Surabaya (beritajatim.com) – Pekan ke-10 Super League 2025/2026 menjadi periode berat bagi tim-tim asal Jawa Timur. Dalam laga yang digelar sepanjang 24–26 Oktober 2025, sejumlah klub harus bermain pincang akibat badai kartu merah yang mewarnai hampir seluruh pertandingan mereka.
Tren ini dimulai saat Dewa United kalah 2-0 dari PSIM Yogyakarta. Dalam laga tersebut, Nick Kuipers diusir wasit usai menerima kartu kuning kedua pada menit ke-51, memaksa tim asal Banten itu bermain dengan sepuluh orang.
Nasib tak jauh berbeda dialami Persebaya Surabaya ketika menghadapi PSBS Biak di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Jumat (24/10/2025). Bajul Ijo harus bermain dengan sembilan pemain setelah Leo Lelis dan Mikael Tata dikartu merah. PSBS Biak pun kehilangan satu pemain, Nurhidayat Haji Haris, di menit ke-76. Pertandingan berakhir imbang tanpa gol meski kedua tim tampil agresif hingga peluit akhir.
Kartu merah juga muncul di Kediri. Persik Kediri yang menjamu PSM Makassar harus puas berbagi angka 1-1 setelah Novri Setiawan diusir wasit. Bermain dengan sepuluh pemain membuat Persik lebih fokus menjaga pertahanan untuk mengamankan satu poin di kandang.
Puncak drama terjadi di Stadion Kanjuruhan, Minggu (26/10/2025). Dua pemain Arema FC, Julián Guevara dan Bayu Setiawan, masing-masing menerima kartu merah di babak kedua. Kondisi tersebut dimanfaatkan Borneo FC untuk membalikkan keadaan dan menang 3-1 atas Singo Edan.
Total tujuh kartu merah yang keluar dalam sepekan ini membuat pekan ke-10 Super League layak disebut sebagai pekan “panen kartu merah” bagi klub-klub Jatim. Selain menunjukkan ketatnya persaingan, kondisi ini juga menjadi peringatan bagi pelatih untuk memperkuat aspek disiplin dan pengendalian emosi pemain di lapangan.
Hasil ini turut berdampak pada posisi tim di klasemen sementara. Persebaya dan Arema yang sebelumnya berupaya naik ke papan tengah kini tertahan, sementara Persik masih berjuang menjaga konsistensi performa di kompetisi kasta tertinggi tersebut. [faw/beq]






