Jember (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, membentuk tim J-Eman (Jember Emergency Maternal Neonatal) untuk mengatasi kematian ibu dan bayi. Tim ini sudah bekerja selama tiga bulan terakhir.
“Ini sebuah tim yang langsung bergerak apabila ada keluhan (kelahiran) risiko tinggi di desa-desa. Contoh: ada seorang ibu yang mau melahirkan, lalu terjadi gangguan. Biasanya ketika teman-teman (bidan desa) tidak mampu, cukup telepon kami. Kami akan turun. Itu sudah berjalan kurang lebih tiga bulan ini,” kata Kepala Dinas Kesehatan Jember Hendro Soelistijono, Kamis (21/12/2023).
Tim J-Eman juga akan turun tangan jika ada penolakan rujukan kendati layak dirujuk. “Tim ini mengevakuasi. Pokoknya kalau wajib rujuk ditolak, kami evakuasi dalam rangka menyelamatkan dan mencegah kematian,” kata Hendro.
Menurut Hendro, saat ini angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) saat proses persalinan di Kabupaten Jember cenderung turun. “Saat ini sudah terjadi penurunan lebih dari 20 persen dibandingkan tahun lalu. Ini tentunya berkat Allah SWT dan upaya teman-teman bidan dan petugas kesehatan, sehingga penurunannya luar biasa,” katanya.
Tercatat, hingga November 2023, ada 39 orang ibu melahirkan dan 128 bayi di Jember yang meninggal saat persalinan. Angka ini sebenarnya mengalami penurunan dibandingkan dengan 2021, yang mencatatkan 115 kasus kematian ibu dan 295 kasus kematian bayi, dan dibandingkan dengan 2022 yang mencatatkan 58 kasus kematian ibu dan 282 kematian bayi.
Peringkat AKI dan AKB di Jatim baru akan diketahui pada Maret 2024. Namun Hendro berharap hingga tutup akhir tahun ini tidak ada penambahan kasus lagi.
“Kami memang bekerja keras. Kami berterima kasih dan mengapresiasi untuk semua, mulai dari aparat desa, aparat kecamatan, dan lain-lain yang sudah membantu kami menurunkan angka kematian ibu dan bayi,” kata Hendro. [wir]






