Lamongan (beritajatim.com) – Keputusan tak biasa terjadi dalam gelaran Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) IX Jawa Timur 2025 cabang Muaythai. Tim Muaythai Kabupaten Lamongan memilih menarik atletnya dari laga semifinal kelas 57 kilogram putra sebelum satu pun pukulan dilayangkan.
Pertarungan yang sedianya mempertemukan Firmansyah asal Lamongan melawan Elijah William Hinzman dari Sampang, digelar di Gedung Islamic Center, Kota Malang, Kamis (3/7/2025). Kedua atlet sudah berada di atas ring dan wasit telah memberi aba-aba dimulainya pertandingan, sementara penonton bersiap menyaksikan duel seru. Namun sesaat kemudian, suasana berubah hening ketika pelatih Muaythai Lamongan tiba-tiba melempar handuk putih ke tengah ring.
Keputusan itu sontak membuat wasit, juri, hingga penonton terkejut. Namun alih-alih kecewa, tim Lamongan justru langsung menyambut Firmansyah dengan tepuk tangan dan sorakan dukungan.
Pelatih Muaythai Lamongan, Indah, menjelaskan bahwa keputusan tersebut sudah direncanakan bersama tim serta pengurus cabang olahraga. “Lawan terlalu kuat, bahkan sebelumnya menang KO di beberapa laga. Kami tak ingin memaksakan. Keselamatan atlet lebih utama, karena masa depannya masih panjang,” kata Indah, Jumat (4/7/2025).
Indah menambahkan, pihaknya sudah berkoordinasi dan meminta izin kepada Pengkab Muaythai Indonesia (MI) Lamongan serta KONI Lamongan sebelum pertandingan digelar. Sikap sportif itu tetap membuahkan hasil, karena Lamongan berhak atas medali perunggu.
“Kalah menang itu biasa dalam olahraga. Tapi yang kami jaga adalah mental dan fisik atlet, supaya bisa terus berkembang,” ujarnya.
Dari informasi yang dihimpun, Elijah Hinzman, lawan Firmansyah, memang bukan sosok sembarangan. Elijah adalah atlet blasteran Indonesia-Thailand, ibunya berasal dari Madiun dan ayahnya dari Thailand. Merujuk akun Instagram pribadinya, Elijah telah melakoni 37 pertandingan profesional di Thailand, mencatatkan 30 kemenangan (23 di antaranya lewat KO), 6 kali seri, dan hanya sekali kalah.
Keputusan tim Lamongan menarik diri demi menghindari risiko serius pada atletnya pun mendapat apresiasi dari berbagai pihak, sebagai wujud menjunjung tinggi sportivitas sekaligus keselamatan dalam olahraga. [fak/beq]






