Edson Arantes do Nascimento meninggal dunia. Kamis, 29 Desember 2022. Usianya 82 tahun. Jujur saja, saya tidak tahu bagaimana dia meliuk-liuk di lapangan hijau. Saya hanya tahu nama populernya dari Bapak: Pele. Saat dia memutuskan pensiun dari sepak bola, saya masih kanak-kanak. Saya justru lebih akrab dengan nama Diego Maradona, bintang Argentina yang dianggap sebagai nemesis Pele, yang saya tonton pertama kali di TVRI saat Piala Dunia 1986.
Bagi generasi ayah saya, Pele, sebagaimana petinju Muhammad Ali, adalah The Greatest of All Time. Yang terhebat sepanjang masa. Pada sebuah zaman tanpa internet dan TVRI baru menyiarkan langsung 36 pertandingan Piala Dinia pada 1978, hikayat kehebatan Pele dan Muhammad Ali berkembang dalam perbincangan warung kopi. Saya tidak tahu berapa kali Bapak menonton Pele dan Brasil di televisi. Tapi kalau soal Muhammad Ali, ayah selalu cerita: ‘Kalau Ali naik ring, jalan raya sepi’.
Perjumpaan publik sepak bola Indonesia secara langsung dengan Pele terjadi pada 20 Juni 1972, dalam sebuah pertandingan eksibisi di Senayan Jakarta. Hari itu, Pele mencetak gol ketiga Santos ke gawang tim nasional Indonesia yang dijaga Ronny Paslah. Santos menang 3-2 setelah sempat unggul 3-0 lebih dulu.
Saya mencoba mencari video pertandingan itu di Youtube. Tidak ketemu. Namun tetap saja saya harus berterima kasih kepada para pendiri Youtube yang membuat gambar gerak Pele di Piala Dunia abadi, sehingga kita tahu sepak bola bukan hanya Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Jauh sebelum mereka berdua, Pele dan Maradona adalah dua nama yang sering dihadap-hadapkan. Meniru slogan lebay khas suporter sepak bola Indonesia: rivalitas tanpa batas.
Tanpa batas? Jelas saja, karena sebenarnya tidak masuk akal juga menghadap-hadapkan Maradona dan Pele seolah-olah berada di pertandingan yang sama. Mereka tidak hidup sezaman sebagaimana halnya Messi dan Ronaldo. Saat Pele memulai debutnya bersama Brasil pada usia 17 tahun di Piala Dunia 1958 dan mencetak dua gol ke gawang Swedia dalam partai final, Maradona bahkan belum lahir. Jadi jelas rivalitas mereka tanpa batas, melampaui zaman.
Dalam buku autobiografinya, Maradona becerita bagaimana kedatangannya bersama klub Boca Juniors ke Stadion Félix Houphouet-Boigny, Pantai Gading, pada pertengahan Oktober 1981 dibandingkan dengan kedatangan Pele bersama Santos sebelumnya. “Saya merasa diperlakukan seperti raja,” kata Maradona.
Jelas FIFA yang bikin gara-gara, memantik awal kisah rivalitas keduanya. Semua berawal saat federasi sepak bola internasional itu mengadakan jajak pendapat penghargaan pemain terbaik abad ini (Player of the Century) melalui di situs resmi mereka. Hasilnya: Maradona mendapat 53,6 persen suara dan Pele hanya menangguk dukungan 18,5 persen.
Publik Brasil tidak terima. Mereka menilai model pemilihan melalui jajak pendapat tidak menggambarkan hal sesungguhnya. Realistis saja: mayoritas pemilih adalah orang yang tidak pernah melihat Pele bermain, namun mereka menyaksikan bagaimana Maradona beraksi di Piala Dunia 1986. Absurd.
FIFA akhirnya mengeluarkan kebijakan pemberian penghargaan ‘Football Family‘ untuk Pele berdasarkan suara dari komite dan pembaca majalah resmi organisasi tersebut. Kebijakan ini tentu saja bikin Maradona berang. “Orang memilih saya. Sekarang mereka ingin saya berbagi penghargaan dengan Pele. Saya tak akan berbagi penghargaan dengan siapapun,” katanya.
Maradona memutuskan datang ke Roma untuk menerima penghargaan itu, lalu pergi begitu saja usai pidato ucapan terima kasih. Dia tak mau sepanggung dengan Pele.
Pele dan Maradona bagaikan perbandingan klise air dan minyak. Satunya sejuk menyegarkan, satunya berpotensi jadi bahan bakar. Mereka dinilai merepresentasikan dua hal yang berbeda: kesantunan dan keliaran.
Pele mendapatkan semua predikat baik yang ada dalam sepak bola. Dia lebih bisa diterima FIFA dan menjadi duta besar organisasi itu. Bahkan dia menjadi duta besar Unicef, sebuah organisasi sayap Persatuan Bangsa-Bangsa yang menangani persoalan anak-anak.
