Makkah (beritajatim.com) – Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menerapkan sistem digitalisasi terintegrasi untuk memantau distribusi 1,19 juta boks makanan jemaah haji Indonesia secara real-time guna menjamin kualitas gizi dan ketepatan waktu. Transformasi digital pada sektor konsumsi ini menjadi pilar utama dalam menjaga kebugaran jemaah, terutama menjelang fase puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, operasional katering di Makkah kini terpantau melalui pusat data yang presisi. Integrasi ini memudahkan verifikasi layanan dari 51 dapur penyedia yang tersebar di Makkah menuju 177 hotel yang ditempati oleh jemaah dari 527 kelompok terbang (kloter).
Kepala Bidang Konsumsi PPIH Arab Saudi, Indri Hapsari, menegaskan bahwa pembaruan sistem ini dirancang untuk meminimalisir kendala logistik di lapangan.
“Pada tahun ini pengelolaan data konsumsi mulai terintegrasi secara digital, mulai dari pencatatan distribusi, monitoring jumlah porsi, hingga verifikasi layanan,” jelas Indri kepada Tim Media Center Haji (MCH).
Hingga saat ini, tercatat sebanyak 1.193.534 boks makanan telah sukses disalurkan kepada jemaah tanpa hambatan berarti.
Menu Nusantara dan Suntikan Nutrisi Ekstra
Selain penguatan teknologi, standar isi piring jemaah juga menjadi perhatian serius dengan menekankan keseimbangan gizi dan cita rasa Nusantara.
Penggunaan bumbu asli Indonesia memastikan selera makan jemaah tetap terjaga di tengah suhu ekstrem Makkah yang menyentuh angka 40 hingga 42 derajat Celsius.
Untuk memperkuat daya tahan fisik, PPIH menyisipkan tambahan nutrisi pelengkap harian di luar menu utama.
“Penyusunan menu dilakukan dengan memperhatikan keseimbangan gizi, variasi lauk, dan penyesuaian selera jemaah haji Indonesia,” papar Indri.
Jemaah kini secara rutin menerima pasokan susu, buah-buahan segar, dan air mineral tambahan guna mendukung hidrasi tubuh yang optimal selama masa tunggu puncak haji.
Strategi layanan konsumsi saat ini mulai diarahkan sepenuhnya untuk mendukung stamina jemaah di Padang Arafah. Saat jemaah mulai bergerak untuk wukuf pada 25 Mei 2026 (8 Dzulhijjah), mereka akan langsung disambut dengan tiga botol air mineral sebagai langkah antisipasi dehidrasi dini.
Selama masa wukuf di Arafah pada 8 hingga 9 Dzulhijjah, pemerintah menjamin penyediaan maksimal lima kali makan penuh. Sebelum jemaah bergeser ke Muzdalifah pada malam hari, PPIH juga akan mendistribusikan paket bekal energi tambahan.
Layanan logistik akan semakin dipertebal saat jemaah berada di lembah Mina untuk melaksanakan lempar jumrah. Mulai tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah, jemaah akan mendapatkan suplai makanan maksimal sebanyak sepuluh kali. Pasokan makanan yang konsisten ini diharapkan dapat menopang ketahanan fisik jemaah, khususnya lansia dan risiko tinggi, agar tetap bugar menyelesaikan seluruh rangkaian rukun haji hingga tuntas. [ian/MCH]






