Surabaya (beritajatim.com) – Tren tarian viral TikTok menyimpan fenomena komunikasi unik bagi Generasi Alpha. Fakta ini terungkap lewat tesis mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Leni Wijayanti.
“Awalnya saya melihat tarian viral sangat dekat dengan Generasi Alpha. Mereka mengenali lagu dan tren karena sering melihatnya, lalu saya tertarik mengkaji di baliknya,” ujar Leni, Senin (17/8/2026).
Leni meneliti fenomena ini di wilayah aglomerasi Gerbang Kertasusila dengan enam informan pelajar. Hasilnya membuktikan anak-anak mengikuti tren karena humor dan dorongan interaksi pertemanan.
“Kadang mereka mengikuti karena lucu dan teman-temannya juga tahu. Ada pengalaman bersama yang membuat sebuah tarian melampaui batas tontonan media sosial,” jelasnya.
Temuan riset ini mematahkan mitos bahwa budaya brainrot pasti berujung pada kecanduan gawai akut. Transformasi perilaku anak melewati empat fase tanpa menghilangkan fungsi kendali.
“Brainrot di sini bukan berarti anak-anak kehilangan kontrol. Ini lebih kepada bagaimana sesuatu yang terus mereka lihat akhirnya melebur dalam rutinitas sehari-hari,” ungkap Leni.
Pembatasan akses layar dari keluarga terbukti efektif menyaring keterpaparan anak. Riset yang membedah kebiasaan digital ini menuntut Leni membagi fokus antara pekerjaan, keluarga, dan studi.
“Membagi waktu jadi tantangan, ditambah beberapa penyesuaian arah penelitian. Dari proses panjang tersebut saya belajar untuk tetap konsisten serta terbuka pada setiap masukan,” tuturnya.
Dedikasi tersebut mengantarkan Leni meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4,00. Karya ilmiahnya terpilih sebagai riset menarik menyambut wisuda ke-133 Untag Surabaya pada 22 Agustus 2026 mendatang. [ipl/aje]






