Jember (beritajatim.com) – Otoritas keamanan Swedia memberikan izin Salwan Momika, warga asal Irak, membakar Alquran di depan Masjid Stockholm. Rabu (28/6/2023). Ini ironi sebuah negara demokrasi. Kebebasan sipil di sana justru memancing kegaduhan global.
Kasus ini melengkapi kegaduhan yang ditimbulkan politikus sayap kanan Swedia, Rasmus Paludan, yang memimpin gerakan Stram Kurs. Ini gerakan kelompok ekstrem kanan yang anti imigran dan anti Islam. Paludan yang berprofesi pengacara ini menyiarkan aksi membakar Alquran secara langsung melalui kanal Youtube pada medio April 2022.
“Rasmus menggunakan aksi ini untuk mendapatkan dukungan dari warga dalam proses pencalonan menjadi anggota legislatif. Namun, aksinya justru dilakukan di wilayah basis muslim. Sehingga, menimbulkan kerusuhan sosial empat hari berturut-turut,” kata Moch. Eksan, dosen mata kuliah Ahlusunnah wal Jamaah (Aswaja) Universitas PGRI Argopuro dan Direktur Eksan Institute, di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (1/7/2023).
Eksan mengkritik kebijakan pemerintah Swedia yang membiarkan hal itu terjadi. “Kebebasan sipil tak boleh mengancam kebebasan sipil orang lain,” katanya di Kabupaten Jember, Jawa Timur.
“Aksi pembakaran Alquran tersebut bersamaan dengan perhelatan Idul Adha, yang jelas membawa misi penyebaran kebencian antar sesama umat manusia. Warga Swedia itu sendiri banyak yang tak suka terhadap aksi provokatif Momika itu. Semua ingin hidup aman dan damai,” kata Eksan.
Pemerintah dan otoritas keamanan Swedia agaknya lupa Swedia memiliki populasi penduduk muslim yang relatif besar. Dari 10,4 juta orang warga, terdapat 8,1 persen beragama Islam. Sisanya, 63,7 persen Kristen, 27,0 persen tak beragama, dan 1,2 persen beragama lain-lain. “Data demografi ini mengkonfirmasi Islam adalah agama terbesar kedua di Swedia,” kata Eksan.
Pembakaran Alquran ini sebuah ironi. Swedia adalah negara dengan indeks demokrasi Swedia tertinggi keempat di dunia dengan skor 9,39. Budaya politiknya mendapat skor sempurna, 10. pluralisme dan proses pemilu (9,58), fungsi pemerintah (9,64), partisipasi politik (8,33), dan kebebasan sipil (9,41).
Namun pemerintah Swedia membiarkan pembakaran Alquran, sebuah kitab suci yang berisi ajaran demokrasi. Eksan menyebut pembakaran prinsip-prinsip demokrasi Alquran yang dianut secara universal. “Seorang yang tak bisa menghargai suara Tuhan, pasti dia tak akan bisa menghargai suara rakyat,” kecamnya.
Eksan mengatakan, Alquran mengajarkan kebebasan bertanggungjawab, dan demokrasi yang beradab. Sebuah demokrasi yang berakar dari ajaran musyawarah dalam Kalamullah tersebut. Sekurang-kurangnya, ada dua ayat yang mengajarkan demokrasi Alquran.
Pertama, Surat Ali Imran ayat 159. Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”
Kedua, Surat Asy-Syuura ayat 38. Artinya: “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.”
“Walaupun antara demokrasi dan syura itu sendiri terdapat perbedaan dalam beberapa hal. Namun, terdapat sejumlah kesamaan prinsip yang tercermin dalam penafsiran Al-Misẖbâẖ, seperti al-‘adâlah (keadilan), al-musâwah (persamaan), as-syûra (bermusyawarah),” kata Eksan.
“Dengan demikian, Al-Qur’an telah memberikan landasan moral dalam membangun sistem demokrasi. Konsepsi demokrasi yang diberkembangkan di dunia Islam bukan saja berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan tetapi juga nilai-nilai ketuhanan,” tambah mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam ini.
Eksan khawatir, aksi pembiaran terhadap pembakaran kitab suci agama telah membuka the clash of civilization antara Barat dan Timur, seperti sinyalemen Samuel P Huntington. “Padahal, semua punya kepentingan sama untuk membangun perdamaian dunia yang adil dan beradab,” katanya. [wir]






