Surabaya (beritajatim.com) – Pakar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menilai cuaca buruk bukan pemicu tunggal tenggelamnya Kapal Motor Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa dekat Kalimantan Selatan.
Ahli Lingkungan Laut Departemen Teknik Perkapalan ITS Dr. Kriyo Sambodho mengatakan tinggi gelombang saat kejadian berkisar dua meter. Kondisi ini belum tergolong ekstrem menurut standar analisis meteorologi.
“Kalau cuaca sebagai faktor tunggal tenggelamnya kapal rasanya tidak. Cuaca hanya sebagai salah satu pemicu terjadinya kecelakaan,” kata Kriyo di Kampus ITS Surabaya, Selasa (15/9/2026).
Kriyo menjelaskan gelombang dua meter tetap berisiko mengganggu keseimbangan armada. Dampak itu muncul saat ada celah terbuka pada badan kapal yang membuat air masuk dan merusak stabilitas.
Analisis serupa disampaikan Pakar Laboratorium Hidrodinamika Kapal ITS Prof. I Ketut Aria Pria Utama. Ia menduga kecelakaan terjadi akibat masuknya air laut atau pergeseran posisi muatan logistik.
“Dari situ tidak ditemukan berita adanya kebocoran. Sehingga kemungkinan masuk lewat bukaan yang ada. Mungkin lewat jendela, mungkin lewat pintu ramp door yang tidak kedap,” ujar Ketut.
Ketut menyebut pergeseran muatan mempercepat posisi kapal miring saat penataan barang kurang kuat. Ia mendorong pemeriksaan ulang penyesuaian kapal bekas Jepang terhadap karakter gelombang perairan Indonesia.
Stasiun BMKG Maritim Tanjung Perak Surabaya sendiri, mencatat cuaca lokasi kejadian cerah berawan. Kecepatan angin berkisar 15 hingga 20 knot dengan tinggi gelombang sedang antara 1,5 sampai 2 meter.
Data BMKG memperlihatkan tidak ada cuaca ekstrem saat kapal rute Surabaya menuju Banjarmasin itu hilang kontak. Saat ini penyebab pasti kecelakaan masih menunggu hasil investigasi resmi komite keselamatan. [ipl/suf]






