Jember (beritajatim.com) – Pengurus Organisasi Angkutam Darat (Organda) meminta Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, untuk menghidupkan kembali program Angkutan Sekolah Gratis (ASG).
“Kalau mungkin DPRD Jember berkenan, mohon program ASG di dihidupkan kembali, seperti kemarin waktu zaman Bupati Hendy Siswanto,” kata Sekretaris Organda Jember Umi Indrayati, ditulis Rabu (15/4/2026).
“Soalnya kalau ASG hidup, jalan tidak macet, karena anak sekolah naik angkutan, dan tidak naik sepeda motor. Sekarang tidak ada angkutan gratis, anak-anak naik sepeda motor dan antarjemput. Ini kan mesti macet (pada saat jam berangkat dan pulang sekolah),” kata Umi.
Dulu dengan Angkutan Sekolah Gratis, para siswa berangkat dan pulang sekolah dengan menggunakan angkutan umum. “Tidak hanya mengantar. Tapi mengantar hingga menjemput. Jadi dari rumah sampai datang ke rumahnya lagi,” kata Umi.
Program Angkutan Sekolah Gratis dimulai sejak 2 Mei 2024 hingga akhir tahun anggaran, dengan melibatkan 41 unit kendaraan angkutan kota untuk melayani antarjemput 492 orang siswa. Kendaraan sekolah gratis ini beroperasi di 12 jurusan yang melewati sejumlah sekolah menengah pertama.
Uji coba dilaksanakan pada 2023. Angkutan sekolah gratis ini beroperasi pada pukul enam sampai tujuh pagi saat berangkat sekolah dan pukul dua belas sampai dua siang saat pulang sekolah.
Mulanya, siswa diminta membayar dengan harga lebih murah yakni Rp 5 ribu. Ternyata warga antusias. Program ini dilanjutkan dengan anggaran kurang lebih Rp 1,5 miliar. Dishub bekerja sama dengan koperasi angkutan yang membawahi pengemudi maupun pemilik angkutan partisipan program ini.
Terakhir sebelum program ini ditutup, angkutan sekolah gratis melayani siswa di 12-14 sekolah menengah pertama, mayoritas di Kecamatan Kaliwates dan Sumbersari. Sejumlah sekolah di Kecamatan Mayang dan Ambulu juga minta dilayani.
Berkat program Angkutan Sekolah Gratis ini, Pemkab Jember memanen penghargaan kategori inovasi sistem transportasi berkelanjutan dari Kementerian Perhubungan RI, pada 6 September 2024.
Program ini memiliki dampak positif bagi masyarakat dan pengemudi angkutan umum. Selain mengurangi beban biaya angkutan, beban kendaraan lalu lintas juga terkurangi pada jam-jam sibuk.
Pengusaha dan pengemudi angkutan umum juga mendapatkan tambahan penghasilan. Hal ini sangat menguntungkan di tengah semakin menurunnya bisnis transportasi angkutan umum di Jember.
“Situasi sekarang repot. Angkutan itu sekarang hidup segan, mati tak hendak. Sekarang yang berjalan (beroperasi) saja cuma berapa, bisa dihitung dengan jari. Yang tidak berjalan itu banyak,” kata Umi.
Kondisi ini membuat pemasukan berkurang dan pengusaha kesulitan melakukan perpanjangan izin Kir. kendati gratis.
“Sekarang semuanya mahal. Setorannya Rp20 ribu, Rp30 ribu, maksimal Rp40 ribu. Jadi, pengusaha angkutan angkutan itu sudah (kesulitan). Uji Kir gratis, tapi kalau mau uji Kir kan butuh perbaikan kendaraan,” kata Umi.
Tak hanya itu. Pengusaha masih berpikir ulang untuk memperpanjang izin trayek. “Organda sudah berusaha bagaimana angkutan umum ini hidup kembali. Tapi bagaimana dengan kehadiran ojek online? Otomatis angkutan umumnya mati. Ke mana sopir mau cari penumpang?” kata Umi.
Saat ini, menurut Umi, penumpang angkutan umum perkotaan hanya pedagang yang hendak pergi ke pasar. “Kalau anak-anak muda naik Gojek, naik Grab, naik sepeda motor,” katanya.
Holil Asyari, Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Jember, bisa memahami kesulitan yang dialami pengusaha dan sopir angkutan umum. Dia mendukung ASG dihidupkan kembali.
Namun, menurut Holil, Dinas Perhubungan Jember dan kepolisian perlu duduk bersama untuk membahas banyaknya siswa sekolah yang mengendarai sepeda motor pribadi. “Jadi memang kita ini sudah mulai resah,” katanya.
Dukungan DPRD Jember ini dituangkan dalam butir ke-24 rekomendasi terhadap Laporan Keterangan P:ertanggungjawaban Bupati Jember 2025. Di sana disebutkan: ‘Dinas Perhubungan agar mengevaluasi sektor perhubungan berdasarkan manfaat publik, khususnya akses transportasi publik, keselamatan, trayek, terminal, dan kepatuhan KIR. Termasuk Angkutan Sekolah Gratis (ASG)’. [wir/beq]






