Magetan (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magetan menyiapkan Rp30 miliar untuk menangani stunting. Anggaran itu terbilang naik dari tahun 2022 yang dianggarkan Rp27 miliar. Hal tersebut dibenarkan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Magetan Hergunadi.
Duit Rp30 miliar itu akan dimanfaatkan oleh dua organisasi perangkat daerah (OPD) serta satu badan layanan usaha daerah (BLUD). Yakni Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKB&PPPA), Dinas Kesehatan (Dinkes) dan RSUD dr Sayidiman Magetan.
“Iya tahun ini untuk penanganan dan pencegahan stunting di Kabupaten Magetan anggarannya kami naikkan. Dari sebelumnya Rp27 miliar naik menjadi Rp30 miliar lebih,” kata Hergunadi saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (22/02/2023).
Anggaran iru bakal dikolaborasikan dengan anggaran lain yang sifatnya menuju arah yang sama yakni penanganan stunting. Pun, untuk penanganan stunting akan difokuskan pada sosialisasi dalam parenting.
” Sebenarnya di DPPKB&PPPA sudah ada penyuluhan pra nikah. Ini nanti akan kami kerjakan lagi, mungkin akan ada pendampingan dan monitoring. Agar pada saat mempunyai anak bisa lebih fokus memperhatikan anaknya di masa masa yang sangat berarti usia 0 hingga 5 tahun,” terang mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Magetan itu.
Penanganan stunting tidak terfokus di wilayah Kecamatan Panekan yang kasusnya tertinggi, tapi seluruh wilayah di Magetan.
“Para camat saat ini sedang menginventarisasi khususnya masalah kemiskinan dan stunting. Apabila menemukan anak stunting pak camat akan mendampinginya dan mengantarkannya ke rumah sakit,” jelasnya.
[berita-terkait number=”2″ tag=”stunting-magetan”]
Hergunadi menerangkan, RSUD dr Sayidiman Magetan telah memiliki dokter spesialis untuk tumbuh kembang anak. Sehingga masyarakat bisa dengan mudah konsultasi ke dokter jika anak dinyatakan stunting.
“Karena kami terkendala sikap masyarakat yang malu bila anaknya dibilang stunting. Sebenarnya vonis stunting bukan menyalahkan orang tua. Orang tua diminta untuk memperhatikan pertumbuhan anaknya itu saja. Kita akan tangani dan kita akan bantu si anak agar terpenuhi nutrisi dan gizinya,” kata Hergunadi.
Diberitakan sebelumnya, Bupati Magetan Suprawoto mengungkapkan ribuan balita yang mengalami stunting di Magetan disebabkan kesalahan pola asuh orang tua. Hal itu disampaikan dalam rapat koordinasi stunting yang digelar di Pendopo Surya Graha, Kamis (9/2/2023).
Kang Woto, sapaan akrab Bupati Suprawoto, bercerita jika mayoritas masyarakat Magetan cenderung memberikan makanan yang kurang bergizi. Pun, tidak memperhatikan bentuk, warna, dan rasa makanan sehingga anak-anak cenderung memilih makanan junk food.
“Ini yang harus kita pahamkan pada masyarakat. Supaya, orang tua bisa membuat makanan yang menarik anak-anak untuk makan makanan buatan orang tua. Dengan memperhatikan bentuk, warna, dan rasa. Jangan malah diajak makan makanan yang kurang bergizi,” katanya dalam sambutan.
Karenanya, pihaknya meminta bidan desa untuk selalu proaktif dalam memberikan edukasi pada masyarakat. Babinsa dan Bhabinkamtibmas yang bertugas di desa dan kelurahan juga dilibatkan dalam memberikan rasa aman bagi orang tua yang balitanya mengalami stunting. (fiq/ted)






