Surabaya (beritajatim.com) – Sektor perbankan di Jawa Timur menunjukkan kondisi yang stabil dengan pertumbuhan kredit yang positif, meskipun ada sedikit kenaikan pada rasio kredit macet atau Non-Performing Loan (NPL).
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Timur, Yunita Linda Sari, mengungkapkan bahwa rasio NPL bruto pada Juni 2025 tercatat sebesar 3,54%. Angka ini naik tipis dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang berada di level 3,24%. Meskipun demikian, Yunita menegaskan bahwa kondisi ini masih dalam batas yang terkendali.
“Kenaikan NPL memang agak terjadi, walau tidak secepat atau setinggi yang kami takutkan,” ujar Yunita dalam acara media briefing 2025 dengan tema “Sinergi dan Kolaborasi Untuk Menjaga Stabilitas dan Mengakselerasi Pertumbuhan Ekonomi Dalam Rangka Mewujudkan Jawa Timur Sebagai Gerbang Baru Nusantara” di kantor OJK Jatim, Kamis (14/8/2025).
Ia menambahkan, OJK terus melakukan pengawasan ketat terhadap lembaga perbankan, termasuk Bank Perkreditan Rakyat (BPR), dengan kunjungan langsung minimal setahun sekali.
OJK juga secara rutin mengimbau perbankan untuk menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan kredit dan mencadangkan dana untuk mengantisipasi risiko. “Ini semua yang kita harapkan bisa membantu menjaga NPL agar tidak terlalu tinggi,” tambahnya.
Di sisi lain, pertumbuhan kredit di Jawa Timur masih menunjukkan tren positif. Hingga Juni 2025, total realisasi kredit mencapai Rp614,26 triliun, tumbuh sebesar 5,46% secara tahunan (Year-on-Year/YoY). Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit pada periode yang sama tahun lalu sebesar 5,30%. Namun, ia mencatat adanya tren melandai pada sektor konstruksi.
Secara keseluruhan, pertumbuhan kredit yang stabil menunjukkan bahwa perbankan di Jawa Timur masih aktif dalam menjalankan fungsi intermediasi keuangan. Sementara itu, kenaikan NPL yang masih terkendali menunjukkan bahwa manajemen risiko tetap menjadi perhatian utama regulator dan perbankan di wilayah ini.[rea]






