Malang (beritajatim.com) – Ada yang ganjil dalam hasrat kita pada dongeng. Kita tahu sepatu kaca itu mustahil, dan pangeran di pesta dansa itu mungkin tak lebih dari ilusi. Namun, kita tetap membutuhkannya. Kita butuh cerita di mana penderitaan, betapapun panjangnya, hanyalah sebuah jeda sebelum kebahagiaan tiba.
Cinderella adalah mitos yang kita peluk untuk menipu realitas yang seringkali buntu. Sebab di dunia yang nyata, kereta kencana jarang datang. Yang ada seringkali adalah debu jalanan, ban truk, dan nasib yang tak tertebus.
Maka, ketika sebuah karya seni menolak memberi kita janji itu, ketika ia menolak memberi kita bahkan sekadar harapan untuk diselamatkan, ia menjadi sebuah catatan penting tentang zaman kita. Ia tak lagi menghibur; ia mengganggu.
Pangku (2025) adalah gangguan itu. Ia adalah cermin retak yang diletakkan di jalur Pantura, di mana tak ada dongeng yang tersisa. Debut sutradara Reza Rahadian lewat film Pangku (2025), menjadi tamparan realisme yang brutal. Jauh dari dongeng dalam film Cinderella (2015) atau film subversif macam Anora (2024), Pangku adalah potret kegetiran kaum hawa di jalur Pantura yang menolak memberi kita impian.
Ada sebuah trope yang dikenal sebagai “Cinderella Complex”, fantasi yang mendarah daging di mana seorang perempuan, yang hidup dalam kemiskinan dan penderitaan, pada akhirnya akan diselamatkan oleh seorang pangeran kaya raya. Ini adalah narasi tentang penyelamatan melalui pernikahan, jalan pintas menuju status sosial dan kebahagiaan abadi.
Sinema modern telah bergulat dengan mitos ini dalam berbagai cara: ada yang memeluknya, ada yang mendekonstruksinya, dan ada pula yang menghancurkannya tanpa ampun. Reza Rahadian dalam Pangku (2025) bagi saya cukup menjadi antitesis terhadap impian romantis tersebut. Film ini tidak datang untuk bernegosiasi dengan fantasi, ia datang untuk membakarnya habis.
Pangku menolak narasi penyelamatan, membedakan dirinya tidak hanya dari dongeng klasik tetapi juga dari karya subversif modern yang paling sinis sekalipun. Untuk memahami di mana Pangku berdiri, kita harus terlebih dahulu melihat dua pilar yang dikontraskannya, fantasi murni dan dekonstruksi brutal.
Lebih dari itu, Pangku seolah mengajak kita untuk kembali pada realisme sosial. Di mana alur hidup tak pernah statis. Berjalan dengan ritme yang tak pernah bisa ditebak.
Fantasi Murni Cinderella
Pilar pertama adalah arketipe itu sendiri, film Cinderella (2015) yang diambil dari kisah legenda Cinderella. Cerita ini berpusat pada gadis miskin yang saleh, menderita di bawah kekuasaan ibu tiri yang antagonis. Kebaikan hatinya yang pasif adalah satu-satunya agensinya. Dia tidak melawan, dia hanya bertahan.
Cerita ini menampilkan sebuah rekayasa imajinatif yang tampaknya susah terjadi di dunia nyata: seorang perempuan miskin dilamar oleh seorang pria kaya raya dari kerajaan, dengan akhir yang happy ending, mereka menikah. Dongeng ini, barangkali, adalah candu yang paling manis, sebuah janji bahwa penderitaan yang ditanggung dengan sabar akan berbuah keajaiban. Penyelamatan datang dari luar, dalam bentuk sepatu kaca, Cinderella lantas mendapat validasi seorang pangeran.
Melihat Dekonstruksi Brutal Anora (2024)
Di sisi lain spektrum, kita memiliki karya sinematik seperti Anora (2024). Jika Cinderella adalah fantasi, Anora adalah dekonstruksinya. Film karya Sean Baker yang memenangkan Palme d’Or ini adalah kombinasi luar biasa antara komedi, drama sosial, dan romansa yang kacau.
Anora mengeksplorasi kehidupan Ani (Mikey Madison), seorang pekerja seks asal Brooklyn, yang mendapati hidupnya berubah drastis setelah pernikahan kilat dengan Ivan, anak seorang oligarki Rusia. Ani mendapatkan pangerannya. Dia berhasil keluar dari kemiskinan dan masuk ke dalam kemewahan. Momen Cinderellanya tercapai di babak pertama.
Namun, Sean Baker tidak tertarik pada hidup bahagia selamanya. Sebab, tema utama Anora adalah perjuangan kelas sosial dan eksploitasi. Film ini membawa perhatian pada sisi lain dari kehidupan perkotaan Amerika, dengan menyoroti mereka yang hidup di pinggiran masyarakat.
