Pasuruan (beritajatim.com) – Rencana pembangunan pasar baru di wilayah Bugul Kidul, Kota Pasuruan, dipastikan batal direalisasikan pada tahun 2026 setelah pemangkasan Dana Transfer ke Daerah (TKD) mencapai Rp139 miliar dan menekan kemampuan APBD.
Pasar yang sebelumnya diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di wilayah timur Kota Pasuruan itu harus ditunda akibat keterbatasan fiskal yang dihadapi pemerintah daerah.
“Pembangunan pasar belum masuk tahun ini karena Dana Transfer ke Daerah (TKD) berkurang,” ujar Wali Kota Pasuruan, Adi Wibowo.
Sebelumnya, Pemkot Pasuruan telah menyiapkan lahan seluas dua hektare di Kelurahan Kepel sebagai lokasi pembangunan pasar. Proses pengurukan lahan juga telah dilakukan pada tahun sebelumnya sebagai bagian dari persiapan awal.
Selain itu, kajian teknis untuk menghadirkan pasar dengan konsep lebih modern dan tertata juga telah disusun. Namun, kondisi keuangan daerah memaksa pemerintah mengalihkan anggaran pembangunan ke kebutuhan yang lebih mendesak.
Anggaran sebesar Rp14 miliar yang semula disiapkan untuk proyek pasar tersebut akhirnya tidak dapat direalisasikan tahun ini.
Anggota Komisi II DPRD Kota Pasuruan, R. Imam Joko Sih Nugroho, menyebut pemangkasan TKD menjadi faktor utama yang berdampak pada perubahan prioritas pembangunan daerah.
“Pengurangan transfer dana pusat tahun ini mencapai sekitar Rp139 miliar, sehingga memberi tekanan cukup besar terhadap APBD kita,” katanya.
DPRD menilai penundaan ini bisa dimanfaatkan untuk mematangkan konsep desain pasar agar lebih representatif, bersih, dan tidak terkesan kumuh.
Pihak legislatif juga mendorong agar pembangunan pasar Bugul Kidul kembali dimasukkan dalam prioritas anggaran tahun 2027.
“Harapan saya tahun 2027 bisa diprioritaskan, namun Pemkot harus sudah menyiapkan desain pasar yang berkesinambungan,” pungkas Imam Joko. [ada/beq]






