Magetan (beritajatim.com) – Masih minimnya obat-obatan untuk sapi yang terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK) membuat Dinas Peternakan dan Perikanan Magetan menyarankan untuk memberikan empon-empon sebagai upaya perawatan sapi yang sakit.
Namun, drh. Viski Hendrawan M.Si, Dosen Ilmu Klinik Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya Malang menyebut jika empon-empon seperti jahe kunyit, asam dan sebagainya bukanlah obat pembunuh virus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) tetapi berfungsi sebagai penambah stamina.
Viski menyebut, untuk meningkatkan daya tahan tubuh sapi dapat dilakukan dengan mengkonsumsi pakan yang bergizi tinggi. Suplementasi kunyit, jahe, asam dan lain-lain bisa digunakan sebagai imunomodulator. Imunomodulator adalah semua senyawa yang dapat meningkatkan respons imun, menstimulasi mekanisme pertahanan tubuh adaptif.
“Prinsip pengobatan PMK adalah rehidrasi atau pemberian air minum kemudian meningkatkan daya tahan tubuh dengan asupan pakan tinggi energi dan pengobatan terhadap infeksi sekunder. Total kebutuhan air untuk sapi dewasa sekitar 25 liter sehari. Virus akan melemah setelah 10 hari menginfeksi, namun jika ada infeksi sekunder oleh bakteri ya tetap harus dibantu dengan injeksi antibiotik,” kata Viski, Selasa (21/6/2022).
Dia menyebut jika ada gejala seperti nafas berat atau cepat, itu tanda adanya infeksi sekunder bakteri. Dia meminta peternak segera menghubungi dokter hewan untuk memeriksa dan memberikan obat yang sesuai. Infeksi sekunder inilah yang menyebabkan kematian yang lebih banyak. Kematian akibat infeksi tunggal PMK sangat kecil dibawah 5% dari total kasus.
“Prinsip perawatan sapi PMK adalah rehidrasi. Makhluk hidup bisa tahan beberapa pekan tanpa makan. Tetapi tanpa minum, tiga hari sapi akan mati,” jelasnya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”penyakit-pmk”]
Ditambahkan Viski, dalam merawat sapi sakit PMK, agar mengupayakan kandang kering terus untuk membantu percepatan kesembuhan kaki yang luka. Cairan sitrun, cuka, kalium permanganat, atau klorin 03 persan dapat disemprotkan di bagian kaki yang luka setiap pagi, untuk membunuh virus dan mempercepat pengeringan luka. Luka kaki juga perlu dijaga agar tidak kotor, atau dibersihkan dengan air dan antiseptik iodin jika kotor. Luka kaki yang kotor ini dapat menginduksi infeksi tetanus.
“Penyuntikan antibiotik, anti nyeri dan anti demam bisa dilakukan bila diperlukan. Seperti saya tegaskan di atas, prinsip perawatan sapi PMK adalah rehidrasi, pemberian pakan energi tinggi, perawatan luka kuku dan pengobatan terhadap infeksi sekunder oleh bakteri,” jelasnya.
Dia menjelaskan, Jika sapi sudah mau makan, maka bisa diberi bubur tinggi energi, misalnya bubur cair campuran beras merah, bekatul dan beras putih ditambah sedikit gula merah, dan premix mineral namun dalam jumlah total terbatas, tidak lebih dari dua kilogram berat kering per hari. Atau konsentrat yang direbus dan diberikan dalam bentuk bubur.
“Pakan tinggi energi ini akan mempercepat pemulihan kekuatan tubuh dan dapat memulihkan produksi susu setelah pemberian 20 hari berturut-turut. Hijauan yang diberikan perlu dipotong kecil-kecil agar memudahkan pencernaan,” tambahnya.
Lebih lanjut dikatakan Viski, kita perlu memberikan sosialisasi kepada para peternak agar punya kemampuan mandiri mencegah dan mengelola sapi sakit PMK. [fiq/suf]