Alih-alih diselamatkan, Ani justru masuk ke medan perang yang baru. Pernikahannya bukan akhir dari masalah, tapi awal dari mimpi buruk yang lebih besar. Dia harus berhadapan dengan mertua oligarki yang mengirim preman untuk membatalkan pernikahan itu.
Anora menggambarkan kekuatan Ani untuk bertahan di dunia yang keras dengan humor, keberanian, dan kerentanan, menciptakan narasi yang menyentuh sekaligus penuh energi. Di balik humornya, Anora menyampaikan pesan kuat tentang daya tahan manusia dan keberanian untuk melawan ketidakadilan. Ani menjadi simbol perjuangan untuk mempertahankan integritas dan martabat di tengah tekanan eksternal yang luar biasa.
Film Anora telah berhasil menggabungkan elemen klasik dan modern. Sean Baker membuktikan kemampuannya dalam menciptakan cerita yang emosional, relevan, dan menghibur. Anora mengatakan bahwa Cinderella complex itu nyata, tetapi happily ever after hanyalah sebuah ilusi yang harus diperjuangkan dengan darah dan air mata.
Pangku (2025) dan Realitas Tanpa Penebusan
Lalu, di mana posisi Pangku (2025)? Film ini menyajikan kisah yang sama sekali berbeda dari keduanya. Ia tidak merayakan fantasi seperti Cinderella, juga tidak mendekonstruksinya dengan energi thriller komedi seperti Anora. Pangku hadir sebagai antitesis total. Ia menatap Cinderella complex tepat di matanya dan tertawa getir, karena bagi para karakternya, fantasi itu menjadi kemewahan yang bahkan tak pernah terpikirkan.
Film ini berangkat dari premis yang sama: seorang perempuan miskin, Sartika Puspita (diperankan dengan rapuh oleh Claresta Taufan), yang sedang mencari kerja. Namun, takdirnya jauh dari istana atau apartemen mewah seorang oligarki. Lokasinya saja sudah menjadi pernyataan, jalur panas Pantai Utara Jawa, Pantura. Di tengah latar waktu krisis moneter 1998 yang mencekik, ia lalu mendapat pekerjaan secara dramatis, bukan sebagai pelayan yang akan ditemukan pangeran, tapi sebagai seorang pangku, wanita penghibur di warung kopi remang-remang.
Di sinilah Reza Rahadian, dalam debut penyutradaraannya berupaya menghancurkan ekspektasi. Pangku memanusiakan mereka yang terjebak dalam fenomena kopi pangku. Bersama rumah produksi Gambar Gerak, Reza meramu film drama yang mengkontraskan kegetiran dan rumitnya bertahan hidup di remang-remang Pantura. Dulu, misalnya, Wiji Thukul memvisualisasikan fenomena serupa lewat puisi Malam di Kota Khatulistiwa, hari ini Reza Rahadian merekamnya dalam film Pangku dengan pendekatan yang begitu humanis dan mudah dicerna.
Dibintangi oleh Fedi Nuril, Claresta Taufan, Christine Hakim, hingga aktor cilik Shakeel Fauzi, Pangku merekam aneka dimensi manusia yang terjebak fenomena warung kopi pangku di kawasan Pantura Indramayu, Jawa Barat. Reza mengaku sudah memendam premis tentang isu sosial dan ekonomi itu sejak tujuh tahun terakhir.
Dalam pemutaran khusus dan diskusi filmnya di Kemang, Jakarta Selatan (16/10/2025), Reza berkisah bahwa Pangku berawal dari pengalamannya melihat sendiri fenomena itu setelah selesai syuting sebuah film pada 2018.
“Kita enggak turun (dan mampir), hanya melewati saja. Dulu mereka persis di pinggir jalan Panturanya, terus mereka digusur-gusur. Mereka nomaden sebetulnya. Terus saya kepikiran kalau bikin film, saya mau di sini lokasinya dan mengangkat isu dan fenomena ini karena secara latar belakang menarik dan jarang ada di film Indonesia juga,” tutur Reza dalam diskusi itu.
Meski memotret kehidupan keras di Pantura, Reza, yang juga bertindak sebagai penulis skenario bersama Felix K. Nesi, tak ingin menonjolkan apalagi menjual aspek kemiskinan dan penderitaan. Pangku menghadirkan pendekatan realis yang jujur apa adanya tentang kehidupan para sopir di pelelangan ikan, para buruh tani di persawahan, hingga pemilik dan pelayan warung kopi.
Pangku tidak hanya membahas perjuangan seorang perempuan membesarkan anaknya secara tunggal, tetapi juga isu gender dan ekonomi berbasis gender, tradisi seni budaya dan kuliner, sosio kultural masyarakat pesisir dan marjinal, sampai masalah ketimpangan.
