Jombang (beritajatim.com) – Pagi itu, di Jalan Raya Sumberboto, Desa Japanan, Mojowarno, Jombang, suasana masih lengang. Udara segar khas pedesaan menyapa siapa saja yang melintas. Tapi segalanya berubah jadi kepanikan dan jeritan ketika dua sepeda motor bertabrakan keras di depan sebuah toko kelontong, Senin (21/7/2025) sekitar pukul 07.30 WIB.
Pinki Ananta Putri (22), warga Dusun Karangrejo, Desa Alang-Alang Caruban, Jogoroto, bermaksud singgah sebentar. Ia melajukan Honda Beat-nya dari arah selatan ke utara, membonceng sang ibu, Luluk Saudah (43). Di depan toko, tanpa menengok ke belakang, Pinki berbelok ke kanan — sebuah keputusan yang ternyata membawa malapetaka.
Dari belakang, Tatag Galih Mikha Pradana (30), bersama istrinya Shinta Elmi Nurwati (29), tengah melaju dengan motor CB 150. Mereka tak menduga motor di depan mendadak berbelok. Tabrakan keras pun tak terhindarkan.
Tubuh Luluk Saudah terhempas keras ke aspal. Ia meninggal dunia di tempat. Pinki, sang anak, mengalami luka-luka, begitu pula Tatag dan istrinya. Warga berhamburan menolong. Mereka yang masih hidup dievakuasi ke Rumah Sakit Kristen (RSK) Mojowarno, sementara Luluk tak lagi bernyawa.
“Motor Beat itu tiba-tiba belok ke kanan. Pengendaranya kayaknya nggak lihat belakang. Motor CB langsung menabraknya,” cerita Rasyid (43), warga setempat yang jadi saksi mata.
Kepolisian pun bergerak cepat. Kepala Unit Gakkum Satlantas Polres Jombang, Ipda Siswanto, memastikan pihaknya sudah melakukan olah TKP dan mengamankan kendaraan yang terlibat. Meski begitu, penyelidikan masih berjalan.
“Betul, satu orang meninggal dunia dalam kecelakaan ini. Semua kendaraan sudah kami amankan,” kata Siswanto singkat.
Pagi itu, satu keluarga kehilangan ibu, seorang suami dan istri terluka, dan jalanan yang semula tenang, menyisakan duka mendalam. Kecelakaan ini seolah mengingatkan: satu detik kelalaian di jalan bisa berujung nyawa melayang. [suf]






