Pacitan (beritajatim.com) – Ribuan batang bambu ditancapkan di muara Sungai Grindulu, kawasan Pancer Dorr, Pacitan.
Lokasi ini merupakan titik terjadinya kecelakaan laut yang menewaskan empat wisatawan asal Mojokerto akhir Juni lalu. Selain sebagai langkah mitigasi, pemasangan bambu ini juga dimaksudkan untuk menahan abrasi yang makin mengancam fasilitas wisata di sekitar muara.
Abrasi yang kian parah bahkan telah menggerus area parkir di dekat mushola dan merusak toilet umum yang menjadi fasilitas penunjang bagi wisatawan.
Slamet Riyadi, warga setempat yang akrab disapa Cuboh Hambers, menilai upaya pemerintah dengan pemasangan cerucuk bambu sudah tepat, namun masih kurang maksimal jika tidak dibarengi dengan normalisasi alur sungai.
“Upayanya sudah bagus, menahan pasir dengan bambu agar terjadi sedimen dan pasir tidak kembali ke laut. Hanya saja, tidak dibarengi dengan pengerukan alur sungai,” ujarnya Senin (21/7/2025)
Menurut Cuboh, normalisasi Sungai Grindulu terutama di sisi selatan sangat diperlukan. Jika tidak dilakukan, arus sungai dikhawatirkan akan terus menggerus wilayah barat muara seperti yang terjadi sebelumnya.
“Kalau masih seperti ini, bisa sia-sia. Karena arus akan terus menggerus wilayah tersebut. Dulu sudah pernah diuruk pakai batu, tapi tetap hanyut,” jelasnya.
Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Pacitan, Turmudi, menjelaskan metode cerucuk bambu yang digunakan merupakan teknik penanggulangan abrasi dengan sistem vertikal. Bambu sepanjang tiga meter dipancang ke dalam pasir lunak, lalu di atasnya akan dipadatkan dengan tanah keras untuk membentuk tanggul.
“Struktur tanggul ini juga akan berfungsi sebagai tembok laut sederhana. Teknologi ini pernah diterapkan di Australia dan cukup berhasil meredam laju abrasi,” terangnya.
Turmudi menambahkan, proses pemasangan cerucuk dilakukan seperti menggali sumur bor. Setelah bambu terkumpul, proses teknis selanjutnya menunggu penanganan dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR). (tri/ted)






