Surabaya (beritajatim.com) – Di Indonesia, sebuah hasil survei yang dilakukan Henndy Ginting (psikolog klinis yang juga dosen di Sekolah Bisnis dan Manajemen, Institut Teknologi Bandung) pada 2019 terhadap 1.700-an pekerja di badan usaha milik negara dan perusahaan swasta menemukan 33% responden mengalami perundungan di tempat kerja.
Di samping itu, sebanyak 2,1% responden berpersepsi mengalami kekerasan seksual dalam bentuk digoda, lawakan berbau seksual, hingga pelecehan fisik.
Survei selanjutnya yang dilakukan pada 2021 terhadap 200-an responden menghasilkan data, dalam 12 bulan terakhir, sebanyak 20,4% responden kadang-kadang mengalami perundungan dan 1% responden jadi korban perundungan tiap hari di tempat kerja. Sementara sebanyak 1% mengalami pelecehan seksual.
Namun, dari survei tersebut belum bisa memastikan apakah angka turunnya prevalensi perundungan itu berkaitan dengan diberlakukannya kerja dari rumah (WFH) selama pandemi. Perundungan di tempat kerja menjadi fenomena yang cukup banyak terjadi di Indonesia. Banyak korban tidak hendak mengungkap ketidakadilan yang dialami lantara takut.
Bahkan acap kali terjadi korbanlah yang justru disalahkan dan dituding jadi penyebab terjadinya perundungan itu atau demi menjaga keberlangsungan sumber ekonomi tempat bekerja. Selain itu, perundungan juga sering terjadi karena seseorang punya karakter tertentu. Agar tidak terjadi pada Anda, pahami beberapa hal berikut.
Pertama karena, punya kepercayaan diri rendah. Agar tidak mudah mengalami perundungan, coba jadi orang yang punya rasa percaya diri tinggi. Anda bisa membuat rasa percaya itu dengan terus melatih kemampuan diri sendiri.
Kedua, orang yang punya kebiasaan menghindar atau menyendiri. Daripada berkumpul dengan orang lain, Anda lebih senang bergantung pada orang lain. Cobalah hadapi apa yang ada di depan Anda, Anda perlu berani untuk itu.
Ketiga, korban cenderung punya kemampuan atau kualifikasi berbeda dibandingkan rata-rata serta punya kondisi tidak sama dengan sekitarnya hingga rentan didiskriminasi.
Keempat, Korban biasanya memiliki pola komunikasi yang submisif. Pola untuk tidak bisa berkata ‘tidak’ karena tumbuh dalam lingkungan yang tidak memungkinkan untuk menolak perintah atau permintaan.
Jika Anda punya atau merasa ada ciri-ciri tersebut coba keluar, atau berusaha agar tidak terjebak pada perilaku tersebut. [dan/tur]






