Blitar (beritajatim.com) – Alun-Alun Kota Blitar sebagai jantung aktivitas warga kini tengah mendapatkan perhatian khusus dari Pemerintah Kota. Keberadaan koloni burung blekok yang bersarang di pepohonan area tersebut mulai dikeluhkan karena dinilai mengganggu kenyamanan dan kebersihan warga yang beraktivitas dan berolahraga di bawahnya.
Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin, menyatakan bahwa pihaknya tengah mengupayakan langkah-langkah untuk memindahkan populasi burung blekok ke lokasi yang lebih tepat. Langkah ini diambil semata-mata untuk mengembalikan fungsi Alun-Alun sebagai ruang terbuka hijau yang bersih dan nyaman bagi masyarakat.
Dalam penjelasannya, pria yang akrab disapa Mas Ibin ini mengakui bahwa mengusir atau memindahkan burung-burung tersebut secara manual bukanlah perkara mudah. Untuk tahap awal, Pemkot Blitar memilih menggunakan metode persuasif dengan alat pengusir tradisional.
“Kita memasang alat pengusir tradisional. Ya, memang sifatnya ‘untung-untungan’, tetapi ini upaya agar ada perhatian bahwa lokasi tersebut merupakan tempat yang digunakan masyarakat untuk berkumpul, bermain, dan beraktivitas,” ujar Syauqul Muhibbin pada Selasa (14/04/2026).
Langkah ini dilakukan untuk meminimalisir dampak kotoran burung yang kerap jatuh dan mengenai warga. “Kasihan masyarakat yang sedang di bawah kalau terkena kotorannya. Jadi, kita upayakan agar mereka (burung blekok) berpindah,” tambahnya.
Wali Kota Blitar menegaskan bahwa pemerintah tidak bermaksud membasmi, melainkan mengarahkan koloni burung tersebut ke wilayah yang lebih aman dan jauh dari kerumunan massa. Salah satu lokasi yang dibidik adalah kawasan hijau yang minim aktivitas publik secara langsung.

“Sebenarnya tempat untuk burung blekok ini masih banyak di kota kita. Kita arahkan supaya berpindah ke taman-taman hijau milik pemerintah yang tidak digunakan untuk aktivitas intens masyarakat, misalnya seperti di kawasan Joko Pangon,” jelasnya.
Menurutnya, di kawasan Joko Pangon masih banyak terdapat pepohonan besar yang mampu menampung populasi burung tersebut tanpa harus mengganggu kenyamanan warga atau jalannya pemerintahan.
Meskipun menyadari kesulitan teknis dalam memindahkan satwa secara alami, Pemkot Blitar berkomitmen untuk terus memantau efektivitas penggunaan alat tradisional tersebut. Jika metode ini belum membuahkan hasil maksimal, Wali Kota mengisyaratkan akan mencari alternatif solusi lain yang tetap ramah lingkungan.
“Kalau misalkan nanti belum ada perubahan, kita coba cara yang lain. Prinsipnya, kami ingin memindahkan mereka agar Alun-Alun tetap menjadi tempat yang sehat dan menyenangkan bagi seluruh warga Kota Blitar,” pungkasnya.
Dengan upaya ini, diharapkan estetika dan kebersihan Alun-Alun Kota Blitar dapat kembali terjaga, sehingga masyarakat bisa menikmati fasilitas publik tanpa perlu khawatir dengan gangguan kebersihan dari atas pohon. (owi/but)







9 Komentar
disinggahi hewan burung adalah bentuk karunia Tuhan, tidak semua tempat dipilih hewan burung untuk disinggahi..wahai manusia kenapa kau tidak bersyukur malah kau usir..!!
Adanya burung² di pepohonan di alun² Blitar mestinya menambah daya tarik sendiri bagi warga sekitar dan para pendatang dari luar kota. Fitrahnya memang begitu, banyak pohon, pasti banyak burung. Sebagai perbandingan, di Kebon Raya Bogor, banyaknya burung, malah menarik bagi para pengunjung. Masa iya, pengunjung sering kena kotoran burung?
ojo diusir. itu proses alamiah yg digerakkan Allah. Pasti ada manfaat besar yg belum bisa ditangkap manusia.
lebih baik yg pindah orangnya, yg pindah yg jogging. Buat alon alon baru khusus utk jogging dll
walikota sebelumnya gak pernah menyoal burung blekok.
knp diusir, jarang”ada di tempat lain burung sprti itu, knp tdk d jadikan destinasi wisata alam??? 🤦♂️
lah, bukahkah yg harus dibuatin alat itu tukang parkirnya? kok bisa malah hewan?
walikota blek-kok
yg komen lucu” nanti tdk di bersihkan bilang walikota tdk perhatian. di bersihkan msh saja salah… memang lucu” orang” di negeri Konoha ini… serba repot… hahaha…
Seperti fi negara Arab di dekat peribadahan juga ada ;URUNG DARAdi SANA TAMBAH DI KASIH MAKANAN