Jember (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, memiliki 70 orang relawan untuk membantu vaksinasi wabah penyakit mulut dan kuku (PMK). Namun kehadiran mereka sebagai vaksinator masih diperdebatkan.
“Kepala Dinas Peternakan tidak sepakat untuk mengajari orang melakukan vaksinasi. Kata dokter (hewan) itu tidak bisa, itu harus (memperoleh pendidikan) sekolah untuk memvaksin. Jadi ini kami masih diskusikan,” kata Bupati Hendy Siswanto, usai sidang paripurna di DPRD Jember, Senin (18/7/2022).
Pemkab Jember mendapat alokasi 11.200 dosis vaksin, termasuk tambahan dari pengalihan jatah vaksin dari daerah lain yang tak sanggup menyelesaikan vaksinasi. “Vaksinasi yang sudah diselesaikan sekitar sembilan ribu dosis lebih,” kata Elok Kristanti, Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner pada Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Jember.
[berita-terkait number=”4″ tag=”penyakit-mulut-kuku”]
Namun Dinas Peternakan menghadapi kendala. Sekretaris Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Jember Sugiarto sempat menyatakan, jumlah petugas dinas tak seimbang dengan kegiatan vaksinasi PMK yang harus dilakukan. Dengan jumlah petugas yang terbatas, mereka harus mendatangi kandang-kandang sapi yang jaraknya berjauhan untuk melakukan vaksinasi.
“Itu lumayan berat buat teman-teman di lapangan. Apalagi nanti kalau jumlahnya banyak, kita ada vaksin pertama dan kedua yang durasinya hanya butuh satu bulan. Bisa jadi kita vaksin pertama saja belum selesai, sudah masuk masa vaksin kedua. Kalau vaksin boosternya agak lama, enam bulan, mungkin kami masih bisa (melakukan). Tapi untuk vaksin pertama dan kedua yang jaraknya pendek ini kami masih memikirkan solusinya seperti apa,” kata Sugiarto.
Hendy berharap segera ada solusi. “Ini masih kami diskusikan. Yang penting treatment kami adalah penyembuhan dulu,” katanya. [wir/ted]






