Olahraga

Ultah ke 20, Apa Kabar PSMP Mojokerto?

Skuad PSMP musim 2018. [Foto: dok]

Mojokerto (beritajatim.com) – Tepat di tanggal 21 Maret ini, PS Mojokerto Putra (PSMP) merayakan hari jadinya ke 20. Di tengah sisa sanksi yang dijatuhkan Komisi Disiplin Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (Komdis PSSI) lantaran terlibat match-fixing, apa kabar tim kebanggaan masyarakat Kabupaten Mojokerto ini?

Dihubungi beritajatim.com, Presiden Klub PSMP, Firman Efendi berharap PSMP tetap berkiprah di persepakbolaan nasional. “Iya tahun ini, tahun terakhir sanksi yang harus diterima PSMP. Namun kami kemarin sudah mengajukan banding lagi ke Komdis PSSI terkait hal ini,” ungkapnya, Minggu (21/3/2021).

Masih kata mantan Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Mojokerto ini, banding tersebut diajukan karena ia berharap pandemi Covid-19 berakhir tahun ini. Sehingga saat liga kembali bergulir, PSMP bisa langsung menampaki kembali sepak bola nasional.

“Ada beberapa pertimbangan kenapa mengajukan banding. Salah satunya berharap pandemi berakhir dan pertengahan tahun liga kembali bergulir. Saat banding kita disetujui, PSMP bisa langsung kembali berlaga. Februari kemari kita ajukan banding namun belum ada jawaban,” katanya.

Firman menambahkan, pihaknya berharap ada investor yang serius menanggani tim berjuluk The Laskar Mojopahit (Lasmojo) sehingga bisa kembali di persepakbolaan nasional. Tidak hanya sekedar mengelola, namun juga mengambil alih kepengurusan PSMP.

“Kita masih berharap investor kemarin (Yusuf, red) bisa menjadi investor PSMP. Kita ingin tidak hanya pengelola namun bisa mengambil alih dan baru beliau yang sudah bertemu dan membicarakan PSMP kedepannya. Sehingga kita berharap banyak meski memang kita masih tetap lobi-lobi dengan investor lain yang mungkin berminat mengelola,” ujarnya.

Sebelumnya, tim kebanggaan masyarakat Kabupaten Mojokerto ini diberikan sanksi larangan bermain selama satu tahun di kompetisi nasional karena terlibat match-fixing. Ini setelah Indra Setiawan dkk mendapatkan pinalti saat menghadapi Aceh United pada 19 November 2018 lalu.

Tendangan Krisna Adi yang dipercaya sebagai algojo melenceng ke kiri gawang tim berjuluk Laskar Iskandar Muda. Skor tipis 3-2 dari tuan rumah Aceh United membuat PSMP gagal melaju ke babak empat besar Liga 2 2018. PSMP pun mendapat sanksi larangan bermain satu tahun di kompetisi nasional.

Melalui kuasa hukumnya, Muhammad Sholeh, PSMP mengajukan banding karena menilai sanksi yang diberikan tanpa meminta keterangan ke manajemen PSMP terlebih dahulu. Namun banding PSMP justru membuat hukuman PSMP bertambah menjadi tiga tahun.

Pasca menerima sanksi larangan bermain selama tiga tahun di kompetisi nasional, praktis tidak ada aktivitas di tim berjuluk The Lasmojo pada musim 2019 lalu. Sejumlah aksi dilakukan suporter untuk mengembalikan PSMP, namun tidak meringankan hukuman yang diterima.

Mulai dari menggelar aksi di depan kantor Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Mojokerto pada bulan Oktober 2019 lalu. Suporter menuntut pertanggungjawaban Ketua Umum dan manajemen PSMP terkait sanksi tiga tahun yang terima tersebut.

Selama satu musim, Ketua Umum dan manajemen dinilai tidak berbuat apa-apa menyusul sanksi yang dijatuhkan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) kepada PSMP. Aksi seribu lilin di depan Mapolres Mojokerto hingga mengawal Kongres PSSI pemilihan Ketua Umum di Jakarta, telah dilakukan.

Aksi tersebut dilakukan lantaran suporter menilai manajemen hanya berpegangan dengan statuta dan semua dinilai tahu terkait statuta PSSI. Namun hingga kini, perjuangan suporter untuk mengembalikan PSMP bermain di musim 2020 ini sepertinya belum menemukan titik terang. [tin/ted]



Apa Reaksi Anda?

Komentar