Tulungagung (beritajatim.com) – Aliansi Lereng Wilis (ALWI), Ecoton dan gabungan pegiat lingkungan menemukan sebanyak lima penyebab utama pencemaran lokasi wisata Pantai Gerangan Tulungagung.
Hal itu ditemukan saat puluhan pegiat lingkungan melakukan bersih pantai dan brand audit sekaligus melakukan aksi penanaman pohon di sekitar Pantai Gerangan Tulungagung, Minggu (11/2/2024).
Kegiatan ini dilakukan dalam rangka memperingati Hari Lahan Basah Sedunia. Kegiatan ini bertujuan untuk memperbaiki dan melestarikan lingkungan pantai serta mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan alam dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Sebanyak 5 penyebab pencemaran pantai yang paling krusial tersebut merupakan sampah plastik yang sangat sulit terurai. Hasilnya, selain mengotori kondisi pantai juga berpengaruh terhadap rusaknya ekosistem pantai.
Para pegiat lingkungan berhasil mengevakuasi sampah sebanyak 11 karung dengan berat total 130 kilogram. Kemudian, relawan melakukan proses brand audit untuk mengidentifikasi karakteristik sampah dan kemasan merek apa saja yang menjadi pencemar sebagai upaya pertanggung jawaban produsen terhadap sampah yang sudah dihasilkan (Extended Producer Responsibility).
Sebanyak 5 jenis sampah yang mendominasi pada temuan tersebut adalah plastik sekali pakai seperti gelas plastik, saset, styrofoam, sedotan, dan kresek. Berdasarkan audit merek (brand audit) yang dilakukan, mendapati lima produsen yang mendominasi yaitu Wings 16%, Danone 13%, Indofood 11%, Orang Tua 8%, dan Siantar Top 6%. Hasil audit karakteristik sampah menunjukkan kemasan makanan paling mendominasi sebesar 78%.

Sayangnya, dalam aksi ini tidak ada satu pun pihak produsen penghasil sampah tersebut yang terlibat. Aktivis Hukum Lingkungan sekaligus Deputi Eksternal dan Kemitraan Ecoton, Azis, S.H. menyayangkan tidak terlibatnya para produsen itu.
“Sangat disayangkan mereka tidak terlibat. Hal ini menjadi akar permasalahan polusi plastik di Indonesia. Akhirnya biota-biota seperti ikan, udang, penyu, terumbu karang semuanya rusak dan mati akibat plastik yang menjerat,” katanya.
Aziz juga menyebut soal ancaman mikro plastik yang sangat membahayakan ekosistem di pantai. Peran serta produsen, pemerintah, hingga masyarakat sangat dibutuhkan sesuai dengan tanggung jawab masing-masing.
“Bahkan, lebih ancaman mikro plastik semakin nyata yang kemudian bisa mengontaminasi manusia melalui proses rantai makanan sehingga dampaknya bisa menyebabkan kanker maupun gangguan sistem hormonal,” tandasnya.

Selain itu, para pegiat lingkungan juga melakukan penanaman pohon dengan tujuan sebagai upaya pelestarian lingkungan dan menjaga ekosistem bumi utamanya pantai sebagai lahan basah.
Penanaman pohon dilakukan di jalan akses ke Pantai Gerangan meliputi pohon asem Jawa, durian, karet dan kepuh. Pemilihan jenis pohon ini terkait dengan menjaga resapan air, melestarikan ekosistem, dan mengurangi dampak dari perubahan iklim. [ian]






