Pertandingan pekan ke-15 Liga 1 2023-24 melawan Persib Bandung di Gelora Bung Tomo, Surabaya, berakhir dengan kekalahan 2-3 bagi Persebaya, Sabtu (7/10/2023). Namun pertandingan itu tak akan dikenang karena skornya, melainkan karena empat ‘Brazilian’ beda nasib. Pertandingan itu adalah panggung bagi mereka.
Panggung pertama direbut Ciro Alves pada menit 3, setelah berhasil melepaskan diri dari kawalan Kadek Raditya dan meneroboskan bola di sela selangkangan kiper Persebaya Ernando Ari. Pemain berusia 34 tahun kelahiran Salgueiro, Brasil, itu membuktikan kepantasannya dulu memperkuat tim Brasil U20. Pemain sayap kanan itu sudah mencetak enam gol.
Berselang tujuh menit, giliran pemain Brasil milik Persebaya, Bruno Moreira, mencetak gol khasnya dengan melesakkan bola melengkung ke gawang Persib yang dijaga Tedjo Paku Alam. Moreira dijuluki ‘Si Anak Baik’ karena bukan tipe bad boy dan akrab dengan suporter.
Dia membuat Bonek jatuh cinta, gara-gara membeli jersey Persebaya untuk seluruh anggota keluarganya di Brasil, sebelum terbang ke Yunani. Dengan usia 24 tahun, ia menjadi idola Bonek. Tak hanya karena kecakapannya menari-nari di lapangan dengan bola di kaki, tapi juga karena kecakepannya yang membuat suporter perempuan bahagia.
Musim ini, Bruno sudah berhasil membuat delapan gol dan dua assist dalam 14 pertandingan. Ini musim kedua Bruno di Persebaya. Sebelumnya, pada musim 2021-22, ia mencetak tujuh gol dan tiga assist dalam 29 pertandingan. Jelas ia semakin membaik.
Persebaya memang sepertinya tercipta untuk Bruno. Orang Jawa bilang, rezekinya ada di Surabaya. Saat memperkuat Envigado FC di Liga Kolombia, dalam 18 pertandingan, ia hanya mencetak 1 gol dan 1 assist. Begitu pula saat ,memperkuat Chungnam Asan, klub level kedua Korea Selatan, ia hanya bisa dua gol dalam 15 pertandingan.
Performa terparah adalah saat memperkuat Niki Volou, klub kasta kedua Yunani. Dalam 10 pertandingan yang dilakoninya, ia gagal mencetak gol sama sekali. Begitu pula saat memperkuat Ansan Greeners, klub kasta kedua liga Korea Selatan. Hanya dimainkan enam kali, dia mencetak dua gol saja.
Semua pelatih Persebaya, sejak Aji Santoso hingga Josep Gombau, memposisikan Bruno di sayap kiri sebagai inverted winger. Alaminya, pemain sayap cenderung bergerak melebar. Namun dengan pemain yang bukan kidal, inverted winger menawarkan opsi lebih banyak.’
Michael Cox dalam buku The Mixer: The Story of Premier League Tactics, from Route One to False Nines yang terbit pada 2017 menyebutkan, pemain sayap dengan posisi dan kaki andalan yang berbeda bisa melakukan gerakan menusuk ke dalam dan memenuhi lini tengah. “Mereka bisa memainkan bola terobosan dengan kaki terkuat dan yang jelas mereka bisa melontarkan tembakan ke arah gawang,” katanya.
“This was particularly crucial. Since strikers were expected to do more than simply score goals, that burden needed to be shared around, and wingers had a big responsibility to get onto the scoresheet. The debate was essentially ‘crossing versus through-balls and shooting’, and the latter roles were considered more important in the modern game,” tulis Cox.
Bruno mempertebal keunggulan Persebaya 2-1 di babak pertama melalui titik putih penalti pada menit 32. Kesalahan Tejo menghantam wajah Sho Yamamoto tanpa bola memang selayaknya dihukum. Dan urusan penalti ini menjadi panggung yang berbeda bagi Bruno dan rekannya sesama pemain Brasil yang berposisi striker, Paulo Victor.
Paceklik gol sejak awal musim, membuat Victor berharap bisa membuka pundi-pundi golnya melalui tendangan 12 pas. Ia percaya diri bisa melesakkan bola ke gawang Tejo. Satu gol, kendati lewat titik putih penalti, bakal menaikkan kepercayaan dirinya di tengah kasak-kusuk soal nasibnya di Persebaya.
