Malang (beritajatim.com) – Tim dosen Politeknik Negeri Malang (Polinema) berkolaborasi dengan Institut Asia Malang menghadirkan program pengabdian masyarakat di Desa Pulotondo, Tulungagung. Dua inovasi utama yang diperkenalkan yakni aplikasi keuangan digital Si-BUMDes dan budidaya maggot, yang dirancang untuk mentransformasi tata kelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru dari pengelolaan sampah.
Program ini menjawab dua persoalan mendasar di desa, yakni pencatatan keuangan yang masih manual serta masalah sampah organik. Melalui inovasi tersebut, BUMDes Pulotondo Mulyo kini memiliki sistem administrasi yang modern sekaligus unit usaha baru berbasis ekonomi sirkular.
Ketua tim pengabdian, Annisa Fatimah, SST., MSA., menjelaskan bahwa tujuan utama program ini adalah meningkatkan transparansi keuangan BUMDes dan memberdayakan masyarakat. “Melalui aplikasi Si-BUMDes, pengelolaan kas masuk, kas keluar, hingga laporan keuangan kini dapat dilakukan lebih cepat dan efisien. Di sisi lain, budidaya maggot terbukti memberi manfaat sebagai pakan alternatif bernilai ekonomis sekaligus menjadi solusi pengelolaan sampah organik desa,” ungkap Annisa, Selasa (23/9/2025).
Aplikasi Si-BUMDes sendiri dikembangkan untuk memudahkan pengelola desa meninggalkan pencatatan manual yang rawan kesalahan. Titania Dwiandini, S.Kom., M.Kom., anggota tim yang membidangi IT, menekankan kesederhanaan sebagai prinsip utama.
“Aplikasi Si-BUMDes dirancang agar mudah dioperasikan oleh pengelola BUMDes, meskipun mereka tidak memiliki latar belakang IT. Tampilannya ramah pengguna dan mampu menghasilkan laporan keuangan sesuai kebutuhan desa,” jelasnya.
Dari sisi akuntansi, Fathimatus Zahro Fazda Oktavia, S.ST., M.Sc., menambahkan modul pencatatan mengikuti standar akuntansi sederhana. “Kami berharap kepercayaan masyarakat terhadap BUMDes semakin meningkat,” ujarnya.
Selain inovasi digital, tim juga memperkenalkan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) untuk mengolah limbah organik rumah tangga. Uji coba panen perdana menghasilkan 3 kilogram maggot, sekitar 25% dari kapasitas rak budidaya yang dikembangkan bersama warga.
Ketua BUMDes Pulotondo Mulyo, Muhammad Hanan, mengapresiasi langkah ini. “Kami merasa sangat terbantu dengan adanya aplikasi keuangan, karena selama ini pencatatan masih manual. Selain itu, usaha maggot memberi harapan baru bagi pendapatan desa sekaligus menjaga kebersihan lingkungan,” ujarnya.

Program pengabdian ini tidak berhenti pada penyerahan teknologi, tetapi juga melibatkan pelatihan intensif, Focus Group Discussion (FGD), serta praktik langsung bersama masyarakat. Antusiasme warga terlihat dari keterlibatan mereka dalam simulasi aplikasi maupun budidaya maggot.
“Ke depan, hasil pengabdian ini akan dipublikasikan dalam bentuk artikel ilmiah serta modul sederhana agar dapat direplikasi oleh desa-desa lain,” tambah Annisa Fatimah. [dan/beq]