Di sinilah letak perbedaan fundamentalnya. Alih-alih menemukan pangeran, tokoh utama Pangku, Sartika, justru menemukan realitas yang lebih brutal. Film ini tidak menawarkan jalan pintas romantis. Jika Anora adalah tentang perjuangan melawan eksploitasi dalam kekayaan, maka Pangku adalah tentang penerimaan nasib dalam lingkaran setan kemiskinan.
Fedi Nuril, yang memerankan tokoh Hadi si sopir pick up pelelangan ikan, melakukan riset mendalam. Bahkan dalam sebuah pengakuan, ia menyebut truk (mobil pick up) yang dipakainya sampai dibawa ke rumah selama tiga hari.
“Keliling-keliling pakai itu. Di Indramayu, satu hari saya observasi bagaimana keseharian orang-orang di situ lalu saya terapkan ke karakter saya,” ujar Fedi dalam kesempatan yang sama.
Pangku juga menghadirkan karakternya yang berlapis-lapis dimensi dengan perspektif humanis. Tentang para wanita yang sering dicap negatif itu sejatinya juga manusia yang harus bertahan hidup dengan pilihan mencari nafkah terbatas. Tokoh Sartika Puspita tak lain adalah personifikasi dari banyak perempuan kebanyakan ibu tunggal yang terjebak dalam fenomena itu.
Pemeran Sartika Puspita, Claresta Taufan, menimpali, “Di Pantura saya ngobrol langsung dengan mereka yang profesinya sama dengan Sartika dan juga ibu (pemilik) warung supaya bisa engage. Saya bisa lebih mengerti perspektif kehidupan di Pantura dari mereka langsung. Mereka tahu (hidup mereka) itu tidak mudah tapi mereka tidak mengeluh, tidak menyalahkan keadaan, tidak menyalahkan orang lain. Mereka perempuan yang bisa diambil sisi positifnya soal bertahan hidup.”
Dan klimaks film ini? Jauh dari happy ending. Endingnya menampilkan sesuatu yang gontai, rapuh, dan lelah. Ini semacam potret murni nasib perjuangan seorang ibu yang berkali-kali disakiti semesta. Setelah memiliki anak pertama (diperankan Shakeel Fauzi) tanpa bapak, Sartika kemudian bertemu seorang suami Hadi (Fedi Nuril) yang ia harap bisa menjadi sandaran. Harapan itu muncul. Mungkin ini pangerannya? Mungkin ini jalan keluarnya?
Tidak. Takdir berkata lain. Terungkap bahwa si pria bajingan ini telah memiliki istri sah. Ironisnya, Sartika kini tengah hamil anak kedua darinya. Seens itu ditutup bukan dengan pernikahan di istana, melainkan dengan adegan di mana sang suami baru pergi bersamanya sang istri sah.
Ia dibiarkan seorang diri, kini dengan dua anak, kembali ke titik nol, atau bahkan lebih buruk. Reza Rahadian tidak memberi kita pahlawan wanita yang berani melawan sistem seperti Ani di Anora, apalagi seorang putri yang diselamatkan seperti Cinderella. Pangku menyajikan kita seorang perempuan yang kalah, yang satu-satunya perjuangan adalah untuk tetap bernapas esok hari karena memiliki dua orang anak.
Capaian Artistik dan Bahasa Sinema
Peribahasa a picture is worth a thousand words jadi gambaran paling tepat dalam menggambarkan Pangku. Hanya dalam kurang dari dua jam (1 jam 40 menit), Reza membuktikan dirinya bukan hanya sebagai prodigy actor, tetapi juga sebagai sutradara baru dengan potensi yang begitu cemerlang.
Istilah ‘lagi-lagi’ Reza Rahadian akan sulit hilang, karena ia mampu mengarahkan dan menulis film dengan standar yang kurang lebih sama dengan aktingnya. Pangku terinspirasi dari pengalaman pribadi Reza menemukan tradisi kopi pangku dan sebagai anak laki-laki yang dibesarkan oleh ibu tunggal.
Film ini lebih dari sekadar surat cinta Reza untuk ibunya. Felix K. Nesi dan Reza membuktikan riset mendalam adalah kunci cerita yang baik. Bila dibandingkan dengan produk jurnalistik, Pangku adalah laporan mendalam yang menyelam hingga ke akar permasalahan, dengan penulisan yang mengalir. Namun dengan bobot yang layak menjadi bahan studi akademis, Pangku tidak tampil sebagai film festival yang membosankan. Reza dan Felix tidak menulis dengan banyak dialog diktat. Semua tersaji dalam bentuk komunikasi nonverbal.
