Banyuwangi (beritajatim.com) – Momen Ramadan menjadi berkah bagi para pelaku usaha kuliner rumahan di Banyuwangi. Produksi menu berbuka puasa banyak diminati pembeli, ditambah lagi kebijakan Pemkab Banyuwangi untuk memfasilitasi banyak pasar takjil.
Seperti para ibu rumah tangga pelaku usaha kuliner rumhan di lingkungan Kampung baru, Desa Jajag, Kecamatan Gambiran.
Saat menyerahkan legalitas bagi para pelaku kuliner rumahan, Bupati Ipuk menyaksikan terdapat sekitar 20 ibu rumah tangga menjadi pelaku kuliner rumahan.
Selama Ramadan mereka memproduksi menu-menu khas berbuka, seperti kue cenil, urap-urap, aneka sayuran, lauk-pauk, dan makanan berbuka lainnya. Produksi mereka untuk memenuhi kebutuhan para pedagang di lapak-lapak pasar takjil dan warung-warung.
Untuk menjamin keamanan dan memberikan kepastian halal pada produk kuliner yang dijual, Bupati Ipuk memfasilitasi pengurusan legalitas usaha bagi para pelaku kuliner. Mulai nomor izin berusaha (NIB), PIRT, hingga sertifikasi halal.
“Legalitas usaha sangat penting bagi para pelaku UMKM. Selain mereka bisa mendapatkan kepastian hukum atas asetnya, juga meningkatkan kepercayaan konsumen, serta memberikan kemudahan akses permodalan melalui perbankan,” ujar Ipuk.
Fasilitasi legalitas UMKM dilakukan secara gratis. Tak sekadar membantu mengurus dokumen, Pemkab Banyuwangi juga rutin memberikan sosialisasi dan pendampingan pada mereka.
“Semoga dengan legalitas ini, produk para usaha kuliner rumahan ini kian laris,” kata Ipuk.
Salah satu pelaku kuliner rumahan yaknk Fitria Sundari. Wanita paruh baya yang setiap harinya memproduksi kue cenil dan cilok itu kini mengaku lega telah mengantongi dokumen legalitas usaha.
Fitria adalah salah satu dari ibu-ibu di lingkungan Kampung baru yang memproduksi kuliner tradisional. Tempat tinggalnya memang dikenal sebagai kampung produsen jajanan tradisional.
“Awalnya tidak tahu kalau harus memiliki legalitas usaha. Terima kasih Ibu Bupati sudah membantu saya mengurus NIB dan sertifikat halal. Sekarang usaha saya sudah resmi dan diakui halal,” kata Fitria.
Dia mengaku, hampir semua ibu rumah tangga di wilayah itu memproduksi makanan rumahan untuk dijual di pasar oleh pihak kedua.
“Kami hanya membuat masakan, nanti sudah ada penampungnya. Jadi kami tidak repot karena sudah pasti terjual,” ungkapnya.
Selama momen Ramadan seperti sekarang, ibu-ibu ini banting stir dengan membuat hidangan takjil yang memang sangat diburu saat waktu berbuka puasa. Yang sebelumnya mereka membuat aneka jajanan basah, kini berganti haluan membuat aneka hidangan siap santap. Seperti lodeh, lauk pauk, hingga takjil khas Ramadan.
Seperti yang dilakoni Puji Astuti. Produsen donat dan kue lapis itu selama Ramadhan ini beralih membuat aneka lauk pauk. “Harus pinter lihat peluang. Saat puasa biasanya masyarakat antusias berburu takjil dan lauk. Makanya saya inisiatif menjual lauk pauk. Alhamdulillah laris,” pungkasnya. (ayu/ted)






