Pasuruan (beritajatim.com) – Dunia pendidikan di pusat ibu kota Kabupaten Pasuruan tengah menghadapi tantangan serius terkait ketimpangan jumlah peserta didik baru antar-lembaga sekolah. Fenomena menyusutnya angka pendaftaran di sejumlah sekolah negeri menjadi potret nyata adanya persaingan ketat dalam menarik minat wali murid.
Kondisi prasarana yang memadai ternyata belum menjadi jaminan bagi sekolah tingkat dasar untuk dapat memenuhi kuota bangku kelas yang tersedia. Sebagian lembaga justru harus memulai kegiatan belajar mengajar dengan jumlah rombongan belajar yang jauh dari target operasional ideal.
“Setiap tahun memang sedikit yang minat di sini, kalah dengan SD di sekitarnya yang cukup tinggi peminatnya. Di sini kami diapit SDN favorit dan swasta yang juga mempublikasikan nama besar,” keluh Kepala SDN Dermo 2, Yuliati.
Yulianti mengungkapkan bahwa pada penerimaan tahun ajaran 2026/2027 yang jatuh pada Senin (13/07/2026), sekolahnya hanya berhasil menjaring 14 siswa-siswi dari pagu maksimal kelas sebanyak 28 anak.
Letak geografis sekolah yang berdekatan dengan lembaga pendidikan lain yang memiliki reputasi mentereng disinyalir menjadi pemicu utama terjadinya migrasi calon siswa. Dominasi promosi dari sekolah kompetitor membuat keberadaan sekolah negeri di pinggiran pusat kota ini kian meredup.
Pihak sekolah kini harus memutar otak agar proses pembelajaran tetap berjalan efektif meskipun dengan keterbatasan jumlah peserta didik di dalam kelas. Keberadaan dua SDN unggulan seperti SDN Dermo 1 dan SDN Gempeng 1 serta dua lembaga swasta besar di sekitarnya diakui mempersempit ruang serapan murid baru.
“Saat ini ada 5 lembaga SDN yang masuk daftar di bawah pagu kurang dari 20 siswa-siswi, sedangkan pagunya 28 siswa-siswi. Sekolah harus membuat terobosan mulai kedisiplinan hingga kegiatan ekstrakurikuler, sehingga siswa-siswi tertarik,” terang Kepala Pengawas Sekolah Wilayah Kecamatan Bangil, Dalikah.
Evaluasi menyeluruh kini sedang disiapkan oleh dinas terkait guna memetakan sebaran anak usia sekolah di kawasan tersebut secara lebih presisi.
Dinas Pendidikan Kabupaten Pasuruan mendorong kepala sekolah yang berada di zona merah bangku kosong untuk segera melakukan inovasi program pengajaran yang kreatif. Peningkatan kualitas pelayanan dan penambahan kegiatan luar kelas yang variatif dinilai menjadi kunci krusial untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.
Jika langkah pembenahan internal tidak segera direalisasikan secara konsisten, dikhawatirkan beberapa sekolah akan terus kehilangan eksistensinya di masa mendatang. Pemerintah daerah berkomitmen untuk mendampingi sekolah-sekolah minim peminat ini agar mampu bersaing sehat dengan lembaga pendidikan modern lainnya. (ada/but)






