Pada perhelatan Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2024, posisi politik Jawa Timur (Jatim) sebagai palagan yang menentukan makin tampak nyata. Koalisi Perubahan untuk Persatuan yang didorong Partai NasDem, PKS, dan PKB telah memutuskan capres-cawapres Anies Rasyid Baswedan dan Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin) sebagai kandidat yang diusungnya.
Kemungkinan besar PDIP dan partai koalisinya, PPP, Partai Hanura, dan Partai Perindo juga bakal memilih figur yang punya ikatan kultural, historis, psikologis, sosiologis, dan politik dengan Jatim sebagai kandidat kuat wapres yang diusung. Nama Prof Dr Mahfud MD, politikus dan akademisi dari Pulau Madura, sebagai kandidat kuat cawapres yang ditandemkan dengan capres Ganjar Pranowo. Sementara Sandiaga S Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, adalah figur lain yang berpotensi dipasangan pula dengan Ganjar.
Mana yang dipilih? PDIP dan partai koalisinya yang bakal menentukan. Tak lama lagi cawapres pasangan Ganjar itu segera diputuskan, mengingat pendaftaran capres-cawapres oleh KPU dibuka pada 19 Oktober 2023 mendatang.
Selain itu, nama Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jatim dan Ketua Umum PP Muslimat NU, juga berpotensi masuk bursa Pilpres 2024. Politikus berlatar belakang NU yang pernah menjabat sebagai Menteri Sosial ini berpotensi disandingkan dengan Ganjar Pranowo atau Letjen (Purn) TNI Prabowo Subianto, capres dari Partai Gerindra, Partai Golkar, PAN, dan Partai Demokrat. Sekali pun demikian, tampaknya Khofifah lebih memilih melanjutkan kiprah politiknya di Jatim sebagai orang pertama di provinsi berpenduduk 40 juta jiwa lebih ini.
Perebutan suara pemilih NU tetap menjadi determinan penting Pilpres 2024. Realitas tersebut selalu terjadi di perhelatan kontestasi politik nasional pasca-reformasi 1998. Ceruk politik pemilih NU memang besar. Di Jatim, misalnya, dari jumlah pemilih sebanyak 31 juta lebih, mayoritas adalah pemilih NU. Mereka tersebar di sejumlah kawasan kebudayaan di provinsi ini, seperti di Madura Kepulauan, Pendalungan, Arek, dan Mataraman Wetan seperti di Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Tuban.
BACA JUGA:
Palagan di Ujung Timur Pulau Jawa (1)
Volume pemilih Nahdliyyin (NU) yang terkonsentrasi di sejumlah wilayah atau kawasan di Jatim memudahkan langkah konsolidasi, penggalangan, pendekatan, dan persuasi kepada pemilih oleh partai dan capres-cawapres.
Proses penggalangan politik itu berpeluang memperoleh simpati, empati, dan dukungan pemilih ketika ada titik persamaan atau kesesuaian antara figur capres-cawapres yang diusung dengan karakter original bersifat sosiologis, kultural, ideologis, aliran teologis, dan politik dengan mayoritas pemilih di satu kawasan. Misalnya, figur Muhaimin Iskandar, Mahfud MD, dan Khofifah Indar Parawansa memiliki relasi multiperspektif dengan mayoritas pemilih berlatar religius (Baca: Islam Tradisional/NU) di Jatim.
Jatim menjadi palagan kunci bagi semua pasangan capres-cawapres yang bertarung di Pilpres 2024. Dua provinsi lainnya di Pulau Jawa dengan jumlah pemilih besar: Jawa Tengah (Jateng) dan Jawa Barat (Jabar), dikenal sebagai kawasan politik yang, secara tradisional, telah menjadi captive market politik partai dan atau figur capres tertentu.
Wilayah politik Jateng dikenal sebagai kawasan tradisional dan loyal pemilih Nasionalis Soekarnoisme. PDIP selalu menang di Pemilihan Umum Legislatif (Piles) sepanjang orde Reformasi. Dari dua kali Pilpres pada 2014 dan 2019, duet Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) di 2014 dan Jokowi-Ma’ruf Amin di 2019 menang telak di Jateng.
Di sisi lain, wilayah Jabar yang dimenangkan Partai Masyumi pada Pemilu 1955, di era Reformasi menjadi tlatah politik yang memberikan insentif elektoral begitu besar kepada Prabowo Subianto dalam dua kali pilpres terakhir (2014 dan 2019).
Sekali pun secara nasional Prabowo tak mampu mewujudkan ekspektasi politiknya merebut kursi RI-1 pada Pilpres 2014 dan 2019, pundi-pundi suara yang diraih Prabowo-Hatta Rajasa (2014) dan Prabowo-Sandiaga S Uno (2019) lebih tinggi dibanding Jokowi-JK dan Jokowi-Ma’ruf di daerah pemilihan Jabar.
BACA JUGA:
Palagan di Ujung Timur Pulau Jawa (2)
Mengutip data Lembaga Pusat Kajian Politik (Puskapol) Universitas Indonesia (UI) Jakarta, pada Pilpres 2019, duet Prabowo-Sandi merebut 59,93 persen suara, sedang Jokowi-Ma’ruf dengan 40,07 persen. Di daerah pemilihan Jateng pada Pilpres 2019, duet Jokowi-Ma’ruf unggul dengan 77,29 persen dibanding Prabowo-Sandi dengan 22,71 persen.
