Ponorogo (beritajatim.com) – Kasus permintaan sumbangan untuk pembelian mobil Innova di SMPN 1 Ponorogo, telah mencoreng dunia pendidikan di bumi reog. Sutejo, seorang Pemerhati Pendidikan Ponorogo mendesak pengelolaan keuangan sekolah secara online. Dengan pengelolaan keuangan sekolah secara online, diharapkan pertanggungjawaban dari sumbangan wali murid dan segala bantuan dari pemerintah ke sekolah bisa transparan dan akuntabel.
“Usul saya pengelolaan online keuangan sekolah mendesak untuk segera diwujudkan,” ungkap Sutejo saat dihubungi beritajatim.com, lewat aplikasi pesan whatsapp, Senin (09/10/2023).
Pungutan dengan label sumbangan wali murid, sebenarnya sudah menjadi rahasia umum di dunia pendidikan di Ponorogo. Harusnya, yang namanya sumbangan, pihak sekolah tidak boleh menentukan nominal sumbangannya. Harus benar-benar dana sukarela yang diberikan wali murid dan tidak ditentukan tenggat waktu bayarnya.
Dalam kasus di SMPN 1 Ponorogo, dimana wali murid disuruh menyumbang nominal Rp 1,6 juta untuk membeli komputer, alat musik dan mobil Innova, Sutejo menyebutkan bahwa kepala sekolah harus bisa lebih bijaksana. Harus bisa membaca Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS). Cermati dan hitung ulang RKAS dan tidak asal pungut.
“Hitung ulang RKAS, untuk transparan dan efektif, pengelolaan keuangan tidak harus mungut,” ungkap pelopor Sekolah Literasi Gratis tersebut.
Viralnya sumbangan yang mencapai jutaan di SMPN 1 Ponorogo, tentu bisa menjadi pelajaran besar untuk sekolah negeri lain di Ponorogo. Baik itu yang tingkat SMP maupun SMA. Kejadian ini, juga bisa membuat pelajaran berharga untuk Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Ponorogo. Cari solusi yang tepat, jangan sampai permasalahan pendidikan seperti ini terulang setiap tahunnya. “Kalau mau berbenah yang lebih baik, pertanyaannya berani tidak sekolah mengelola keuangannya secara online, dapat diketahui publik,” pungkasnya. (end/kun)
BACA JUGA: PSI Tak Lakukan Perbaikan Data pada Pencermatan Rancangan DCT di Ponorogo






