Malang (beritajatim.com) – Tim pengabdian Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Islam Malang (Unisma) mengajak siswa pedulian terhadap krisis ekologi. Mereka melakukan pengabdian masyarakat di SMA Islam Nusantara (SMAI Nusantara), Selasa (15/9/2026).
Kegiatan bertajuk “Transformasi Bacaan Ekologis Menjadi Aksi Nyata” ini berada di bawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unisma serta melibatkan HIMA PBSI FKIP. Agenda ini fokus melatih para pelajar mengkurasi karya cerpen bertema alam dengan pijakan nilai-nilai keislaman.
Tim Unisma tersebut dipimpin oleh Dr. Ari Ambarwati, S.S., M.Pd., didampingi dosen Khoirul Muttaqin, M.Hum. Terdapat tiga mahasiswa terlibat yakni Kameliya Nafiah, Mukhammad Yusril Muzakky, dan Muhammad Masykur Syauqi.
Ketua Tim Pengabdi Unisma, Dr. Ari Ambarwati menjelaskan, kegiatan ini melampaui aktivitas membaca fiksi biasa. Program sengaja disusun guna menanamkan fondasi teologis yang kuat terkait urgensi pelestarian alam.
”Target atau value pembeda yang paling saya soroti untuk ekoliterasi di SMAI Nusantara ini tentu fikih-fikih tentang lingkungan. Setelah mereka membaca cerpen-cerpen bertema lingkungan itu, saya mengharapkan mereka punya keberpihakan dan tahu bagaimana cara mengimplementasikan fikih keislaman tentang lingkungan tersebut,” kata Ari di sela kegiatan.

Pendekatan tersebut mendapatkan respons positif dari pihak sekolah. Kepala SMAI Nusantara, Roro Sugihartini, S.Pd., menuturkan bahwa integrasi sastra dengan dalil fikih sangat efektif merekonstruksi pola pikir para peserta didik.
Menurut Roro, siswa kini tidak lagi memandang isu lingkungan sekadar etika sosial semata. Anak-anak didorong menyadari hakikat alam sebagai entitas ciptaan Allah yang wajib dipelihara.
“Melalui narasi fiksi, para siswa dirangsang berpikir kritis bahwa krisis ekologis berakar dari abainya manusia terhadap mandat kekhalifahan di muka bumi,” ujar Roro.
Guna menyiasati keterbatasan durasi tatap muka, tim Unisma menerapkan skema kurasi terbimbing lewat penugasan terstruktur di luar jam sekolah. Peserta diarahkan menelaah nash agama seputar larangan perusakan alam, termasuk bahaya pembalakan liar, serta membedah lima putusan Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (NU) perihal isu lingkungan.
Ari menjelaskan, pendalaman dokumen Bahtsul Masail tersebut menjadi bekal penting agar siswa mempunyai skemata teologis yang utuh sebelum menuangkannya ke dalam produk Jurnal Bergambar.
“Riset mandiri ini bakal mempermudah murid mengaitkan teori dalam naskah dengan realitas ekologis di sekitar mereka,” ujar Ari Ambarwati.
Apresiasi disampaikan Guru Mitra SMAI Nusantara, Alfira Rahma Maulidia, S.Pd. Ia menyebut pembedahan cerpen berbasis fikih ini berhasil menyentuh sisi spiritualitas siswa dalam rangka penguatan karakter pelajar yang saleh sekaligus peka sosial.
”Ke depannya, kami berharap para siswa tidak hanya berhenti pada pemahaman tertulis. Mereka harus mampu berpikir kritis serta berani mengambil tindakan nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan, baik di sekolah, rumah, maupun masyarakat,” kata Alfira. [dan/suf]