Reza banyak menggunakan medium dan close-up shoot, menuntut pemain menampilkan karakter lewat ekspresi tubuh. Hal ini didukung oleh latar set dan tata rias yang realistis. Ini sebabnya Reza bisa membawa pesan begitu banyak dengan dialog yang sangat sedikit tapi efektif.
Ramuan drama, humor ringan, dan twist membuat Pangku bisa menjadi film dengan berbagai rasa: dokumenter sosial, drama keluarga, bahkan sedikit telenovela.
Percakapan minimalis ini memang menjadi tantangan. Ada beberapa bagian yang mengecoh, meski kemudian terjawab. Bagi penonton dengan sumbu sabar yang pendek, ini mungkin membuat geregetan. Namun, semuanya terbayar apik.
Reza berhasil mengucurkan kantung air mata penonton dengan penutup yang memuaskan, lengkap dengan pilihan musik pengiring dari Iwan Fals. Tak perlu dipertanyakan bagaimana penampilan para pemain. Mereka berhasil memangku karakter mereka dengan sempurna, Christine Hakim, Fedi Nuril, Claresta Taufan, si kecil Shakeel Fauzi, dan bahkan Reza Chandika.
Standar tinggi itu juga terlihat dari sinematografi (Gay Hian Teoh) dan music scoring (Ricky Lionardi). Komposisi gambarnya tidak berlebihan tetapi apik. Tidak banyak filter gegayaan tetapi tetap estetik.
Dari Pantura Menggema ke Busan
Tawaran berbeda ini membuat Pangku mendapat apresiasi internasional. Film ini menang empat penghargaan pasca-penayangan world premiere di Busan International Film Festival (BIFF) ke-30 pada 20 September 2025. Pasalnya, meski mengangkat fenomena lokal, esensinya begitu universal.
“Dari yang kami ambil pelajarannya di Busan ternyata cerita lokal ini juga universal. Apalagi ketika bicara peran dan sosok ibu. Easy resonate, bisa nyambung dan (audiens mancanegara) bisa ikut berempati,” ungkap produser Gita Fara.
Hal serupa diungkapkan Reza. Terlebih di Korea Selatan ada tradisi kisaeng, perempuan dari kelas rendahan yang dilatih untuk jadi penghibur sejak era Goryeo.
“Jadi ada tradisi berbeda tapi mereka punya (profesi perempuan) dengan service yang mirip di Korea. Mungkin itu yang buat mereka mudah untuk relate. Mereka juga merasa enggak tahu budaya kopi pangku tapi mereka juga bisa melihat perspektif lain yang menurut mereka itu adalah pengalaman sinema yang terlewatkan tentang film Indonesia,” sambung Reza.
Jejak Sejarah ‘Kopi Pangku’
Pangku juga berhasil karena menjejak pada fenomena sosial yang nyata. Fenomena ini sudah lama eksis. Aktivis cum penyair Wiji Thukul memvisualisasikannya dalam puisi Malam di Kota Khatulistiwa (28 Desember 1996), menggambarkan kehidupan malam di sekitaran Sungai Kapuas yang bercampur prostitusi.
Di lain daerah ada yang menyebut kopi senang, dakocan (dagang kopi cantik), atau kopi pangkon.
Eko Setiawan dalam artikelnya di Jurnal Habitus (2022) mengungkap kopi pangku mulanya muncul di Gresik, Jawa Timur, kota penghasil legen (air nira) yang difermentasi menjadi tuak. Minuman ini lazim dijual di warung kopi dengan pelayan cantik sebagai daya tarik.
Booming dangdut koplo pada 1980-an dan 1990-an turut mempopulerkan warung kopi pangku di Pantura, di mana pelanggan menikmati kopi sambil memangku pelayan Wanita diiringi irama dangdut.
Realisme Kelam yang Menetapkan Standar Baru
Pangku, bagi saya, sukses menyajikan realisme kelam yang menampar penonton. Film yang terasa nyata, dekat, dan layak dianggap sebagai representasi. Jika Cinderella menjadi fantasi murni tentang penyelamatan pasif, dan Anora adalah dekonstruksi sinis tentang perjuangan aktif pasca-penyelamatan, maka Pangku adalah antitesis total.
Ini adalah film tentang dunia di mana Cinderella Complex adalah sebuah kemewahan tak terjangkau, yang justru bertransformasi menjadi imaji usang. Di dunia “Pangku”, tak ada ksatria, tak ada pangeran, dan tak ada sepatu kaca. Yang ada hanyalah jalur Pantura yang berdebu, dan nasib seorang ibu yang gontai, berkali-kali disakiti semesta, namun harus terus melangkah.
Reza Rahadian sudah menetapkan standar yang cukup tinggi untuk film Indonesia modern. Kita hanya bisa berharap, jangan sampai Indonesia harus menghabiskan berdekade lagi hanya untuk menunggu Pangku berikutnya hadir. Mungkinkah? [dan/beq]






