Ringkasan Berita:
- DKPP Kota Kediri melaksanakan inspeksi mendadak (sidak) kesehatan hewan kurban di berbagai titik penjualan mulai 18 hingga 26 Mei 2026.
- Pemeriksaan ante mortem dilakukan oleh dua tim khusus guna memastikan seluruh ternak memenuhi standar ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal).
- Petugas menemukan beberapa kasus ternak dengan iritasi mata dan scabies di Kecamatan Pesantren, yang kemudian segera diisolasi untuk mencegah penularan.
- Pihak DKPP memastikan stok hewan kurban di Kota Kediri bebas dari penyakit zoonosis berbahaya seperti antraks, serta terus memantau pencegahan PMK dan LSD melalui vaksinasi rutin.
Kediri (beritajatim.com) – Pemerintah Kota Kediri melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) menggencarkan inspeksi mendadak (sidak) ke berbagai lapak pedagang hewan kurban menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah. Langkah preventif ini dilakukan melalui pemeriksaan kesehatan hewan atau ante mortem yang dijadwalkan berlangsung sejak 18 hingga 26 Mei 2026.
Kepala DKPP Kota Kediri, Un Achmad Nurdin, menjelaskan bahwa cakupan pemeriksaan sangat luas, menyasar seluruh titik penjualan mulai dari lapak dadakan di pinggir jalan, Pasar Hewan Muning, hingga pedagang rumahan. Sebanyak 11 personel dari Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan diterjunkan ke lapangan, terbagi ke dalam dua tim yang bertugas di wilayah Kecamatan Mojoroto, Kecamatan Kota, dan Kecamatan Pesantren.
“Pemeriksaan dilakukan dengan pengamatan dari luar seperti kondisi mata, bulu, hingga memastikan tidak ada cacat tubuh. Tujuannya memastikan ternak yang diperjualbelikan sehat dan bebas penyakit, terutama zoonosis,” jelas Un Achmad Nurdin.
Prioritas utama dari kegiatan ini adalah memastikan seluruh hewan kurban memenuhi kriteria ASUH, yakni aman, sehat, utuh, dan halal. Pada hari ketiga pemeriksaan, Rabu (20/5/2026), petugas sempat menemukan satu ekor ternak dengan penyakit mata dan satu ekor lainnya terindikasi scabies di wilayah timur Kecamatan Pesantren. Menanggapi hal tersebut, pihak DKPP langsung menginstruksikan isolasi ternak untuk memutus rantai penularan.
Staf Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DKPP Kota Kediri, drh. Indra Sukma Putra, menegaskan bahwa secara umum populasi hewan kurban di Kota Kediri dalam kondisi aman dari ancaman penyakit zoonosis yang sangat diwaspadai, seperti antraks.
“Secara keseluruhan aman dari penyakit zoonosis yang sangat dikhawatirkan seperti antraks. Untuk PMK dan LSD juga aman karena vaksinasi rutin terus dilakukan,” terangnya.
Guna menjaga performa ternak, DKPP mengimbau para pedagang untuk disiplin dalam menjaga kebersihan kandang, memberikan nutrisi yang cukup, serta menghindari pemberian pakan hijauan muda yang berisiko memicu diare.
Pengawasan akan berlanjut secara bertahap, meliputi pemeriksaan ante mortem sebelum penyembelihan hingga post mortem setelah penyembelihan. Setiap lapak yang dinyatakan layak akan diberikan label sebagai penanda kesehatan.
Salah satu pedagang ternak di Banjarmlati, Juni, mengakui pentingnya pengawasan ini untuk memastikan kepuasan konsumen. Meskipun terjadi peningkatan permintaan hewan kurban tahun ini dengan kisaran harga Rp2,7 juta hingga Rp4 juta per ekor, ia tetap berkomitmen menjaga kualitas kesehatan ternaknya dengan perawatan intensif dan konsultasi medis rutin.
“Semoga hewan-hewan di sini sehat-sehat semuanya supaya bisa dibuat qurban dan dagingnya bisa aman dikonsumsi,” pungkasnya. [nm/aje]






