Surabaya (beritajatim.com) – Pada hari Selasa, 27 Juli 2021, DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya mengadakan acara peringatan tragedi kerusuhan 27 Juli 1996 atau Kudatuli.
Acara ini dihadiri oleh para pelaku sejarah gerakan arus bawah PDI Pro Mega atau Promeg, yang kemudian berubah menjadi PDI Perjuangan pada tahun 1999.
Baca Juga: Sekjen PDIP Sebut Andika Perkasa Sangat Terbuka Jadi Cawapres Ganjar
Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya, Adi Sutarwijono, mengatakan bahwa peringatan ini bertujuan untuk merawat ingatan dan kesadaran akan perjuangan PDI Perjuangan di bawah komando Megawati Soekarnoputri. Ia juga mengenang peristiwa Kudatuli sebagai puncak pengambilalihan PDI yang sah dan konstitusional oleh kelompok PDI Soerjadi yang didukung oleh rezim Orde Baru.
“Peristiwa Kudatuli menyulut kerusuhan dengan banyak korban luka-luka dan meninggal dunia, korban hilang dan tidak ditemukan. Kami mendoakan semua korban dan pejuang demokrasi yang telah gugur dan meninggal dunia,” kata Adi, Kamis (27/7/2023).
Acara peringatan diisi dengan doa dari pemuka lintas agama, pemutaran video sejarah, dan refleksi dari Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya Baktiono, yang juga merupakan salah satu pelaku sejarah. Baktiono mengingatkan bahwa tidak ada gerakan reformasi yang menjatuhkan rezim Orde Baru jika tidak ada Kudatuli.
“Tragedi Kudatuli adalah peristiwa kelam anti demokrasi. Tidak ada demokrasi jika tidak ada reformasi,” kata Baktiono.
Baca Juga: Refleksi Kudatuli, Ini Kata Bambang DH
Selain itu, acara peringatan juga memberikan penghargaan kepada beberapa pelaku sejarah yang telah berdedikasi dan berkorban untuk PDI Perjuangan. Diantaranya adalah Pak Solikin, tukang becak yang dipukul aparat hingga jatuh di selokan, dan kakek Mat Dolah, loyalis Megawati.
“PDI Perjuangan didirikan dengan perjuangan hebat oleh kader banteng, yang dipenuhi keringat, darah dan air mata, pengorbanan harta benda dan nyawa. Partai ini tidak sekadar didirikan dengan akta notaris,” kata Adi.
Acara peringatan ini juga dihadiri oleh kader-kader muda milenial dan gen-Z, sehingga terjadi pewarisan sejarah. Adi berharap bahwa PDI Perjuangan akan semakin dicintai rakyat dengan terus turun di masyarakat dan menyelesaikan masalah-masalah rakyat.
“Kesadaran sejarah terus kita rawat dan dedikasikan kepada rakyat. Kami akan terus berjuang untuk memperkuat demokrasi dan kedaulatan rakyat,” kata Adi.[asg/ted]






