Jember (beritajatim.com) – Sebanyak 3.364 orangtua dan siswa SMP Katolik Maria Fatima memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (Muri) dengan melantunkan lagu ‘Tanah Airku’ menggunakan alat musik angklung. Event ini berlangsung di Alun-alun Kabupaten Jember, Jawa Timur, Rabu (16/11/2022).
Pemecahan rekor yang diprakarsai SMP Katolik Maria Fatima dan difasilitasi Pemerintah Kabupaten Jember itu bertepatan dengan perayaan Hari Angklung Sedunia. Hari ini, tepat 12 tahun alat musik angklung dinyatakan menjadi barang warisan dunia oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO).
Dipandu seniman Saum Angklung Ujo Bandung, mereka memainkan lagu Ambilkan Bulan Bu karya Abdullah Totong Mahmud, Bunda karya Melly Goeslaw, Laskar Pelangi karya Nidji, dan lagu nasional Tanah Air karya Ibu Soed.
Bupati Hendy Siswanto, Wakil Bupati Firjaun Barlaman, Kepala Kepolisian Resor Jember Ajun Komisaris Besar Hery Purnomo, Komandan Distrik Militer 0824 Letnan Kolonel Infantri Batara C Pangaribuan, dan Ketua DPRD Jember Itqon Syauqi juga antusias mengikuti petunjuk kode tangan dari sang seniman di atas panggung.
“Hari ini luar biasa. Kami kembali hadir di alun-alun Kabupaten Jember untuk mencatat kegiatan spektakuler, yakni bermain angklung berpasangan siswa dan orangtua dengan jumlah terbanyak. Ada 1.682 pasangan atau 3.364 peserta yang hari ini menunjukkan kepiawaiannya dalam bermain angklung,” kata Sri Widayati, representatif Muri.
Menurut Widayati, piagam dan medali penghargaan diberikan kepada Bupati Hendy Siswanto, Sekolah Menengah Pertama Katolik Maria Fatima, dan Perkumpulan Dharma Putri. “Permainan angklung kali ini beda dengan rekor yang sudah-sudah. Kalau yang sudah-sudah misalnya bermain angklung untuk motivasi karyawan, bermain angklung peserta terbanyak. Kali ini pasangan orangtua dan anak, guru juga ikut,” katanya.
“Ini menunjukkan bahwa dengan bermain angklung bisa menumbuhkan rasa persatuan, keharmonisan, ikatan hubungan antara orangtua dan anak,” kata Widayati. Hingga saat ini Jember sudah mencatatkan diri lebih dari 15 rekor di Muri.
Kepala SMP Katolik Maria Fatima Myriam Juniati mengatakan, acara tersebut bertujuan mengakrabkan orantua dan anak. “Kami juga mengajak anak-anak mencintai warisan budaya Indonesia, angklung. Ketiga, syukur-syukur kalau bisa mempengaruhi masyarakat Jember untuk menyukai warisan budaya yang ditetapkan UNESCO pada 16 November,” katanya.
Angklung dipilih karena dinilai mudah dimainkan secara massal. “Tidak usah latihan, tergantung pada kemampuan konduktornya,” kata Juniati.
Kegiatan seperti ini, menurut Juniati, sangat positif bagi anak-anak. “Zaman sekarang zaman maju. Zaman generasi Z. Jadi sebagai sekolah apa yang perlu kita bekalkan (pada anak-anak), terutama terkait dengan kurikulum merdeka. Ada nilai-nilai nasionalisme, kolaborasi, kerja sama, kami masukkan semua, dan mengakrabkan orangtua dan anak. Kita memberikan kenangan selamanya kepada anak-anak supaya anak syukur-syukur bisa berbakti pada orang tua.” kata Juniati. [wir]