Fenomena politik serupa juga terjadi pada Pilpres 2014, di mana daerah pemilihan Jabar, pasangan Prabowo-Hatta merebut 59,78 persen dan Jokowi-JK dengan 40,22 persen. Sedang di dapil Jateng, ganti pasangan Jokowi-JK yang unggul dengan 66,65 persen suara dan Prabowo-Hatta dengan 33,35 persen suara.

Sehingga jika merujuk pada data hasil Pilpres 2014 dan 2019 di Jabar dan Jateng, kedua provinsi itu menjadi basis ceruk suara bagi Prabowo (Partai Gerindra) dan Jokowi (PDIP). Fenomena politik serupa kemungkinan besar bakal terjadi, kendati di Pilpres 2024 nanti figur yang diusung PDIP adalah Ganjar Pranowo (mantan Gubernur Jateng dua periode).
Dibutuhkan energi politik, ekonomi, dan jejaring yang besar dan kuat bagi Prabowo untuk bisa menambah pundi-pundi suara di Jateng pada Pilpres 2024. Demikian pula sebaliknya, bagi Ganjar Pranowo dan PDIP, tak mudah menambah suara mereka di dapil Jabar: wilayah politik yang selama dua kali pilpres terakhir menjadi lumbung suara Prabowo.
Karena itu, menjadi sangat logis kalau kemudian pilihannya jatuh kepada Jatim: tlatah politik, di mana kekuatan komunitas Islam Tradisional (NU), Nasionalis Soekarnoisme (PDIP), Nasionalis Religius (Partai Demokrat), Karya-Kekaryaan (Partai Golkar), Islam Modernis (PAN, PKS, dan PPP dari sayap faksi Muslimin Indonesia/MI) mendapat tempat dan mampu merebut ceruk suara, dengan proporsi raihan berbeda-beda.
PKB dan PDIP adalah dua partai terbesar di Jatim dengan perbedaan raihan suara dukungan yang tak bersifat ekstrem. Uniknya, secara geografi-politik, basis pendukung tradisional kedua partai ini berada di kawasan kebudayaan (tlatah) berbeda. PKB kuat di Pendalungan dan Madura Kepulauan, sedang PDIP berbasis massa tradisional yang loyal di kawasan Mataraman dan Arek.
Pada Pilpres 2019, duet Jokowi-Ma’ruf Amin adalah representasi kekuatan komunitas politik Nasionalis Soekarnoisme (PDIP) dan Islam Tradisional (NU/PKB). Kalau kita buka data hasil Pilpres 2019 di 38 kabupaten/kota di Jatim, Jokowi-Ma’ruf merebut 65,7 persen suara dan menang di 32 kabupaten/kota, sedang Prabowo-Sandi dengan 34,3 persen suara dan menang di enam kabupaten/kota.
Keenam kabupaten/kota di Jatim yang dimenangkan Prabowo-Sandi yaitu: Pacitan (Mataraman) dengan 66,51 persen suara, Bondowoso (Pendalungan) dengan 56,49 persen suara, Situbondo (Pendalungan) dengan 50,13 persen suara, Sampang dengan 75,30 persen suara, Pamekasan dengan 83,78 persen suara, dan Sumenep dengan 64,33 persen suara. Kabupaten Sampang, Pamekasan, dan Sumenep masuk tlatah kebudayaan Madura Kepulauan.
BACA JUGA:
Palagan di Ujung Timur Pulau Jawa (3)
Di semua kawasan Mataraman, sebagian Pendalungan, seluruh Arek, dan satu kabupaten di kawasan Madura Kepulauan (Bangkalan) mampu dimenangkan duet Jokowi-Ma’ruf di Pilpres 2019. Tingkat kemenangan dan raihan suara duet Jokowi-Ma’ruf besaran dan bobotnya mutlak vis a vis Prabowo-Sandi.
Di sejumlah kabupaten/kota kawasan Mataraman, Jokowi-Ma’ruf menang mutlak dengan persentase raihan suara lebih dari 60 persen. Di Kabupaten Tulungagung, duet ini meraih 81,83 persen suara, Kabupaten Blitar dengan 85,21 persen suara, Kabupaten Kediri dengan 82,50 persen suara, Kabupaten Malang dengan 75,33 persen suara, Kabupaten Magetan dengan 67,71 persen suara, Kabupaten Trenggalek dengan 77,01 persen suara, Kabupaten Ponorogo dengan 71,68 persen suara, Kabupaten Nganjuk dengan 80,40 persen suara, dan Kabupaten Ngawi dengan 78,11 persen suara.
Di kawasan Pendalungan, hanya Kabupaten Bondowoso dan Situbondo yang dimenangkan duet Prabowo-Sandi di Pilpres 2019. Kabupaten/kota lainnya di kawasan Pendalungan direbut Jokowi-Ma’ruf. Misalnya, di Kota Pasuruan duet Jokowi-Ma’ruf dengan 56,95 persen suara, Kabupaten Pasuruan dengan 60,91 persen suara, Kabupaten Probolinggo dengan 60,70 persen suara, Kabupaten Jember dengan 64,82 persen suara, dan Kabupaten Banyuwangi (tlatah kebuadayaan Osing) dengan 72,22 persen suara. [air/bersambung]
Ainur Rohim,
Penanggung Jawab beritajatim.com