Dalam buku Soccer in Sun and Shadow, Eduardo Galeano menulis: Pemerintah Brasil menganggap Pele harta pusaka nasional yang tidak boleh diekspor. Dia telah memainkan 1.300 pertandingan di delapan negara. Bahkan Nigeria dan Biafra mengumumkan gencata senjata hanya untuk menyaksikannya bermain.
Sementara Maradona adalah berandalan jenius yang menaklukkan dunia dengan kedua kakinya dan menjadi musuh utama FIFA. Hidupnya berkubang dengan skandal narkoba, dan tidak begitu sukses saat menjadi pelatih tim nasional Argentina.
Di lapangan hijau, Maradona akan dikenang sebagai ‘Malaikat Berwajah Kotor’ (meninjam judul buku Jonathan Wilson) karena gol ‘Tangan Tuhan’ ke gawang Inggris dalam Piala Dunia 1986, dan Pele akan dikenang karena gol akrobatiknya ke gawang Swedia dalam final Piala Dunia 1958.
Brian Glanville dalam buku The Story of the World Cup menyebut Pele sebagai: ‘the sublime deus ex machina, throbbing with power and energy, capable of resolving and transforming any game in a flash‘. Pemain yang bisa mengubah pertandingan dalam sekejap.
James Montague dalam buku When Friday Comes – Football, War and Revolution in the Middle East, menggambarkan dengan apik bagaimana respons publik terhadap keduanya dalam sebuah pertemuan di Qatar pada November 2005.
Mereka datang memenuhi undangan pemerintah Qatar untuk meresmikan sebuah akademi olahraga. Pele masuk lebih dulu ke dalam ruangan acara di Aspire Zone dengan disambut tepuk tangan penuh kesantunan dari hadirin. Maradona mendapat sambutan meriah bagaikan di tengah acara penobatan sesuatu.
Menurut Montague, warga Qatar berharap Pele akan merepresentasikan sosok lurus yang ‘fairminded professional‘, sementara Maradona berperan tak ubahnya seorang ‘Machiavellian magician‘ yang berharap membengkokkan aturan dan memohon kepada Tuhan untuk berhasil.
Publik tak kecewa. Tanpa tedeng aling-aling, Maradona mengatakan: ‘‘To defend my family I will become Bin Laden. And if that’s what it takes I’ll become the fiercest human being on the planet.’ Dia bersedia menjadi seperti Osama Bin Laden dan menjadi sosok yang kejam untuk membentengi keluarganya.
Lalu ia melirik Pele dan keduanya tertawa. Hadirin ikut tertawa. Lega.
Usai acara, orang mengerubungi Maradona dan berharap untuk bisa berfoto bersama maupun meminta tanda tangannya. Sementara Pele dibiarkan berdiri kesepian. Jelas di mata Montague: Maradona telah berhasil mencuri pertunjukan.
Dalam buku autobiografinya Pele – The Autobiography yang ditulis bersama Orlando Duarte dan Alex Bellios, Pele membantah jika bermusuhan dengan Maradona. “Kami berkawan. Saat dia mengundang saya untuk hadir dalam program televisinya, saya terima dengan suka cita,” katanya.
Akun Facebook jurnalis Fabrizio Romano mengunggah adegan keduanya adu oper bola dengan kepala dalam acara itu dengan keterangan: No words needed. Just thanks, gracias, obrigado. Saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Namun di pengujung acara, mereka saling berpelukan dan tertawa.
Pele menuduh pers mencoba membakar perseteruannya dengan Maradona, dengan selalu mengapungkan pertanyaan: siapa yang terbaik. Di Qatar, Maradona menjawab: ‘Ibu saya mengatakan saya yang terbaik’. Dalam bukunya, Pele menegaskan, pemain sepak bola tidak bisa diperbandingkan satu sama lain. “Tapi fans sepak bola tidak tertarik dengan realitas. Mereka tertarik dengan ‘passion‘,” katanya.
Suatu saat Pele mengundang Maradona untuk mengunjunginya dan menawarkan posisi ‘manajer bermain’ di Santos. Maradona tidak tertarik. Dia hanya ingin bermain menjadi manajer dan pemain di Boca Juniors, klub yang membesarkannya. Akhirnya perusahaan pemasaran olahraga milik Pele mengundangnya melakukan tur di Eropa.
Pele menyebut nama Maradona hanya tiga kali dalam buku Pele – The Autobiography. Sebaliknya, Maradona menyebut nama Pele sebanyak 20 kali dalam buku autobiografinya Yo Soy El Diego. Ada foto keduanya berpelukan. Tidak disebutkan di mana pertemuan itu. Namun keterangan fotonya cukup menohok. Maradona menuduh Pele takut gelar pemain terhebat sejagat dirampasnya. Gelar yang menurut Maradona tak pernah diinginkannya. “The number one, the greatest, is up to the people,” katanya. Urusan predikat terhebat itu apa kata orang.
