Madiun (beritajatim.com) – Pemerintah Kota Madiun mulai mematangkan berbagai persiapan menjelang pelaksanaan Suroan dan Suran Agung 1448 Hijriah/2026.
Selain memastikan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman dan tertib, pemerintah daerah juga berupaya menjadikan momentum tahunan tersebut sebagai penggerak ekonomi masyarakat melalui pelibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Persiapan dilakukan melalui koordinasi lintas sektor yang melibatkan unsur TNI, Polri, pemerintah kecamatan, hingga berbagai perguruan pencak silat yang berada di Kota Madiun. Langkah ini dinilai penting mengingat tradisi Suroan dan Suran Agung selalu menjadi agenda besar yang menarik ribuan peserta dan pengunjung dari berbagai daerah.
Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Madiun Bagus Panuntun mengatakan sinergi seluruh pihak terus diperkuat guna menjaga kondusivitas wilayah selama pelaksanaan kegiatan berlangsung. Pemerintah tidak hanya melakukan koordinasi di tingkat kota, tetapi juga hingga tingkat kecamatan yang menjadi pusat aktivitas masyarakat selama bulan Suro.
Salah satu wilayah yang menjadi perhatian khusus adalah Kecamatan Manguharjo. Kawasan tersebut selama ini dikenal sebagai lokasi dua padepokan besar, yakni Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dan Persaudaraan Setia Hati Winongo Tunas Muda (PSHW), yang rutin menggelar berbagai kegiatan pada momentum Suro.
“Wilayah Manguharjo memang menjadi salah satu titik utama kegiatan. Karena itu koordinasi tidak hanya dilakukan di tingkat kota, tetapi juga sampai kecamatan dengan melibatkan seluruh perguruan pencak silat agar pelaksanaan berjalan tertib dan aman,” ujar Bagus Panuntun, Kamis (12/6/2026).
Menurutnya, seluruh perguruan pencak silat yang hadir dalam rapat koordinasi telah menyatakan komitmen bersama untuk menjaga keamanan dan ketertiban selama pelaksanaan Suroan dan Suran Agung. Komitmen tersebut menjadi modal penting dalam menciptakan suasana yang kondusif bagi masyarakat maupun para peserta kegiatan.
Pemkot Madiun juga menegaskan bahwa tidak akan ada kegiatan arak-arakan selama rangkaian acara berlangsung. Kebijakan tersebut merupakan hasil kesepakatan bersama yang telah disosialisasikan oleh aparat kepolisian dan seluruh pihak terkait.
“Kesepakatannya jelas, tidak ada arak-arakan. Semua pihak sudah memahami dan menyetujui aturan tersebut demi menjaga ketertiban bersama,” katanya.
Larangan arak-arakan dinilai sebagai langkah preventif untuk meminimalkan potensi gangguan keamanan serta mengurangi risiko kemacetan maupun gesekan yang dapat muncul akibat tingginya mobilitas massa selama perayaan bulan Suro.
Selain fokus pada aspek keamanan, pemerintah daerah juga melihat tradisi Suroan sebagai momentum strategis untuk menggerakkan roda perekonomian lokal. Ribuan peserta dan pengunjung yang datang ke Kota Madiun setiap tahunnya berpotensi meningkatkan transaksi di sektor perdagangan, kuliner, hingga jasa.
Untuk memaksimalkan manfaat ekonomi tersebut, Pemkot Madiun berencana melibatkan pelaku UMKM dengan menyediakan ruang berjualan di sejumlah titik yang diperkirakan menjadi pusat keramaian.
“Kami ingin masyarakat juga merasakan manfaat ekonominya. Karena itu pelaku UMKM akan diberikan ruang untuk berjualan di lokasi yang diperkirakan menjadi titik berkumpul peserta maupun pengunjung,” ungkapnya.
Kehadiran UMKM di sekitar lokasi kegiatan diharapkan tidak hanya meningkatkan pendapatan pelaku usaha, tetapi juga memperkuat citra Kota Madiun sebagai daerah yang mampu mengelola tradisi budaya sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Untuk mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan, pemerintah daerah juga telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif. Mulai dari patroli gabungan lintas instansi, pemantauan melalui layanan darurat 112, kesiapan fasilitas kesehatan, hingga pengaturan lalu lintas pada titik-titik yang diperkirakan mengalami peningkatan aktivitas masyarakat.
Sementara itu, Polres Madiun Kota telah menyiapkan skema pengamanan melalui Operasi Aman Suro. Pengamanan akan melibatkan ratusan personel kepolisian yang diperkuat unsur TNI, Satpol PP, Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan, serta petugas pengamanan internal dari masing-masing perguruan pencak silat.
Kolaborasi berbagai unsur tersebut diharapkan mampu menciptakan sistem pengamanan yang terintegrasi sehingga seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan lancar tanpa mengganggu aktivitas masyarakat sehari-hari.
Dengan persiapan yang semakin matang dan dukungan seluruh pemangku kepentingan, Pemerintah Kota Madiun optimistis pelaksanaan Suroan dan Suran Agung 1448 Hijriah/2026 dapat berlangsung aman, tertib, dan memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat. Pengamanan terpadu serta keterlibatan UMKM menjadi bagian dari upaya menjadikan tradisi tahunan ini tidak hanya sebagai agenda budaya dan spiritual, tetapi juga momentum penguatan ekonomi daerah. (rbr/ted)






