Surabaya (beritajatim.com) – Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa kembali menggelar Pasar Murah titik ke-25 di depan Masjid At Taqwa Jemur Wonosari Surabaya, Jl. Jemur Wonosari Gg Lebar No. 150, Kec. Wonocolo Surabaya.
Pasar murah ini merupakan bagian dari langkah konkret yang dilakukan Gubernur Khofifah untuk mengendalikan inflasi dan stabilisasi harga kebutuhan pokok selama bulan Ramadan hingga menjelang Idulfitri.
Lebih lanjut, pasar murah juga menjadi salah satu instrumen intervensi Pemprov Jatim untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah meningkatnya kebutuhan rumah tangga saat hari besar keagamaan.
Khofifah menjelaskan, pelaksanaan pasar murah Pemprov Jatim berjalan beriringan dengan program serupa yang digelar pemerintah kabupaten/kota. Menurut dia, kehadiran pasar murah ini bersifat melengkapi upaya yang sudah dilakukan daerah.
“Ini pasar murah yang ke-25 yang dilakukan oleh Pemprov Jawa Timur. Kita pada dasarnya berseiring dengan apa yang dilakukan kabupaten/kota, jadi sifatnya ini melengkapi,” ujarnya.
Ia juga menegaskan agar lokasi pasar murah dipilih jauh dari pasar tradisional, sehingga tidak mengganggu aktivitas pedagang. Sebaliknya, pasar murah diarahkan mendekat ke kawasan perkampungan agar jangkauannya lebih luas dan memudahkan masyarakat.
“Dan, saya selalu berpesan supaya tempatnya jauh dari pasar tradisional dan mendekatkan jangkauan di perkampungan-perkampungan,” katanya.
Dengan harga yang jauh di bawah harga pasar tradisional, Khofifah berharap pasar murah dapat memberikan penguatan pemenuhan logistik bagi keluarga selama Ramadan. Ia menambahkan, kebutuhan masyarakat dipastikan akan meningkat menjelang Lebaran.
“Kita tahu nanti menjelang Lebaran juga peningkatan pemenuhan kebutuhan juga akan makin tinggi, maka Insya Allah kita akan terus melakukan, tentu berseiring dengan apa yang dilakukan oleh bupati/walikota,” tukasnya.
Berbagai komoditas strategis dijual dengan harga di bawah harga pasar. Antara lain, beras premium dijual Rp14.000 per kg, beras medium Rp11.000 per kg, MinyaKita Rp13.000 per liter, telur ayam ras Rp22.000 per kemasan, tepung terigu Rp10.000 per kg, gula pasir Rp14.000 per kg, bawang putih Rp6.000 per 250 gram, bawang merah Rp7.000 per 250 gram, cabai rawit merah Rp4.000 per 100 gram, cabai merah besar Rp2.000 per 100 gram, serta daging ayam Rp30.000 per kemasan.
Khofifah menjelaskan, selisih harga tersebut cukup signifikan dibandingkan harga di pasar tradisional. Sebagai contoh, harga daging ayam di pasar tradisional berkisar Rp41.000-42.000 per kilogram, sedangkan di pasar murah dijual Rp30.000 per kemasan.
Lebih lanjut, gula pasir yang di pasar tradisional mencapai Rp17.000 per kilogram, di pasar murah dijual Rp14.000 per kilogram. Sementara Minyakita dijual Rp13.000 per liter, lebih rendah dari Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp16.800.
“Kita juga melihat ada dinamika harga di pasar tradisional maka kalau harga ayam di pasar tradisional Rp41.000 per kg sampai Rp42.000 per kg, di sini dijual Rp30.000 per kg. Insya Allah menjadi sangat membantu pemenuhan kebutuhan protein masyarakat, lalu ada gula di pasar tradisional Rp17.000 per kg, di pasar murah Rp14.000 per kg, MinyaKita di pasar murah Rp13.000 per liter, Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp16.800 per liter,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Gubernur Khofifah juga menyerahkan bantuan beras kepada lansia dan membagikan telur kepada ibu-ibu yang membawa anak sebagai bentuk perhatian terhadap pemenuhan gizi keluarga. Ia juga memborong produk makanan, minuman, serta kerajinan pelaku UMKM yang turut dilibatkan dalam kegiatan tersebut sebagai dukungan terhadap ekonomi lokal. (tok/aje)






