rengel, dimana mereka menyukai suara atau bunyi dari alam yang bisa memunculkan bunyi atau suara secara alami dan menjadikannya sebagai alat musik.
Salah satu pemain Unen – Unen Rengel bernama Hewod mengungkapkan, bahwa awal ide kreatif menciptakan alat musik tak biasa bermula dari Seniman bernama Iswanto, pihaknya hanya meneruskan dan mengembangkan.
[berita-terkait number=”5″ tag=”musik”]
“Seorang seniman Tuban bernama Iswanto sering mengeksplor bunyi – bunyi dari alam. Ketika itu melihat batang daun pohon Siwalan jatuh dan memunculkan suara, akhirnya sama beliau di eksplor jadi alat musik,” ucap Hewod.
Ia mengaku kenapa memilih alat musik dari alam sebab tak banyak orang yang memakai alat musik tersebut, serta kecintaannya terhadap alam dan musik, sehingga menyatukan keduanya. “Masak hanya buah Siwalannya aja yang dikenal, padahal dari pohon lontar atau Siwalan ini banyak sekali manfaatnya jika kita mau memanfaatkannya,” kata Hewod.
Hewod juga menambahkan, batang daun pohon lontar ketika dibawa ke jalan dan mengenai angin juga menimbulkan bunyi, sehingga para kelompok seni Unen – Unen Rengel mencoba bawa ke panggung dan menjadikan alat musik, dengan dikolaborasikan alat musik Rinting. “Rinting itu kalau di Jawa sebutannya Genggong, ini alat musik khas Jawa Timur,” ungkap dia.
Untuk memainkan alat musik dari alam ini, membutuhkan 7 atau 9 orang per kelompok dengan kolaborasi alat musik lainnya, namun dalam puncak Hari Musik Nasional 9 maret yang digelar kemarin malam hanya dimainkan oleh 3 orang saja. “Untuk memainkan alat musik ini kita kolaborasikan juga dengan alat musik Dayak,” imbuhnya.
Serta ia berharap bahwa kedepan kelompoknya bisa mengeksplorasi alam yang lain dan tetap mengembangkan kesenian tersebut. “Pokoknya kedepan semoga terus berjalan aja sih,” pungkasnya. (ay/kun)






