Jakarta (beritajatim.com) – Iklan terbaru Aqua yang menyebut produk mereka kini menggunakan galon baru “100% aman BPA” memunculkan tanda tanya besar di tengah masyarakat. Klaim tersebut dinilai sebagai pengakuan tidak langsung bahwa galon lama yang selama ini beredar mengandung BPA dan berpotensi membahayakan kesehatan jutaan konsumen di Indonesia.
“Kalau dari sisi komunikasi, ini bisa dibilang Aqua secara tidak langsung mengakui selama ini produknya tidak aman, galonnya mengandung BPA,” kata Algooth Putranto, Koordinator Riset Satgas Anti Hoaks PWI Pusat dan Dosen Komunikasi Universitas Dian Nusantara di Jakarta, Kamis (24/7/2025).
Algooth menyayangkan bahwa peluncuran galon bebas BPA tersebut tidak disertai dengan penarikan galon lama dari pasar. Alhasil, saat ini Aqua justru mengedarkan dua jenis galon berbeda secara bersamaan. Galon lama terbuat dari plastik keras mengandung BPA (Bisphenol A), senyawa kimia yang oleh ratusan riset ilmiah disebut dapat memicu berbagai risiko kesehatan. Di sisi lain, galon baru diklaim bebas BPA dan lebih aman untuk digunakan.
“Secara etika, kejujuran telah dilanggar. Mereka selama ini tidak mau mengakui bahaya BPA dan selalu berkilah BPA belum terbukti berbahaya. Tapi, pada akhirnya mereka mengeluarkan produk bebas BPA,” tegas Algooth.
Algooth menuturkan, Aqua telah menggunakan galon berbahan polikarbonat yang mengandung BPA selama lebih dari 47 tahun. Padahal, peringatan terkait bahaya BPA sudah disuarakan sejak lama, baik oleh lembaga perlindungan konsumen dalam negeri maupun otoritas internasional.
Sejak 2021, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI mulai menyuarakan kekhawatiran tentang bahaya BPA dalam kemasan galon guna ulang. Sementara itu, negara-negara seperti Uni Eropa, Kanada, Cina, dan beberapa negara bagian di Amerika Serikat sudah sejak 2008 memperketat atau bahkan melarang penggunaan BPA dalam kemasan makanan dan minuman.
“Komunikasi korporasi itu tidak boleh bohong. Kalau memang kemasan polikarbonat di Eropa sudah dianggap ‘lampu merah’, harusnya mereka sejak awal bicara jujur ke publik,” ujarnya. Menurutnya, peluncuran galon baru justru mempertegas bahwa kekhawatiran publik terhadap bahaya BPA selama ini bukan isapan jempol. “Dalam era transparansi, kejujuran bukan lagi pilihan, tapi kewajiban,” kata Algooth.
Algooth menilai, penjualan dua jenis galon ini mencerminkan adanya standar ganda dalam perlindungan konsumen. “Jika galon baru dianggap lebih aman karena bebas BPA, mengapa galon lama yang mengandung BPA masih terus didistribusikan?” tanyanya.
Menurutnya, kondisi ini menggambarkan adanya praktik corporate double speak dari perusahaan. Di satu sisi, Aqua menampik bahaya BPA di depan publik, namun di sisi lain mereka diam-diam memasarkan galon bebas BPA demi menyelamatkan pangsa pasar yang makin kritis terhadap isu kesehatan.
“Pasar kelas menengah mulai sadar kesehatan, dan Aqua akhirnya terpaksa nyemplung ke lini produksi baru yang tidak murah. Ini membuktikan bahwa mereka tahu produk lama mulai ditinggalkan,” pungkasnya. [beq]