Namun rupanya Gombau lebih mempercayakan bola kepada Bruno. Bruno membayar kepercayaan tersebut dengan mencetak gol keduanya dalam pertandingan sore itu dan membuat 21.107 orang penonton bersorak.
Meledaklah amarah Victor yang sudah berharap mendapat durian runtuh. Sho yang kena bogem Tedjo, dia yang jadi pahlawan pencetak gol. Skenario sempurna, sampai Gombau menentukan lain.
“Victor meminta untuk menjadi eksekutor tendangan penalti, tetapi saya menolak dan memilih untuk menggantinya dengan Bruno yang melaksanakan tugas itu. Itu adalah keputusan saya, dan itulah sebabnya dia marah,” ungkap Gombau, usai petandingan.
Ketidakpercayaan Gombau terhadap Victor sudah cukup menunjukkan nasib pemain bernomor punggung 9 itu di Persebaya. Sebagai ujung tombak, Victor memang sangat tumpul. Hanya satu gol dalam 15 pekan Liga 1.
Victor semakin dilupakan Bonek, setelah pertandingan babak kedua menjadi panggung untuk David da Silva. Ujung tombak Persib berkepala gundul itu pernah memperkuat Persebaya dan mencetak dua gol ke gawang mantan klubnya pada menit 52 dan 70.
Gesture David saat mencetak gol pun membuat Bonek respek. Bukannya merayakan berlebihan, ia justru menangkupkan dua telapak tangan ke mukanya, menandakan permintaan maaf. Usai pertandingan, Da Silva disambut baik oleh para suporter Surabaya layaknya teman yang lama tak bersua.
Dhion Prasetya, anggota Bonek Writers Forum dan penulis buku ‘Persebaya and Them’, mengatakan, sejak Liga Indonesia bergulir pada 1994-95 hingga saat ini, sudah ada 31 pemain asal Brasil yang memperkuat Persebaya. Terbanyak dibandingkan pemain asing dari negara lain yang bermain untuk klub ini.
“Persebaya cocok dengan kultur dan style permainan pemain Brasil. Entah kenapa kok cocok dengan cara bermain Brazilian,” kata Dhion.
Dari 31 pemain itu, tidak semua bersinar. Dua pemain terbaik Brasil yang bermain untuk Persebaya adalah Jacksen Tiago dan Danilo Fernando. Jacksen pemain asing tersubur Persebaya hingga saat ini dengan 42 gol yang mwndaratkan trofi Liga Indonesia 1996-97. Jacksen juga mendaratkan trofi Liga Indonesia 2004 di Surabaya sebagai pelatih.
Salah satu pemain andalan Jacksen pada 2004 adalah gelandang serang asal Brasil, Danilo Fernando. “Ini pemain Brasil terbaik lainnya yang bermain di Surabaya. Perrmainannya mobile dan enak dilihat,” kata Dhion.
Kendati hanya mencetak satu gol musim ini, Victor bukan pemain terburuk asal Brasil yang pernah bermain dengan jersey hijau Persebaya. “Adinaldo Souza adalah yang terburuk. Posisinya stopper dan bermain pada paruh musim kedua 2007,” kata Dhion.
Menatap putaran kedua, manajemen Persebaya harus melakukan perombakan pemain. Sho Yamamoto, pemain asal Jepang itu, memilih mengundurkan diri karena tak merasa cocok dengan pola permainan yang diterapkan Gombau. Perginya Victor dan Ferdinand Sinaga akan membuat lini depan Persebaya kekurangan pemain.
Tak tertutup kemungkinan Persebaya akan mendatangkan pemain Brasil lagi. Namun Dhion mewanti-wanti agar manajemen bisa memilih dan memilah. “Jangan sampai beli kucing dalam karung. Manajemen harus cermat dan teliti. Belum tentu ada rupa, ada harga. Semua harus disesuaikan kebutuhan tim yang diinginkan Gombau,” katanya.
Gombau sendiri tak hanya dibebani pekerjaan rumah mencari ujung tombak yang tajam dan sayap kanan yang trengginas menggantikan Sho. Lebih dari itu, ia harus mencari solusi atas gembosnya stamina para pemainnya di babak kedua karena memainkan pressing football berintensitas tinggi. Stamina para pemain Persebaya terlihat tak cukup untuk diajak memainkan filosofi Gombau Ball. [wir]