Namun Maradona tak segan menempatkan Pele di urutan teratas pemain sepak bola favoritnya, dengan komentar pedas. Saya kutipkan komentar itu dari buku autobiografi Yo Soy El Diego yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul Maradona – The Autobiography of Soccer’s Greatest and Most Controversial Star.
Pele, sebagai seorang pemain, dia yang terbaik, tapi tidak menggunakan bakatnya untuk memuliakan sepak bola. Dia berpikir secara politis. Dia pikir dia bisa menjadi presiden dari Brasil. Dan saya tidak percaya bahwa pesepakbola, atau mantan pesepakbola, harus berpikir soal jadi presiden suatu negara. Saya lebih suka dia mengajukan diri memimpin organisasi yang membela hak-hak pemain, seperti yang saya lakukan.
Saya lebih suka dia menjaga Garrincha alih-alih membiarkannya mati dalam keadaan bangkrut. Saya lebih suka dia bertarung melawan tindakan penguasa yang merusak pemain seperti kami.
Saya tidak pernah membandingkan diri saya dengannya. Saya selalu mengulangi itu, dan saya akan katakan lagi di sini. Saya tidak cuma bicara soal sepak bola. Saya punya banyak peluang untuk bertemu dengannya dalam banyak kesempatan. Pertama, pada 1979, saat El Gráfico mengajakku bertemu di Rio de Janeiro dengannya. Kemudian, kami bertemu dalam pertandingan-pertandingan testimonial semacamnya. Terakhir kami bertemu pada 1995, saat kami berpeluang untuk berbisnis bareng.
Kami hanya tidak pernah nyambung, kami selalu berhubungan dengan cara yang keliru, dan kami akan bertemu lagi dan bara (kesalahpahaman) akan terbang.
Tuduhan Maradona soal Garrincha tak sepenuhnya benar. Garrincha adalah rekan satu tim Pele dalam Piala Dunia 1958. Garrincha bangkrut. Pele dan mantan kawan-kawan setimnya di Brasil sudah menawarkan bantuan berupa uang maupun pertandingan amal kepada pemain yang bernama asli Manuel Francisco dos Santos itu. Namun Garrincha selalu menampiknya.
Sikap terhadap politik membedakan Pele dan Maradona. Pele tak terlalu suka politik. Tahun-tahunnya sebagai pemain senantiasa digunakan untuk berkomentar minor terhadap para politisi, yang dinilainya hanya memanfaatkan sepak bola. Namun seorang sosiolog yang kemudian menjadi presiden Brasil bernama Fernando Henrique Cardoso berhasil meyakinkannya untuk menjadi menteri olahraga.
Cardoso menilai Pele adalah figur yang tepat untuk menyelesaikan sejumlah persoalan di Brasil, terutama mengatasi urusan anak putus sekolah. Pele semula menolak. Namun ia memutuskan untuk menerimanya, setelah Cardoso ingin menjadikan olahraga sebagai bagian mendasar dari rencananya untuk memikat anak-anak agar mau bersekolah.
“Setelah bertahun-tahun mengeluhkan urusan politik, sekarang saya menjadi bagian dari sistem,” katanya dalam buku Why Soccer Matters yang ditulis bersama Brian Winter, jurnalis Inggris. Pele menjadi menteri berkulit hitam pertama di Brasil.
Sementara Maradona bersahabat baik dengan Presiden Kuba Fidel Castro, dan pernah mendapat ancaman mati dari Anti-Castro jika berani datang ke Kuba. Dia memuja Che Guevara dan memasang tato wajah pejuang revolusioner asal Argentina itu di lengannya, dan berkomentar vulgar terhadap rezim yang berkuasa di negerinya.
Dalam bukunya, Maradona menyebut Letnan Jenderal Jorge Rafael Videla, yang membunuh 30 ribu jiwa dan memimpin junta militer Argentina, tidak pantas menodai kesuksesan tim nasional negeri itu menjuarai Piala Dunia 1978.
Jika Pele menjadi Menteri Olahraga Brasil, Presiden Carlos Menem menganugerahkan posisi Duta Besar Keliling Argentina Khusus Olahraga kepada Maradona. Jabatan yang dijawab Maradona dengan ucapan: “Thank you. I will represent and defend Argentina . . . on the pitch.” Dia berjanji akan mewakili dan mempertahankan nama baik Argentina di lapangan hijau.
Maradona memenuhi janjinya. Namun takdir tak pernah mempertemukannya dengan Pele dalam sebuah turnamen resmi sepak bola, hingga mereka berdua pergi. Kini kita mengenang mereka dalam nostalgia.
Oryza A. Wirawan, wartawan dan pemerhati sepakbola






