Surabaya (beritajatim.com) – Pelatih Persela Lamongan, Zulkifli Syukur, mengungkapkan kekecewaannya atas insiden kerusuhan yang terjadi di Stadion Tuban Sport Center dalam pertandingan terakhir babak 8 besar Pegadaian Liga 2.
Kerusuhan terjadi akibat kekecewaan suporter yang berujung pada aksi menyalakan flare di tribun stadion, turun ke lapangan, hingga melakukan perusakan fasilitas stadion. Akibat kejadian ini, pertandingan yang semula digelar di Tuban harus diberhentikan oleh wasit Bangkit Sanjaya dan kemudian dilanjutkan di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, pada pagi ini, 19 Februari 2025.
“Sangat disayangkan apa yang dilakukan teman-teman suporter,” ujar Zulkifli Syukur, yang juga merupakan mantan pemain PSM Makassar.
Menurutnya, rasa kecewa adalah hal yang wajar dalam dunia sepak bola, tetapi ada cara lain yang lebih bijak untuk menyalurkan kekecewaan tanpa harus merusak fasilitas atau menciptakan ketegangan di dalam stadion.
Mantan pelatih Tim PON Sulawesi Tengah itu juga menegaskan bahwa sepak bola harus tetap menjadi hiburan yang memberikan kenyamanan bagi semua pihak.
“Kita tahu bahwa seluruh pendukung Persela kecewa dengan hasil yang kita raih, tapi bukan berarti kita harus bertindak anarkis. Tapi kita tahu lah yang dirugikan tim kita sendiri karena merusak fasilitas stadion yang bukan kandang kita,” lanjutnya.
Zulkifli berharap insiden ini bisa menjadi pembelajaran bagi seluruh suporter di Indonesia, khususnya bagi kelompok suporter Persela, La Mania. Jika tindakan anarkis terus terjadi, tim sendiri yang akan dirugikan dengan kemungkinan sanksi dari Komite Disiplin (Komdis) PSSI. [way/suf]






