Jember (beritajatim.com) – Pembalakan kayu liar atau illegal logging di Kabupaten Jember, Jawa Timur, terbanyak di kawasan selatan. Namun secara umum kondisi hutan di Jember masih bagus.
“Ada tiga jenis tanaman kayu yang kami kelola yakni pohon jati, pinus, dan mahoni. “Hutan yang rawan adalah hutan yang memiliki tegakan pohon jati. Kalau pinus dan mahoni relatif aman,” kata Administratur Perhutani Jember Eko Teguh Prasetyo, ditulis Selasa (31/12/2024).
Namun secara umum pembalakan kayu liar dan kerusakan hutan di Jember relatif tak banyak. Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Jember mengelola 71.784,99 hektare hutan. “Tutupan kami lebih dari 90 persen. Illegal logging tidak parah di Jember,” kata Eko.
Menurut Eko, pembalakan kayu liar terjadi karena ada penggarapan lahan. “Mereka melakukan bukan untuk mencuri kayu, tapi supaya lahan terbuka untuk bisa digarap,” katanya.
Perhutani mendekati masyarakat di kawasan hutan untuk mencegah pembalakan kayu liar. “Kami sampaikan, khususnya di kawasan hutan lindung, tidak boleh ada penggarapan. Kami juga sudah mengingatkan jajaran untuk menutup garapan di areal hutan lindung yang kami khawatirkan bisa berdampak terhadap bencana alam,” kata Eko.
Perhutani bahkan menutup lahan garapan di kawasan hutan lindung untuk mencegah bencana alam. Tim telah diturunkan di beberapa titik “Kami akan segera melakukan rehabilitas kalau garapan di sana. Tapi kami harus cek lapangan. Hutan di KPH (Kesatuan Pengelolaan Hutan) Kabupaten Jember pada prinsipnya masih cukup lestari,” kata Eko.
Salah satu yang dicek adalah hutan di lereng Gunung Argopuro Kecamatan Sumberjambe. Ada laporan banjir bandang yang turun ke sejumlah desa membawa material kayu hutan. Ini memunculkan kecurigaan adanya sisa-sisa pembalakan liar di sana.
“Itu sebetulnya bukan illegal logging. Tapi memang banyak kayu yang lapuk. Jadi di hutan lindung, ketika ada pohon roboh, kami tidak bisa memanfaatkan. Kayunya dibiarkan busuk. Tapi dia terkena hujan terus-menerus sehingga terbawa air. Rata-rata kayunya lunak,” kata Eko.
Eko yakin tidak ada pembalakan kayu liar di Sumberjambe. “Jenis kayunya bukan kayu mahal. Pinus dan sengon kan beda dengan jati. Kalau jati dijual sangat mahal,” katanya.
Perhutani Jember lebih memprioritaskan pendekatan preemtif dan preventif untuk mencegah kerusakan hutan. “Jika tidak bisa memberi efek jera, kami terpaksa melakukan upaya represif penegakan hukum,” kata Eko. [wir]






