Mojokerto (beritajatim.com) – UPT Puskesmas Kedundung dengan menggelar program Pasupati (Peduli Anak Stunting dan Pertumbuhan Balita terintegrasi). Program inovasi yang dirintis sejak tahun 2021 itu digelar untuk mencegah meningkatnya penderita stunting dan tuberkulosis (TBC).
“Kami memiliki inovasi untuk mengintegrasikan upaya penyelesaian stunting dan TBC ke dalam satu program. Jadi biar sekali jalan, sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui,” ujar Kepala UPT Puskesmas Kedundung, drg Heti Nira Purnaningsih, Selasa (19/4/2022).
Mengingat keduanya merupakan persoalan yang memiliki urgensi tinggi di Indonesia. Meskipun angka stunting di Kota Mojokerto paling rendah di Jawa Timur, namun secara nasional masih cukup tinggi. Sehingga Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto tetap konsisten untuk turut berupaya menurunkan angka tersebut.
“Dengan kasus TBC di Indonesia yang terbilang tinggi, yakni nomor tiga setelah India dan China. Jadi ini bukan serta-merta menyelesaikan masalah di daerah tapi ini juga bentuk komitmen mendukung program prioritas nasional. Pelaksanaan Program Pasupati tersebut terdiri dari berbagai rangkaian kegiatan,” katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pemkot-mojokerto”]
Sebelumnya, UPT Puskesmas Kedundung sudah mengadakan roadshow skrining stunting dan TB serta tes Mantoux atau Tuberculin Skin Test (TST) kepada para balita di wilayah kerja UPT Puskesmas Kedundung. Selain skrining, juga diadakan sosialisasi ‘Anak Sehat dan Ceria dengan Gizi Seimbang’ dengan menghadirkan dr Vita Dwi, SpA sebagai narasumber.
“Perjalanan kita masih panjang untuk bisa menuntaskan semuanya. Masih banyak PR yang harus kita kerjakan bersama untuk menyelesaikan masalah ini,” tegasnya. [tin/but]






